Terpana dan Terharu di Shibuya. Tenggelam dalam Ichiran Ramen

Hal pertama yang kami lakukan di Shibuya adalah mencari jejak Hachiko. Anjing yang ketenarannya melebihi manusia seperti saya. Anjing yang memiliki film dan buku biografinya sendiri, dan fans anjing-anjing betina berbulu lebat yang menggandrunginya. Sayangnya hachiko terlambat tenar, dia tenar setelah meninggal. Dia belum sempat menikmati gemerlapnya dunia artis. Miris.

Sebagai Human’s best friend, Hachiko mewakili semua perasaan anjing di dunia. Anjing memiliki memory jangka panjang, mereka tidak pernah lupa apa yang telah kamu perbuat kepadanya. Bagaimana kamu merawat dan memberi dia makan, bermain bola, mengajari shake hand, they will remember every detail.

Begitu pula dengan anjing ras Akita Inu ini, dia mengingat semua cinta yang Richard Gere berikan. Maksud saya, Hidesaburo Ueno. Nama pemilik Hachiko sesungguhnya, Richard Gere cuma aktor yang memerankan Hidesaburo di film Hollywood-nya.

Dari buku ataupun film, kita bisa lihat bagaimana Hachi begitu terikat dan menyayangi Master-nya. Hachi juga pintar, dia menghafal jalan menuju ke stasiun, dan menunggu masternya pulang setiap hari. Begitu melihat master-nya keluar dari pintu stasiun, Hachi langsung berlari dan menyambut dengan riang gembira. Buntutnya bergoyang-goyang seperti pria saat melihat gadis sexy.

Namun pada suatu ketika, seberapa lama pun Hachi menunggu, dia tidak juga melihat Master-nya pulang. Hachi tidak menyadari bahwa Master-nya telah meninggal karena cerebral hemorrhage (sejenis pendarahan di otak).

Meskipun semua orang berusaha memberi tahu dia bahwa Master-nya telah tiada, Hachi tetap menunggu di stasiun. Hari demi hari, musim berganti musim, Hachi tak beranjak. Dengan setia dia menunggu kepulangan tuannya.

Sampai 9 tahun kemudian, tubuhnya ga sanggup lagi menunggu. Hachi meninggal sendirian diantara tumpukan salju. Kesetiaan yang tiada akal. Kesetiaan bodoh diatas semua logika, kesetiaan murni yang mengajarkan kita untuk tidak melupakan orang yang kita sayangi.

IMG_6394
Hachiko menunggu tuannya yang ga pulang pulang

Sebagai penghargaan atas kesetiaannya, didirikanlah patung perunggu Hachiko. Lokasinya persis di tempat Hachi menunggu manusia kesayangannya pulang.

Sesampainya disini, kami pun mengantri berfoto dengannya. Jika sudah sampai Shibuya tapi tidak berfoto dengan Hachi, maka kamu akan menyesal seumur hidup. Kamu akan dikutuk menjadi manusia yang mirip anjing. Kamu akan dibenci oleh semua anjing di dunia (ok, kalo ini saya ngarang).

IMG_1884

Hachiko Memorial Statue

  • Popular meeting spot with a bronze statue honoring Hachiko, the famously loyal Akita dog
  • Address: 1 Chome-2 Dōgenzaka, Shibuya-ku, Tōkyō-to 150-0043
  • Open 24 hours
  • Direction: Setelah sampai di Shibuya Station, keluar melalui pintu Hachikō Exit Hachiko Statue Google Maps

Hachiko statue menjadi spot yang selalu happening di Tokyo. Tempat ini menjadi titik buat orang ketemuan. Tempat ini juga asyik buat nongkrong santai sambil people-watching, ngeliat beragam tipe manusia berlalu lalang. Sugoi!

IMG_1763
One of my favorite things to do in Tokyo. People-watching
IMG_1764
“Hidup-nya” Shibuya Crossing di malam hari

Setelah itu, kami terpana dengan megahnya gedung-gedung pencakar langit di Shibuya. Gemerlapnya billboard’s neon light dan layar TV futuristic membuat mata kami ketap-ketip! Walaupun pernah liat di film Fast and Furious Tokyo Drift, namun menyaksikannya secara langsung memberi kesan yang berbeda. Saya jadi seperti Tarzan klimaks masuk kota. Auuoooooo….. Argghhh….

IMG_1840

Merasakan sendiri menyebrang di zebra cross terpadat di dunia, membuat saya merasa keren. Zebra Cross Shibuya begitu ramai karena menjadi titik penyebrangan 5 jalan tersibuk di Tokyo. Saat lampu merah dan kendaraan berhenti, ratusan manusia akan menyebrang jalan dari berbagai sisi.

