Melayang-layang di negeri “Kinciran”. Terhembus Liarnya Amsterdam, Ademnya Volendam, dan Manisnya Zaanse Schans

IMG_6352.JPG
I’m dating with a ghost in Volendam

Kadang sebuah hal yang sederhana terasa menjadi begitu istimewa, terutama saat kamu baru merasakan, melihat, dan menikmatinya untuk pertama kali. Ingatkah betapa senangnya kamu saat pertama kali baru bisa naik sepeda? Ingatkah kamu betapa asyiknya waktu pertama kali masuk kuliah bisa bebas pakai baju apapun dengan rambut model jagung Tao Ming Tse yang menurutmu stylish itu? Ingatkah kamu akan ciuman pertamamu? Sensasi itulah yang selalu saya dapatkan saat traveling. Banyak pengalaman baru yang saya rasakan untuk pertama kali, hal-hal simple seperti terpesona melihat cantik-nya rumah kompeni warna-warni dari sisi canals pusat kota Amsterdam, terpukau melihat gagahnya baling-baling dari kinciran angin di negeri ini, sampai tercengang melihat gadis berwujud emak-emak gembrot memakai  lingerie merah dipajang depan kaca etalase toko besar di Red Light District. Mixed feelings dari segala jenis perasaan, mulai dari takjub, girang, demen, excited, nyaman dan asyik yang bisa menjadi semacam jalan pintas untuk menghilangkan penat dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Bahasa kekiniannya adalah short escape! menjauh dari segala problema, beristirahat sejenak untuk menikmati hidup.

IMG_1295.jpg

Di Pagi yang sedikit mendung itu, saya bersama dengan anggota travel group berangkat bersama-sama dalam satu bus dari Brussels menuju ke Amsterdam. Sebuah negara yang dulu nya pernah menjajah kita selama kurang lebih 126 tahun, sehingga kita memanggil mereka dengan sebutan kompeni jahanam. Negara yang beken dengan bunga tulip dan kincir angin nya. Negara yang dicintai akan kebebasannya. Negara yang membebaskan-mu untuk smoking weed, ataupun “jajan” dengan gadis-gadis sexy berlingerie. Yak, semua dilegalkan disini, di Amsterdam.

“Some tourists think Amsterdam is a city of sin, but in truth it is a city of freedom. And in freedom, most people find sin.”
― John Green

IMG_1347
Colourful canalside houses. Amsterdam is also known as the “Venice of the North” for its canals which divide the city into 90 small islands linked together by 1500 bridges

Hal pertama yang kami lakukan setelah tiba di Amsterdam adalah menaiki boat atau sejenis kapal kecil khusus wisata, dimana kami akan diajak tour mengelilingi canals dan sungai kecil yang berada di tiap sudut kota. Canal Cruise ini memiliki open air view dan inside view, dibagian dalam deck terdapat kaca dimana kamu bisa duduk melihat keluar dari kaca jendela sambil mendengarkan pengemudi kapal menjelaskan tentang gedung-gedung apa saja yang dilewati. Saya memilih untuk berada diluar, menikmati pemandangan dan udara segar pagi itu sembari sesekali berfoto. Sungguh menyenangkan melihat pusat kota bersejarah ini. Mulai dari berlayar menyusuri kanal-kanalnya yang mempesona, jembatan indah yang tak terhitung jumlahnya, melewati rumah-rumah bata tua yang colourful dari abad ke-17. Watching the world go by from the canals was simply delightful! 

Amsterdam adalah satu-satunya kota di dunia yang posisinya di bawah permukaan air laut, kota ini tumbuh di sekitar kanal dari sungai Amstel. Pertanyaannya adalah kok bisa kota ini ga tenggelam? Jawabannya adalah karena pembangunan terencana infrastruktur di masa lalu yang membuat Belanda menjadi kota air yang tertata rapi seperti sekarang. Pembangunan Canals dan Dam (bendungan) canggih dengan sensor otomatis buka tutup tanpa perlu dioperasikan oleh manusia di tiap titik kunci sudut kota ini membuat Amsterdam melayang di atas air. Terdapat 165 kanal di Amsterdam yang panjangnya kalau digabungkan berjarak lebih dari 100 kilo! saking banyaknya canals, Amsterdam dikenal sebagai “Venice of the North”. Tour leader kami juga sempat bercerita bagaimana sungai ini dulunya kotor seperti sungai ciliwung sebelum Ahok datang. Namun sekarang hampir semua canals sungai di Belanda sangat bersih dan bebas dari sampah. Ada si beberapa sampah berserakan di canals, bukan sampah bungkus kresek ataupun plastik melainkan sampah rongsokan sepeda!

