Kyoto’s hidden beauty: Mengagumi Kemewahan Emas Kinkakuji, Kekuatan di balik Kesederhanaan Kiyomizudera, Makan Unagi “belut steroid” di Gion

IMG_6004.jpg

Gold all in my chain, gold all in my ring
Gold all in my watch
Don’t believe me just watch
Nigga, nigga, nigga
Don’t believe me, just watch
Don’t believe me, just watch
Trinidad James, All Gold Everything

Yeah, just watch that gold pavilion behind the lake. All gold everything. Keindahan nyata pancaran emas yang terbersit dibalik kalemnya danau dan pepohonan. Pantulan cermin dari air membuat nya semakin mempesona. Seakan-akan danau ini sengaja dibuat agar kuil ini bisa ngaca tiap hari, mengagumi kecantikan dari keindahan emas yang terpancar dari tubuhnya. Narsisme yang indah!

Imajinasi melayang saat melihat Golden Pavilion ini pertama kali. Di dalam angan berfantasi mengandaikan diri saya berada didalamnya sambil berenang ditumpukan uang emas layaknya Paman Gober. Bebek ter-SWAG dan terkaya dimuka bumi ini. Jika saya adalah Paman Gober, maka saya akan selfie ditengah tengah tumpukan emas itu, kemudian upload di Instagram untuk membuat teman-teman saya iri…. dan semakin dengki dengan kesombongan saya yang layaknya BKB Bebek Kaya Baru.

Bagaikan pemandangan dari imajinasi kisah kerajaan di masa lalu. Warna emas yang menggambarkan simbol dari sebuah prestise, kekayaan, kemegahan, kekuatan, dan kemenangan. Kinkakuji sungguh memiliki daya tarik terindah yang tidak boleh dilewatkan. Berfoto dengan background picturesque disini wajib hukumnya saat kamu berada di Kyoto.

IMG_3145.JPG

Menurut sejarah yang saya baca di Wiki, pada tahun 1950 kuil ini sempat luluh lantak oleh seorang biksu gila kelainan jiwa yang berusaha bunuh diri dengan membakar seluruh pavilion. Namun entah mengapa, pavilion ini hangus tapi biksu ini selamat, ga jadi mati. Mungkin juga karena dia ga bener-bener niat bunuh diri atau dia gila tapi tetep takut mati. Dan karena ulahnya ini akhirnya dia malah masuk jeruji besi selama 7 tahun. Namun dibebaskan 5 tahun kemudian, karena dia terbukti menderita penyakit persecution complexand schizophreni, intinya dia fix GILA, gila beneran bukan boongan. Sayangnya nasib berkata lain, 2 tahun kemudian, dia meninggal karena penyakit lain, yaitu Tuberculosis. Nilai yang dapat dipetik adalah, jika kamu melakukan sebuah kesalahan besar, misal kamu lupa ada janjian kencan dengan gebetan, pura-puralah gila, maka kamu akan dimaafkan.

Saat saya menulis ini, saya sempat shock membaca berita tentang meninggalnya vokalis band ternama Linkin Park, Chester Bennington. Membunuh diri sendiri dengan cara gantung diri disaat kekayaan dan ketenaran ada dalam genggaman, sungguh merupakan sesuatu yang tak masuk diakal dan diluar batas logika saya. Ternyata semua hal yang saya impikan tersebut, tidak otomatis membuat seseorang untuk bahagia. Mungkin memiliki uang yang tak terbatas dikenal semua orang di seluruh dunia, dirubungi fans dan digilai gadis sexy cuma bisa memuaskan jiwamu sesaat. Apa mungkin semua itu hanya memberikan kenyamanan sementara namun tidak bisa membeli kebahagiaan sesungguhnya?

Sebuah tanda tanya besar benak saya, sampai-sampai Chester yang masih berumur 41 tahun ini dengan konyolnya menghabisi nyawanya sendiri seperti itu. Kenikmatan dunia yang dimilikinya seakan tak terlihat, dikalahkan oleh depresi, tekanan, alkohol, dan drugs. Namun kita tak bisa men-judge kehidupan seseorang, kita ga tau yang dia alami, dan kita ga tau apa yang dia rasakan saat nekat mengakhiri hidupnya. Menurut suicide.org tercatat satu orang bunuh diri setiap 40 detik di dunia. Bunuh diri akan depresi merupakan sesuatu yang misterius. Jika Kurt Cobain, Robin Williams, Chris Cornell, dan Chester yang notabene hidupnya seakan mempunyai segalanya di dunia ini bisa mengalaminya, berarti depresi memang tidak bisa disepelekan. It’s a silent killer! Yang pasti kita telah kehilangan seorang musisi besar, rap rocker superstar, yang musiknya ikut menginspirasi masa remaja saya.