Mulai dari orang pulang kerja, emak-emak mau shopping, remaja mau nongkrong, ataupun turis-turis nista. Semua numplek kaya semut. Pribahasa ‘tua di jalan’ lebih tepat buat mereka. Orang Jepang banyak menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Kalo di negara kita, kata-kata yang lebih tepat adalah ‘tua di mobil’. Macet euy!

Setelah foto-foto di Shibuya Cross, kami menelusuri tiap sudut Shibuya. Saya dan Aping sempat membeli baju di Uniqlo dan ngopi di Starbucks Tsutaya. Starbucks ini wajib dikunjungi, kamu bisa melihat semut berlalu-lalang dari atas. Sementara Yan muter-muter mencari arti hidup. Kitapun janjian ketemuan lagi di Ichiran Ramen.

Our traveling picture is worth a thousand words beyond any souvenirs you can buy

shibuya.SHOPPING.map.jpg
Shibuya Shopping Map – courtesy by tokyopocketguide
IMG_1851
View Shibuya Cross dari Starbucks Tsutaya

Kemudian kami makan malam di kedai ramen legendaris di Jepang: Ichiran Ramen! Restoran ramen ini memang unik. Di pintu masuk, terdapat ‘vending machine’ untuk melakukan pemesanan. Sistem praktis yang membuat pengunjung cukup tit tit tekan mesin, masukin duit, lalu makan dengan tenang. Sesuai dengan ritme orang Jepang yang serba cepat, dikejar kesibukan kerja. Sedikit pemalu, bergegas dan tidak suka membuang waktu.

Ichiran Ramen Shibuya 一蘭 渋谷スペイン坂店

  • ICHIRAN is the most dedicated Ramen Company to the study of Tonkotsu Ramen in the whole World
  • Address: Japan, 〒150-0042 Tōkyō-to, Shibuya-ku, Udagawachō, 13−7 コヤスワンB1F
  • Open 24 hours
  • Direction: Ichiran Ramen Shibuya Google Maps

IMG_1815

Setelah order, kami pun masuk ke dalam. Di tiap meja terdapat sekat pembatas yang bisa dilipat. Jadi resto ini ga cuma buat introvert, nyeruput mie sambil kongko-kongko juga asyik. Minumnya gratis, ada keran air mateng di meja, kamu pun bisa refill semaunya. Kamu juga bisa request variasi ramen di kertas yang telah disediakan. Ada pilihan kekentalan kaldu, mau nambah bawang putih, slice pork dan telur berapa banyak, sampai tingkat ketebalan mie ramen. Customization-nya personal abis, ngertiin kamu melebihi pacar.

IMG_1816
Tonkotsu Ramen di Ichiran. Ramen dengan kaldu berbasis daging babi yang telah direbus berjam-jam menggunakan dua jenis secret method sehingga menghasilkan kaldu yang lezat

Eng ing eng! Akhirnya ramen tiba dimeja makan. Sruputan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah kaldu. Saya tenggelam dan berputar-putar di alam fatamorgana, nikmat tak terhingga. Kira-kira apa yang bikin kentalnya pas, bumbunya sempurna.  dan rasanya bikin nagih? Apakah karena ada micin didalamnya? This ramen is excellent! The best ramen i’ve ever had.

Sebelum pulang, kita sempat mampir ke Pablo Cheese Cake. Beli snack buat nyemil di hostel. Saya merasakan perbedaan rasa dengan Pablo di Jakarta. Disini kita bisa memilih level kekentalan keju. Cheese nya pun bener-bener kerasa dimulut. Nyesss… mirip dengan rasa Bake Cheese tart tapi dalam besar nya Pablo. Bikin kita terbuai lemas. Buat yang ngomong Pablo cheese cake overhype, screw you! You’re tasting it, wrong!

IMG_1797

Shibuya menawarkan sejuta warna. Warna-warni dalam wujud ramen yang lezat dan kesederhanaan Hachi di tengah glamournya gedung-gedung Shibuya. Saya tidak akan menyaksikan ini jika hanya berdiam dirumah. Tampaknya, kita memang harus merasakan sendiri perbedaan warna di tiap negara.

Cahaya yang memantul dari tetesan air hujan, menghasilkan sudut warna berbeda bagi tiap orang. Pantulan cahaya ini menciptakan citra yang unik. Meskipun ada dua orang berdiri di tempat yang sama, pada saat yang sama, melihat pelangi yang sama, beberapa inci di antara bola mata mereka membuat sudut pandang yang berbeda. Tiap orang memiliki pelangi nya sendiri. Untuk itu, kamu harus pergi dan menemukan pelangimu.

There is gold at the end of the rainbow

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s