Yak, Amsterdam juga terkenal sebagai kota pesepeda. Tahukah anda bahwa Belanda merupakan negara dengan jumlah pesepeda terbanyak no. 1 perkapita di dunia? Berdasarkan Wikipedia, jumlah penduduk di Belanda: 16,652,800, dengan jumlah Sepeda: 16,500,000, itu berarti pesepeda disini mencapai 99,1%! Rata-rata 27% dari semua perjalanan orang Belanda ke tempat kerja dilakukan dengan mengendarai sepeda. Jarak bersepeda mereka per hari adalah 2,5 km. Bayangin kalori mereka yang terbakar jika dibandingkan dengan kita yang ke INDOMARET SEBELAH RUMAH AJA NAIK MOTOR! Mau ga mau lemak jahat di perut mereka terbakar dengan sendirinya. Amsterdam dan sepedanya berjalan berdampingan ibarat susu dan cereal. The bikers are everywhere! Sepanjang jalan saya melihat banyak orang bepergian dengan menggunakan sepeda. Kota nya yang tidak terlalu besar, membuat orang kemana-mana dapat dengan cepat dan nyaman sampai tujuan walaupun hanya dengan naik sepeda. Cuaca juga menjadi faktor yang berpengaruh, kita yang hidup di negara tropis, sepedaan dikit di siang hari dah pasti bakal ngos-ngosan kepanasan dan mandi keringat. Selain itu beda dengan Belanda yang  didukung oleh infrastruktur yang OKE OCE dan memadai. Kamu ga bakal ditabrak motor atau mobil dari belakang saat bersepeda disini, konon malah pesepeda disini yang sering nabrak pejalan kaki. Transportasi publik seperti Bus dan Tram semakin mempermudah turis seperti kita untuk berpetualang ke seluruh penjuru pusat kota. Sehat, nyaman, dan cantik!

IMG_1343
Amsterdam is a city tied to the water. The canals of Amsterdam are incredibly beautiful. My view from the cruise ship tour
IMG_1348
“In Amsterdam, the river and canals have been central to city life for the last four centuries.” – Janet Echelman

Canal Cruise Tour kami akhirnya berhenti di sebuah pabrik pengasahan berlian. Kami diajak masuk ke semacam chocolate factory versi diamonds untuk melihat bagaimana berlian di potong dan dipoles. Disertai penjelasan dalam bentuk suara dan visual bagaimana sejarah berdirinya Gassan factory ini. Setelah selesai menyaksikan semua nya terdapat lelang kecil-kecilan dimana kami bisa membeli berlian tersebut. Jujur tempat ini kurang menarik buat saya. Selain karena saya ga kuat beli berlian dengan harga jutaan rupiah itu, juga karena memang showcase disini sedikit membosankan. Kalo boleh memilih saya mending pergi mengitari kota untuk kulineran, nyantai di taman ataupun foto-foto museum dipusat kota. Namun dengan keterbatasan waktu dan jadwal yang sempit, sulit untuk memisahkan diri dengan tour group di hari itu.

IMG_1423 2
Gassan Diamonds was founded in 1945 by Samuel Gassan and now employs over 500 people. The factory was originally steam powered and a tour of the factory shows us how diamonds are cut and polished, with the history of the industry fully showcased
IMG_1419 2
View the diamond polishers that look a like Steve Jobs, find out how rough diamonds are turned into dazzling masterpieces

Disini juga terdapat outlet brand ternama seperti Rolex dan Swarovski. Mereka menawarkan jam tangan, kalung, cincin ataupun case iPhone blink-blink limited edition yang tidak bisa kamu temukan di tempat lain. Selain itu juga terdapat toko merchandise yang menjual pernak-pernik dan snack-snack kecil khas Belanda, saya sempat membeli stroopwafels (syrup waffles) yang bentuknya seperti 2 wafer bulat super tipis didempetin jadi satu dengan rasa manis caramel ditengahnya. Saya beli bentuk kalengan semacam kaleng Khong Guan untuk dijadikan oleh-oleh buat keluarga dirumah. Kalo kamu penasaran dan pingin ngerasain rasa stroopwafels kaya apa, kamu bisa beli di Starbucks terdekat. Rasanya ga beda-beda jauh kok.

header-stroopwafelsinblik

IMG_1429
Mau tahu berapa harga jam tangan ini? Kalo dirupiahkan sekitar 69 jeti! Bayangin duit segitu kalo buat beli bakso bisa dapet berapa mangkok
IMG_1434
Diamond jewellery, Swarovski’s blink blink iPhone case, watch can also be purchased in the dedicated store. Me? We shall find peace, we shall hear angels, we shall see the sky sparkling with diamonds – Anton Chekhov

Setelah selesai, kami kembali ke bus untuk melakukan perjalanan lumayan jauh sekitar 20 kilometer atau 30 menit ke pinggiran utara Amsterdam, menuju ke kota pelabuhan tepi laut yang disebut Volendam. Volendam adalah desa nelayan tepi laut yang tersohor dengan arsitektur kuno Belanda, rumah-rumah mini warna-warni berderet sejajar dengan rapi, perahu layar penangkap ikan, angin laut segar, dan aroma makanan lezat yang tercium di sepanjang jalan. Nama Volendam secara harafiah berarti bendungan penuh, penuh cinta mungkin. Pada awal abad ke-20 Volendam merupakan tempat dimana seniman populer seperti Van Gogh, Monet, Picasso dan Renoir relax dan mencari inspirasi, bukan nyari bini. Sepanjang perjalanan dari balik jendela bus saya menikmati keindahan alam dimana terdapat hamparan ladang hijau yang luas dengan pepohonan cantik berhiaskan sapi dan rumah-rumah mungil yang unyuu.