“I tried so hard, and got so far, but in the end, it doesn’t even matter” – Linkin Park

Back to the history. Setelah kejadian itu, kuil Kinkakuji kembali dipugar sesuai dengan desain aslinya, upgrade emas di dua lantai atas bangunan ini menjadikannya terlihat sparkling eksklusif sesuai dengan kemauan pemiliknya terdahulu, Mr. Yoshimitsu. Dan hasilnya adalah seperti yang saya lihat sekarang ini, Wow, just Wow! Bayangkan jika ini dibangun di negara kita, mungkin lapisan emasnya sudah habis digerogoti oleh para preman dengan cara dicongkel lalu dikiloin.

How to get to Kinkakuji, Kyoto’s Golden Pavilion?
  • Address: 1 Kinkakujichō, Kita-ku, Kyōto-shi, Kyōto-fu 603-8361, Japan
  • Hours: Senin – Minggu 9AM – 5PM
  • Direction: Naik bus # 101 atau # 205 dari stasiun Kyoto, sekitar 40 menit. Rute tercepat: Kereta api Karasuma ke Kitaoji, 13 menit. Kemudian naik bus # 101, 102, 204, atau 205 ke Kinkaku-ji, 10 menit. Kinkakuji Google Maps Location
IMG_6025
Tiket masuk menuju kuil emas Kinkakuji, yang merupakan salah satu dari 17 lokasi monumen bersejarah Situs Warisan Dunia Kyoto masa lampau
IMG_6029
Lapisan emas bersinar cerah memantulkan sinar matahari. Shining like a gold. Real Gold!
IMG_6013
Di bagian paling atas paviliun ada patung burung Phoenix yang juga dilapisi emas murni
IMG_6008.jpg
Setelah itu tak banyak yang bisa dilakukan disini selain mengagumi danau dan keindahan alam dan bangunan di sekitar kuil

Tanpa terasa matahari mulai terbenam, dari satu kuil kami menuju ke kuil lainnya. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke Kiyomizu-dera, yang dalam bahasa Indonesia berarti Kuil Air Suci. Kuil yang termasuk warisan budaya UNESCO dan merupakan salah satu kuil paling famous di seluruh Jepang tidak cuma Kyoto. Lokasinya yang terletak diatas bukit, membuat kami melakukan perjalanan menanjak yang sedikit menguras energi, namun semua itu menjadi tak terasa karena selama perjalanan keatas, kanan kiri kita disuguhi dengan pertokoan yang menjual berbagai macam pernak-pernik dan makanan. Selain itu pepohonan rindang dan pemandangan rumah-rumah bangunan khas tradisional Jepang yang cantik menawan membuat pendakian menuju kuil ini terasa cepat. Kami juga sempet berhenti sejenak buat nyobain Ice Cream Green Tea, dan semacam roti cream puff mirip Beard Papa’s yang didalem nya berisi creme green tea lembut, yumz… mamamia lezatos!

IMG_2314

IMG_2280
Post card view of Kiyomizu Dera

Kiyomizu-dera terkenal dengan deck hall – aula utama yang seluruhnya terbuat dari kayu. Posisinya sedikit terhampar keluar dari atas tebing, semacam berada di tepi jurang. Berdiri setinggi 13 meter di atas lereng bukit, aula utama ini semuanya dibangun tanpa menggunakan paku sepeser pun! Mereka memiliki teknik arsitektur maha tinggi yang membuat kayu tersebut terpatri rapi, kuat dan kokoh menopang dalam segala cuaca. Masterpiece-nya orang Jepang memang sungguh detail dan luar biasa!

Kalau diibaratkan dengan hati, there is no time for galau. Hati yang bersinergi dengan logika, kuat menopang di segala situasi dan kondisi. Seberapa beratpun beban jiwamu, beban hatimu yang tersakiti karena cintaaah…. tak kan jadi masalah. Tsaaahhhhh…

Aula ini menawarkan pemandangan indah dari banyak pohon cherry dan maple di sekitar kuil. Sayangnya, tidak terlihat jelas oleh kita yang datang sudah larut malam. Pastinya kalau di siang hari warna-warni dedaunan saat musim gugur akan terlihat begitu cantik nan menawan. Selain itu dari atas sini kita juga bisa melihat panorama kota Kyoto yang begitu mempesona.