IMG_1459.jpg
Sunrise, sunrise
Looks like mornin’ in your eyes…
Volendam is a fishermen village in North Holland, 20 kilometres north of Amsterdam
IMG_1437
Vibrant architecture that is uniquely Holland, such a beautiful brick house. I couldn’t help but fall in love with this little village

Setelah tiba di Volendam, seperti biasa Tour Leader kami Koh Hendry mengumumkan jam berapa kita harus berkumpul kembali di tempat yang ditentukan, lalu mengantarkan kami berjalan menuju pusat oleh-oleh dan makanan di tepi laut. Kemudian kami berjalan di semacam trotoar luas bertepikan laut tanpa batas, sungguh indah sekali. Dikiri saya hembusan angin laut segar membuat perasaan melayang-layang keenakan. Sihir suara ombak dan aroma lautan biru yang begitu menenangkan jiwa. Di kanan saya berdiri rumah warna-warni penduduk lokal yang saya baca di Wiki hanya berjumlah sekitar 22,000 orang. Selalu ada perasaan tenang saat berjalan di daerah pinggiran seperti Volendam. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, merasakan udara segar dan indahnya pemandangan laut seperti mencium asinnya laut yang tersenyum. Diujung jalan saya melihat banyak kapal nelayan berlabuh. Sebagian besar masyarakat Volendam memperoleh penghasilan dari penangkapan ikan segar, pengolahan dan penjualan keju, serta pariwisata dari turis yang datang berkunjung.

Berdasarkan cerita dari Koh Hendry saat di bus, pakaian tradisional khas Belanda masih dipakai oleh beberapa penghuni lokal sampai saat ini. Walaupun selama beberapa jam disana, saya belum sempat melihat londo-londo lokal memakainya. Apakah dia hanya asal mendongeng? kayanya si engga. Setelah saya browsing dan bertanya kepada Mr. Google. Konon Volendam memang kaya akan warisan budaya dan tradisi yang sebagian besar berasal dari abad ke 17. Volendam dulunya merupakan pusat pelayaran dan pelabuhan utama untuk kota terdekat yang disebut Edam bukan Edan (yang merupakan penghasil keju utama dengan merek Edam Cheese). Sampai akhirnya Edam mendirikan pelabuhannya sendiri. Jadilah para petani dan nelayan yang tinggal di daerah ini terbentuk di kota yang sekarang dikenal dengan nama Volendam. Namun seiring dengan dibangunnya Afsluitdijk, bendungan utama yang memotong laut utara, industri perikanan dan pelayaran Volendam pun perlahan memudar. Sekarang Volendam bertransformasi menjadi pusat wisata populer yang menjadi daya tarik turis mancanegara. Kecintaan yang kuat akan tradisi mereka, membuat baju tradisional tetap mereka kenakan dan menjadi semacam cheongsam-nya orang Belanda.

IMG_1494
Cheese is big business in the Netherlands, so don’t go home without visiting one of Holland’s many ‘kaas’ shops and tasting some Gouda! “The Big fat cheese”

Kemudian saya sempat muter-muter bentar buat nyari toilet, lalu berakhir di sebuah cafe untuk numpang pipis. Karena ga enak rasanya kalo cuma masuk cafe buat numpang pipis, akhirnya saya beli Beer Heineken. Ya, saya memang kaya gitu orangnya, sopan dan berdedikasi tinggi. Setelah pipis, saya berjalan melewati jalan-jalan sempit menawan yang dilapisi dengan arsitektur kuno Belanda, sebagian besar bangunan telah dilestarikan lebih dari 500 tahun. Dijalan ini berjejer cafe-cafe eksotis, hotel bersejarah, cheese factory, pusat oleh-oleh dan pernak pernik, photo studio dengan baju tradisional khas belanda etc. Tampaknya semuanya toko disini sudah menjadi karakter ciri khas sejati dari kota pelabuhan Volendam.

Kemudian saya singgah ke toko keju besar merangkap “Cheese Factory”. Disini mereka memperlihatkan dan menjelaskan bagaimana proses keju itu dibuat dengan peralatan peres susu modern, ajiiibbb! Mereka juga menyediakan free sample dari semua jenis cheese gouda yang merupakan salah satu best seller dan must try disini. Karena kecintaan saya akan susu cap nona dan keju, saya memborong berbagai jenis selai keju dan cheese gouda untuk dibawa pulang. Saya juga sempat mengunjungi toko pernak-pernik untuk membeli beberapa gantungan kunci murahan sebagai oleh-oleh untuk teman-teman yang ga deket deket amat, alias teman fakir oleh-oleh. Prinsip saya yang penting kasi oleh-oleh deh daripada ga sama sekali.

IMG_1517.jpg
Volendam is a popular tourist attraction in the Netherlands, well known for its old fishing boats and the traditional clothing still worn by some residents. The women’s costume of Volendam is one of the most recognizable of the Dutch traditional costumes, and it is often featured on tourist postcards and posters and visitors can have their pictures taken in traditional Dutch costumes

Dan tentunya saya tidak akan melewatkan untuk berfoto dengan baju tradisional khas Belanda (klederdracht). Foto studio disini wajib hukumnya sebagai tanda bahwa kamu sudah pernah nih mampir di Belande. Saat itu saya masuk sendirian, dan ketemu sama teman Brotherhood “Wakanda Forever” saya satu grup travel. Sebutlah namanya dengan Jason seorang pemuda yang masi sangat muda, jago berbahasa Inggris karena dia tinggal di Amerika, dan sedikit cadel berbahasa Indonesia. Saat itu dia bersama mama nya juga sedang antri menunggu untuk dipanggil berfoto. Dan akhirnya tibalah saat Jason dan mama nya untuk berfoto. Mereka berdua terlihat mengagumkan saat mengenakan baju tradisional khas belanda tersebut. Cocok sekali, semacam foto keluarga Belanda-Asia Oriental dimana Jason yang perawakan nya tinggi besar dan berotot seperti sapi jantan kelebihan hormon, bisa membuat sapi-sapi betina lokal berteriak histeris “Moooo… Moooo… Mooo…” sejenis “Kya Kya Kya..” dalam bahasa sapi. Sementara mamanya yang awet muda terlihat seperti cicik-nya yang berasal dari negeri dongeng.

Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan saya saat memakai baju ini. Saya malah terlihat seperti Mario Bross berpipi tebal. Ekspresi Jason dan mama nya ketika pertama kali melihat saya memakai pakaian ini adalah ngakak ga abis-abis.

“Ya, ampun Steve lucu deh. Kaya anak kecil. Hahaha!” ujar mami Jason dengan tawa aneh yang  seakan senang melihat orang terhina.

Saya pun cuma bisa tersenyum pasrah. Di satu sisi saya merasa senang diomongin seperti anak kecil, itu berarti saya awet muda kan? Disisi lainnya saya merasa seperti bocah tua ingusan. Padahal kan… memang iya sih.

IMG_6371
Pakaian Belanda yang membuat saya lebih terlihat seperti Mario Bross
IMG_1489
Salah satu kedai Food Corner yang menjual Fish and Chips, Dutch herring, dan Poffertjes di Volendam

IMG_1515.JPG

Selagi menunggu hasil photo studio-nya jadi, saya sempat mondar-mandir sebentar mengagumi pemandangan pelabuhan dan keluar masuk toko di sepanjang jalan ini. Saya juga menyempatkan diri berhenti di salah satu cafe, untuk mencicipi pancake khas Belanda yang bernama Poffertjes. Pancake empuk mungil yang disajikan panas dan fresh from the oven dengan taburan gula halus bubuk, syrup mapple dan mentega. Mmmmm…Yummy! Sajian nya yang simple, perpaduan manisnya gula dan milky mentega, tetapi nikmatnya seperti menyantap croissant dalam wujud lain. Begitu nikmat saat melt di mulut, lumernya sungguh pas bila disantap dengan kopi ataupun beer. Mungkin kalo di Indonesia makanan ini mirip dengan kue pukis namun berbentuk kecil seperti serabi. Terdapat berbagai macam pilihan topping seperti chocolate, syrup strawberry, ataupun ice cream. Namun topping original yang wajib kamu coba saat berada disini justru adalah yang plain dengan topping gula dan mentega seperti saya kali ini. Karena kamu jadi bisa merasakan rasa asli lembutnya pancake yang bercampur dengan gula, sederhana tapi mematikan.

Selagi makan berdiri sambil nyantai ngelihat orang berlalu lalang, saya ketemu dengan pasangan honeymoon dalam satu group tour kami yang tergopoh-gopoh berjalan cepat. Memang harus diakui resiko ikut tour adalah waktu yang ada disuatu tempat sangat terbatas, kadang kita terbentur dengan banyak keinginan dalam waktu yang sempit karena harus strict to itinerary. Belum nyoba makan ini, belum sempet shopping ini, eh dah harus balik ke bus. Kemudian perlahan Pau dan Ming, menghampiri saya yang sedang ngemil sendirian.

“Eh cobain gih, pancake khas Belanda. Kalo dah kesini harus nyicip ini lho” sapa basa basi saya menawarkan makanan untuk dijamah.

“Hmmm.. engga deh Steve thanks. Eh ga papa ding.”

Mungkin ini yang namanya terburu-buru tapi mau. Pau lalu ngambil satu pancake dengan cepat buat dicicip, sempat ragu lalu dia berkata

“Hmmm.. enak, gilaaa…. aduh pingin beli. Eh, tapi… udah lah tar aja.. hahaha”.