IMG_2284
Rintik hujan dan dingin nya malam tak menghalangi ku berpose model ala Andy Lau

IMG_2302

How to get to Kiyomizu Dera?
  • Address: 294 Kiyomizu 1-chōme, Higashiyama-ku, Kyōto-shi, Kyōto-fu 605-0862
  • Hours: Senin – Minggu 6AM – 6PM. Special night viewing in spring 6AM – 9PM
  • Direction: Dari Stasiun Kyoto naik bus no. 100 atau 206. Turun di halte bus Gojo-zaka atau Kiyomizu-michi, berjalan kaki sepuluh menit ke kuil. Sebagai alternatif, Kiyomizudera berjarak sekitar 20 menit jalan kaki dari Stasiun Kiyomizu-Gojo di sepanjang jalur kereta api Keihan.
img_2257.jpg
Yan berpose dengan gadis gadis unyuu nyimu nyimu berkimono. Untungnya dia ga nyasar masuk kedalam kimono.
IMG_2318
Senandu remang-remang yang indah di Gion, Kyoto

Dengan wajah lelah kedinginan dan kelaparan, kami menuju ke Gion untuk mencari sesuap belut. Yak, belut! yang dalam bahasa Jepangnya berarti Unagi, sejenis belut eksklusif dari kalangan darah biru, belut yang berada di kasta berbeda dengan belut-belut lainnya. Mendaratlah kita secara random di tempat makan pinggir Gion yang menjual belut panggang. Dan kita ga salah memilih tempat, Unagi disini terasa begituuuu lezat! mungkin juga karena didukung dengan hujan yang dingin dan rasa lelah dengan perut kosong dari seringnya berjalan kaki selama di Kyoto.

Tingkat bakaran dagingnya pas, ga kematengan sehingga ga ngilangin rasa lembut dagingnya. Buat yang belum pernah nyobain dan bertanya gimana si rasa belut? rasa dan tekstur dagingnya mirip sekali dengan ikan. Bedanya dia sedikit lebih tebal dan kenyal. Unagi memiliki body yang besar dibandingkan belut lainnya, belut air tawar Jepang ini mungkin kelebihan hormon atau sering fitness dan minum pil steroid (jangan dibayangin) sehingga daging otot mereka begitu tebal. Ditambah dengan kandungan gizi tinggi unagi yang kaya akan vitamin E dan A, protein, dan kalsium, membuat energi dan mood kami kembali cerah. Selain itu, Unagi juga dipercaya meningkatkan stamina pria dewasa. Konon katanya bisa membuat pria semakin gesit, lincah dan tahan lama. Superrrr sekali saudara saudara!

IMG_2328
Belut fitness yang terlihat begitu sexy nan menggiurkan

Dengan perut kenyang, senyum senang, kaki telentang, kami akhirnya duduk didalam kursi nyaman Shinkansen. Perasaan lelah bercampur dengan bahagia. Mengitari indah nya malam di Gion, menikmati remang-remang lampu kota Kyoto yang menghadirkan kenyamanan, kemudian terpukau melihat make up tebal seorang Geisha yang begitu eksotis. Semua pengalaman ini memberikan kesan mendalam. Apalagi jika kamu sudah nonton film Memoirs of Geisha sebelum ke Kyoto. Kehidupan para Geisha di masa lalu bikin saya makin terbawa suasana. Penderitaan dan perjuangan seorang Geisha sebagai “seniman penghibur” tradisional Jepang, diperankan oleh Zhang Zi Yi dan Gong Li dengan begitu apik. Background cerita dari film ini membuat tiap sudut Kyoto seakan memiliki kisah yang eksotis.

Life is too short, time sure flies not driving. Saat menulis ini saya masih termenung dengan meninggalnya Chester. Dia meninggalkan 6 anak dan seorang istri ditengah gemerlap nya dunia superstar. Tenggelam dalam kegelapan.

Success, Fame, Wealth, even Family and Love. Nothing matters if you’re not happy.
So, just be happy. Kill the pain and not your life.
IMG_2338
Dan malam itu juga, kami melaju cepat dengan si Shinkan menuju Osaka

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s