Akhirnya Pau dan Ming pun pergi lagi dengan bergegas seperti ada sesuatu yang belum mereka lakukan. Saya pun akhirnya ikut ngabisin pancake ini dengan terburu-buru. Takut ga enak sama teman-teman satu bus kalo terlalu lama telat ngumpul. Ngaret to the max.

IMG_1582.jpg
Just an old man and his best friend
IMG_1574 copy.jpg
See clogs being handcrafted at the Clog Workshop
IMG_1577.jpg
We took our time visiting crafts shops like the clog workshop and cheese shop. There were clogs-making demonstrations, which were really nice to see. The shop boasts the largest selection of clogs in all colors and sizes. Clogs become another dutch icon after tulips flower and windmills

Setelah itu kami diajak menuju Zaanse Schans. Sebuah desa kecil dimana terdapat deretan rumah hijau yang rapi, kincir angin yang masih benar-benar bekerja dan berfungsi untuk irigasi persawahan, bukan cuma hiasan. Zaanse Schans juga memiliki koleksi kincir angin bersejarah yang terawat baik dan rumah-rumah yang berasal dari abad ke 18. Hal pertama yang kita lakukan saat tiba disini adalah masuk ke sebuah toko Clogs atau toko sendal bakiak khas Belanda. Disini saya menyaksikan demonstrasi langsung pembuatan sendal kayu yang dioperasikan dengan mesin modern. Sendal Sepatu Clogs yang terbuat dari kayu ini merupakan salah satu bagian dari warisan budaya Belanda, selain bunga tulip dan kincir angin tentunya.

Clogs sebagian besar hanya dikenakan di daerah pedesaan oleh petani dan tukang kebun. Bentuknya pas untuk dikenakan saat berjalan di atas rawa dan tanah berlumpur. Clogs ini ibaratnya udah kaya Adidas ultraboost buat mereka. Clogs bahkan disertifikasi oleh Uni Eropa sebagai sepatu pengaman yang bisa menahan benda tajam dan kadar asam pekat. Menurut legenda, pada abad ke 9, Clogs menjadi bagian tradisi para mempelai untuk melamar calon pengantin. Sebelum melamar, biasanya mempelai pria mendesign dan membuat clogs ini dengan sepenuh hati sebagai lambang cinta mereka. Dengan sepasang sepatu kayu dibayar tunai, SAH! Hemat nan romantis. Ga perlu cincin kawin buat nikah. Cukup dengan sepatu kayu unyuu. Aaahhh, indahnya hidup di masa lalu.

IMG_1649.jpg
Built around the windmills are traditional style Dutch houses and small farms. Simple life!
IMG_1675
It feels like me in the Harvest Moon game.
On our day trip, we toured the Disney looking village of Volendam, the windmills in Zaanse Schans, visited a Dutch shoe maker and stopped at Amsterdam city central
IMG_6339
Built around the windmills are traditional style Dutch houses and small farms, complete with sheep, goats, and chickens
IMG_1620
A visit to the Netherlands isn’t really complete without seeing a windmill.
It would be like going to Paris and not visiting the Eiffel Tower, like a trip to Tokyo without seeing the Tokyo tower. Jogja without the TUGU!

IMG_6379

IMG_1637
Make your own hot chocolate at the Chocolate factory
IMG_1651
When the sun goes down …
Holland’s country side was charming and picturesque

Setelah puas berfoto, berjalan-jalan menikmati suasana di Zaanse Schans dan sedikit membeli beberapa cemilan kecil untuk oleh oleh, kamipun kembali ke bus untuk kembali melanjutkan perjalanan ke pusat kota Amsterdam. Saat di dalam bus, terjadi sedikit perbincangan yang membuat kami tak bisa berhenti tertawa sepanjang perjalanan. Bahan perbincangan itu adalah kosa kata kinciran. Salah satu dari anggota tour kami kali ini, sebutlah dia dengan Asuk. Sebuah panggilan saya kepada orang yang lebih tua atau disebut paman dalam adat tionghoa baik itu paman kandung ataupun ga kandung, tujuannya biar sok akrab. Asuk ini memiliki perawakan tubuh gempal, berkacamata, bersuara keras menggelegar dengan nada yang bisa membuat orang keder dan terintimidasi. Yak, sosok asuk ini terlihat seperti bos mafia gangster Hongkong! Asuk ini berangkat bersama istri nya yang super cantik dan ketiga orang anaknya yang lucu lucu. Dari cara berpakaian dan cara bicaranya terlihat jelas bahwa asuk ini bukan orang sembarangan. Terutama kalo dilihat dari barang belanjaan nya, tas tas branded seharga ratusan juta rupiah yang  dia beli dengan easy going. Asuk Mevvah yang sungguh SWAG. Asuk ini menyampaikan complain dengan nada candaan kepada Koh Hendry, Tour leader kami.

“Aaahhh Hen, daripada lo ajak kita ngeliat KINCIRAN doang, mending lo ajak kita shopping di outlet.”

Dalam hati saya bergumam, “Asuk ini garing sekali, kalo ke Belanda harus liat kincir angin la suk, kinciran bukan kunciran. Kasihani saya yang cuma bisa liat barang branded kalo pergi ke outlet”.

Di dalam bus pun muncul gelak tawa, gara-gara saya dan asuk ini sering ledek ledekan. Diawali oleh Asuk ini sering ngeledek saya dengan berbagai macam pertanyaan seperti:

“Steve, lo sendirian ikut tour Europe tujuan nya ape? cari jodoh lo?” dengan logat Jakarta nya yang kental.

Belum pulih dari pertanyaan menusuk tadi. Saya pun kadang membalas dengan pertanyaan halus seperti:

“Suk, rahasianya apa si punya istri secantik Aiiie (Tante). Aku heran lo, Asuk kan muka nya boleh dibilang yaaaa.. cakep engga, jelek engga. Bagi tips dong suk?”

Sontak satu bus pada ketawa, dan kadang saling melempar komentar. Banyak komentar lucu di bus, yang membuat suasana makin rame ga karuan. Tapi memang harus diakui, istri dari asuk ini cantik dan hot mom banget, terlihat begitu awet muda dan kinclong layaknya aktris mandarin bernama Gong Li. Selain itu, asuk ini juga sangat dermawan. Saya pernah dibeliin Beer satu krat buat minum di Bus. Hal inilah yang membuat saya makin kagum padanya. Walaupun saya ga tau apakah maksudnya benar-benar baik, atau sengaja ingin membuat saya mabok ga jelas di bus.

Dan setelah cape ketawa, suasana di bus pun kembali terasa tenang dan galau saat Tour leader kami, koh Hendry menceritakan tentang Anne Frank Museum. Sebuah rumah dimana Anne dan keluarganya hidup dalam persembunyian dari kejamnya Nazi pada masa Perang Dunia ke 2. Dengan sendu Koh Hendry bercerita dengan background lagu jaman dulu yang sudah dipilih untuk mendukung cerita nya semakin mellow. Anne Frank adalah seorang gadis kecil yang kebetulan lahir sebagai orang Yahudi, hanya karena kebangsaannya ini, dia dan keluarganya di Jerman harus bersembunyi untuk melarikan diri dari kekejaman Nazi nya Adolf Hitler yang ingin membantai semua orang Yahudi pada saat itu. Bersama tujuh anggota keluarga lainnya, Anne bersembunyi di panti asuhan di Prinsengracht 263 di Amsterdam.

Setelah lebih dari dua tahun bersembunyi mereka akhirnya ditemukan dan dideportasi ke kamp konsentrasi oleh Nazi. Penyelidikan intensif pernah dilakukan dalam sejarah, namun tidak jelas bagaimana tempat persembunyian Anne bisa ditemukan. Ayah Anne, Otto Frank, adalah satu-satunya dari delapan orang yang bisa bertahan hidup. Selama perjalanan panjang kembali ke Belanda, dia mengetahui bahwa istrinya telah meninggal dunia. Dia tidak tahu apa-apa tentang keberadaan 2 anak perempuannya termasuk Anne. Saat itu Otto masih berharap bisa bertemu lagi dengan mereka. Sempat mencari Anne kemana-mana, Otto akhirnya menerima kabar bahwa Anne Frank telah meninggal karena sakit dan kekurangan gizi. Setelah kematiannya Anne menjadi terkenal di dunia karena buku diary yang dia tulis selama dalam persembunyiannya yang penuh penderitaan. I can shake off everything as I write, my sorrows dissappear, my courage is reborn, tulis Anne dalam diary-nya. Kata-katanya yang memiliki makna dalam dan menyentuh hati mampu memberikan inspirasi ke seluruh dunia. Berikut beberapa goresan tangan brilliant yang ada dalam diary Anne Frank:

No one has ever become poor by giving.

I keep my ideals, because in spite of everything I still believe that people are really good at heart.

How wonderful it is that nobody need wait a single moment before starting to improve the world.

Think of all the beauty still left around you and be happy.

Whoever is happy will make others happy too.

Parents can only give good advice or put them on the right paths, but the final forming of a person’s character lies in their own hands.

I don’t think of all the misery, but of all the beauty that still remains.

We all live with the objective of being happy; our lives are all different and yet the same.

Laziness may appear attractive, but work gives satisfaction.

Whoever doesn’t know it must learn and find by experience that ‘a quiet conscience makes one strong!’

– Anne Frank

Entah karena kami terbawa cerita atau kami memang sudah sedikit lelah dan ngantuk, suara dongengan Koh Hendry menjadi pengantar bobo yang sempurna bagi kami. Diiringi dengan lagu lawas seperti imagine nya The Beatles, Dust in the wind, The sound of silence, dan Tears in Heaven membuat saya menikmati sore itu sembari sesekali menatap keluar pemandangan dibalik kaca bus, begitu sendu.

IMG_1711.jpg
The red light district De Wallen is a major tourist attraction in Amsterdam
There is a number of sex shops, sex theaters, peep shows, and a number of coffee shops that sell marijuana. “Unlucky” for us, we can’t see much “love” because that day they’re still in Christmas holiday

Tak terasa langit sudah gelap, akhirnya kami tiba kembali di pusat kota Amsterdam. Kemudian kami diajak oleh Tour Leader untuk berbagi 2 kelompok untuk saling memisahkan diri dan bertemu kembali di titik yang ditentukan. Kelompok pertama terdiri dari ibu-ibu yang doyan shopping, bisa bebas nge-mall untuk belanja atau ngafe  cantik ala Syahrini. Kelompok kedua terdiri dari para pria termasuk Koh Hendry sendiri bersama-sama mengunjungi atau tepatnya hanya “melewati” area yang sangat terkenal mesum di Amsterdam, tidak lain tidak bukan adalah Red Light District.

Ada sejumlah toko seks, teater seks, pertunjukkan striptease, museum seks, museum ganja, dan sejumlah kedai kopi yang menjual ganja. Gila kan! Kamu bisa menemukan segala jenis dosa duniawi disini. Tidak cuma legal, prostitusi dan drugs tampaknya sudah menjadi industri di Amsterdam, industri yang menarik banyak turis yang sekedar penasaran melihat-lihat seperti kami ataupun yang niat datang untuk “jajan” beneran. Sebelum tiba disini tour leader kami sempat mengingatkan untuk tidak sembarangan mengambil foto wanita yang dipajang di etalase kaca rumah bordil, karena banyak kejadian dimana turis lagi asik fotoin mereka lalu kamera hp-nya diambil oleh mucikari merangkap satpam yang berbadan segede gaban, kemudian hp-nya dibanting dan dibuang ke canals sungai. Sadis! Intinya, kamu boleh lihat tapi kamu ga boleh foto. Cukup foto di benak anu-mu saja.

Kemiskinan membuat mereka harus melakukan pekerjaan apapun, daerah Red Light District konon memang dipenuhi oleh imigran kurang mampu dari negara Uni Eropa. Selain juga karena tawaran menggiurkan mendapatkan uang dengan cara cepat untuk memenuhi kehidupan sosialita mereka. Berhubung pada malam itu masih musim liburan natal, maka banyak “cafe bordil” yang masih tutup disini. Setelah sempat berputar-putar dalam gelap, akhirnya kami menemukan beberapa rumah bordil yang masih buka. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wanita memakai lingerie berpose merebahkan diri di etalase kaca toko besar seakan menawarkan dirinya untuk disantap. Maaf, mungkin malam itu dikarenakan keterbatasan stok musim liburan, saya hanya melihat gadis yang bikin saya geleng-geleng. Perawakan nya yang subur alias berlemak menggelambir layaknya kuda nil obesitas dengan gizi sempurna, cukup membuat saya kenyang hanya dengan melihatnya. Lingerie merah, lipstik merah tebal menyala, dengan tatapan menggoda sok hot dan sesekali lidah menjulur keluar layaknya ular piton, membuat saya heran. Apakah mungkin selera orang Belanda memang yang sehat seperti ini? Dalam hati saya saat itu kalo jauh-jauh sampe belanda cuma buat liat ini si, mending saya di rumah nonton Tsubasa Amami aja deh.

IMG_1713
In the Netherlands, coffee shop is not a place for you to “kongko-kongko” like in Indonesia, it is a weed cafe to buy and try Marijuana Cake. You will be handed a “menu of drugs” selling items such as cakes that contain a dose of legalized cannabis. Doing all these are legal in Amsterdam
I wish i could try it, but i’m just scared becoming stoned and hallucinated after trying small quantity of weed, if i do it all alone. I just need someone to accompany me that day

Malam itu kami juga melewati The Bulldog Cafe Mack. No! there is no Caramel Macchiato in here. Cafe ini menjual berbagai macam “cake fantasy” alias cake yang mengandung ganja atau marijuana yang berasal dari berbagai macam negara. Saya sebenarnya penasaran pingin banget cobain, tapi anggota tour group kami ga da yang tertarik, kesannya kaya saya sendiri disini yang bejat haram. Padahal saya cuma pingin tau aja kaya apa rasanya getting high in a coffee shop, nyeruput kopi sambil melayang-layang di dunia fantasy. Namun dikarenakan saya sendirian aja malem itu, saya mengurungkan niat untuk nyobain cake kebahagiaan duniawi ini. Takut-nya nanti saya dah nyoba, puyeng sakau trus ga inget lagi jalan pulang untuk ngumpul bareng group travel, belum lagi bila saya ga sadarkan diri lalu dicopet ditengah jalan. Hmmm.. gadeh. Seandainya ada temen yang nemenin saat itu mungkin bisa saling menjaga. Dan akan asyik buat ngerasain nyimeng ala orang Belanda ini.

Tidak semua orang bisa masuk ke cafe ini, tentu saja di pintu masuk ada semacam satpam yang meminta pelanggan untuk menunjukkan kartu identitas mereka. Ada batasan umur yang tidak boleh dilanggar. Perasaan penasaran saya berawal dari curhatan teman saya yang pernah nyobain nyimeng disalah satu cannabis cafe di Red Light District ini. Sepasang suami istri yang sedang hot-hotnya honeymoon, pasangan kekinian yang saya kenal dekat, pernah nyobain “space cake” ini beramai-ramai bareng temen tour agent nya. Membeli satu cake untuk dibagi berdua, effect dari cake ini baru terasa sekitar 30 menit.  Untuk ukuran orang yang belum pernah mencoba marijuana semacam ini, konon effectnya akan semakin liar. Setelah itu mereka pulang ke hotel dengan membawa 1000 halusinasi. Ketawa-tawa setengah ngigo ga karuan, moodnya pingin ML, tapi malah error ga bisa ngelepas baju masing-masing, dan akhirnya mereka berdua tumbang terbaring di kasur dengan asyik ketawa-tawa ga jelas. Bleg, lalu terlelap dengan pulas. Sekarang saya mengerti mengapa Red Light District di Amsterdam menjadi salah satu alasan utama mengapa orang mengunjungi Belanda. Rasa penasaran akan sebuah bentuk semu kebahagiaan.

IMG_1714.jpg
The Dutch version of French Fries has many different words, Friet, Frites, Patat. They are thicker than the normal French Fries. Dutchies aren’t just about the mayonnaise. The best sauce comes with Patatje Oorlog, a mix of mayo, sate sauce and onions and it translates to war chips. Yum!

Dan jadilah saya pada malam itu malah nyimeng sehat yaitu ngemut french fries. French fries versi Belanda memiliki ciri khas lebih tebel dari french fries biasa. Hampir ga jauh berbeda sama french fries yang ada di Belgia. Saya pun nyobain French Fries Patatje Oorlog. Salah satu topping saus terbaik yang wajib kamu cobain jika kamu baru pertama kali ke sini. Saus topping best seller yang merupakan campuran dari mayonnaise, satay sauce dan bawang. Ketika kamu mencocolnya dan masuk bersamaan ke dalam mulut, membuat rasa kentang dan saus ini seakan berperang dilidah kita. Lalu saya melayang-layang keenakan. Yum! Saya rasa french fries ini cukup dan jauh lebih enak daripada nyimeng. Dan jadilah saya malam itu berjalan-jalan sembari nyemil kentang sendirian dengan khusyuk. Saya tipe orang yang suka makan sendirian, bukan cuma karena saya jomblo busung lapar. Entah kenapa makanan jadi terasa lebih enak. Mungkin karena saya sudah nyaman dan terbiasa, mungkin juga karena titik fokus yang hanya dimakanan saja tanpa harus mikirin sapaan atau bahan obrolan seperti saat kita sedang bersama orang lain. Fokus menikmati makanan yang diemut just me and my food. Making love forever! Saya jadi teringat ada quotes yang berkata seperti ini:

“Ga ada cinta yang lebih tulus dari cinta sama makanan” – Unknown

IMG_1724
Amsterdam’s largest and most popular park is a great place to walk, bike, people-watch, or relax, especially after a visit to a local coffee shop or beer. There’s numerous areas for hanging out. I wish i could stay here longer that night
IMG_1733
Dam Square, one of the shopping areas in Amsterdam. You can find almost everything in here. Whether its world-renowned museums, endless shopping, a foodie haven, green space or a crazy nightlife

IMG_6366.JPG

Saya tersenyum saat menulis ini, mencoba mengingat-ingat pengalaman seru yang terjadi. Banyak sekali tempat yang belum kesampaian untuk dikunjungi. Memasuki Van Gogh museum, Rijksmuseum, Anne Frank House, Heineken Experience museum, mengendarai sepeda mengelilingi kota ataupun mencicipi ikan mentah khas Belanda yang disebut Herring. Hal yang belum kesampaian itu mungkin bisa saya lakukan lain kali, namun kebersamaan saat berjalan-jalan di group tour kali ini benar-benar tak tergantikan. Damainya perasaan saat berada di bus dengan lagu yang mengalun dan bagaimana cara tour leader mendongengkan segala sejarah masa lalu yang terjadi disini dengan menarik. Canda tawa yang muncul dengan teman-teman baru yang unik nan mengasyikkan, sungguh menginvestasikan kenangan manis di memory saya. Saya berharap dengan menceritakan kenangan akan kebahagiaan ini dapat mempertahankan sejuta kejadian manis. Sehingga sewaktu-waktu saat saya membaca lagi tulisan ini, kenangan itu bisa menyeruak kembali dan bersarang di alam bawah sadar selamanya. Semacam potret album kesenangan yang tak berdebu dimakan waktu. Kadang oleh-oleh terbaik untuk dibawa pulang ke rumah bukan berupa barang. So, what is the best thing to bring back home? pretty photos and beautiful memories! 

Friends can be new, friends can be old. All of them are as precious as GOLD – Roo

Advertisements

2 thoughts on “Melayang-layang di negeri “Kinciran”. Terhembus Liarnya Amsterdam, Ademnya Volendam, dan Manisnya Zaanse Schans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s