Melayang-layang di negeri “Kinciran”. Terhembus Liarnya Amsterdam, Ademnya Volendam, dan Manisnya Zaanse Schans

Kadang hal yang sederhana terasa begitu istimewa saat kamu merasakannya pertama kali. Ingatkah betapa senangnya kamu saat baru bisa naik sepeda? Ingatkah betapa asyiknya saat kuliah pertama kali bebas pakai baju apapun yang kamu mau, dengan rambut jagung Tao Ming Tse yang menurutmu stylish itu? Ingatkah kamu akan ciuman pertamamu? Sensasi itulah yang selalu saya rasakan saat traveling. Banyak pengalaman baru yang bikin nagih.

IMG_6352
I’m dating with a ghost in Volendam

Hal-hal sederhana seperti terpesona cantik-nya rumah kompeni warna-warni,  eksotisnya canals kota Amsterdam, terpukau gagahnya baling-baling kincir angin, sampai tercengang melihat emak-emak mengenakan lingerie merah dipajang di jendela etalase.

Mixed feelings dari perasaan takjub, girang, demen, dan excited yang menjadi jalan pintas melenyapkan penatnya rutinitas. Bahasa kekiniannya adalah short escape! menjauh dari segala problema, beristirahat sejenak untuk menikmati hidup.

IMG_1295.jpg

Di Pagi yang cloudy, saya bersama dengan anggota tur berangkat dalam satu bus dari Brussels menuju ke Amsterdam. Sebuah negara yang dulu nya pernah menjajah kita lebih dari 126 tahun. Kita pun memanggil mereka dengan sebutan kompeni jahanam. Negara yang beken dengan bunga tulip dan kincir angin. Negara yang dicintai akan kebebasannya. Negara yang membebaskan-mu untuk smoking weed, menikah dengan sesama jenis, ataupun “jajan” dengan gadis sexy berlingerie. Semua dilegalkan disini, di Amsterdam.

“Some tourists think Amsterdam is a city of sin, but in truth it is a city of freedom. And in freedom, most people find sin.”
― John Green

IMG_1347
Colourful canalside houses. Amsterdam is also known as the “Venice of the North” for its canals which divide the city into 90 small islands linked together by 1500 bridges

Hal pertama yang kami lakukan setelah tiba di Amsterdam adalah menaiki boat kecil khusus wisata. Kami diajak tour mengelilingi canals dan sungai kecil di tiap sudut kota. Canal Cruise ini memiliki open air view dan inside view, dibagian dalam deck terdapat kaca dimana kamu bisa duduk melihat keluar sambil mendengarkan pengemudi kapal menjelaskan tentang gedung-gedung apa saja yang dilewati. Saya memilih berada diluar, menikmati pemandangan dan udara segar pagi itu. Kami berlayar menyusuri kanal-kanal, jembatan indah yang tak terhitung jumlahnya, dan rumah-rumah bata tua yang colourful. Watching the world go by from the canals was simply delightful! 

Amsterdam adalah satu-satunya kota di dunia yang posisinya di bawah permukaan laut. Kota ini berdiri dari kanal sungai Amstel. Pertanyaannya adalah kok bisa Amsterdam ga tenggelam? Jawabannya adalah karena pembangunan terencana infrastruktur di masa lalu yang membuat Belanda menjadi kota air yang tertata rapi. Pembangunan Canals dan Dam (bendungan) dengan sensor otomatis buka tutup tanpa perlu dioperasikan oleh manusia, membuat Amsterdam seperti melayang di atas air.

Terdapat 165 kanal yang panjangnya kalau digabungin berjarak lebih dari 100 kilometer! saking banyaknya canals, Amsterdam dikenal sebagai ‘Venice of the North’. Tour leader kami juga sempat bercerita bagaimana dulunya sungai ini kotor seperti Ciliwung sebelum masa Ahok. Namun sekarang hampir semua sungai di Belanda bersih dan bebas sampah. Ada si beberapa sampah berserakan di canals, bukan sampah plastik melainkan sampah rongsokan sepeda!

IMG_1411

Tahukah kamu bahwa Belanda merupakan negara dengan jumlah pesepeda terbanyak perkapita di dunia? Menurut Wikipedia, jumlah penduduk di Belanda sekitar 16,652,800, dengan jumlah Sepeda 16,500,000, itu berarti pesepeda disini mencapai 99,1%! Rata-rata 27% dari semua perjalanan orang Belanda ke tempat kerja adalah naik sepeda. Jarak bersepeda mereka per hari 2,5 km. Bayangin kalori mereka yang terbakar jika dibandingkan dengan kita yang ke INDOMARET SEBELAH RUMAH AJA NAIK MOTOR! Mau ga mau lemak jahat di perut mereka terbakar dengan sendirinya. Amsterdam dan sepedanya berjalan berdampingan ibarat susu dan cereal. The bikers are everywhere!

Kota nya yang tidak terlalu besar, membuat orang dengan cepat dan nyaman sampai tujuan. Cuaca juga menjadi faktor yang berpengaruh. Dibandingkan dengan kita yang hidup di negara tropis, sepedaan dikit di siang hari dah pasti mandi keringat dan ngos-ngosan kepanasan. Selain itu infrastruktur yang OKE OCE membuat pengendara sepeda ga bakal ditabrak motor atau mobil dari belakang. Konon malah pesepeda disini yang sering nabrak pejalan kaki. Transportasi publik seperti Bus dan Tram, mempermudah warga maupun turis berpetualang ke tiap sudut kota. Sehat, nyaman, dan cantik!

IMG_1343
My view from the cruise ship tour. Amsterdam is a city tied to the water. The canals of Amsterdam are incredibly beautiful
IMG_1348
“In Amsterdam, the river and canals have been central to city life for the last four centuries.” – Janet Echelman

Canal Cruise Tour kami berhenti di sebuah pabrik pengasahan berlian. Kami diajak masuk ke chocolate factory versi diamonds untuk melihat bagaimana berlian diasah dan dipoles. Setelah menyaksikan sejarah berdirinya Gassan factory dalam bentuk gambar yang diceritakan, kami diajak ikut lelang berlian kecil-kecilan. Jujur tempat ini kurang menarik buat saya.

Selain karena ga kuat beli berlian dengan harga jutaan rupiah, showcase disini juga membosankan. Kalo bisa milih, mendingan jalan-jalan di pusat kota, kulineran, duduk nyantai di taman, ataupun foto-foto museum terkenal. Karena keterbatasan waktu dan padatnya jadwal, sulit untuk memisahkan diri dengan tur hari itu.

IMG_1423 2
Gassan Diamonds was founded in 1945 by Samuel Gassan and now employs over 500 people. The factory was originally steam powered and a tour of the factory shows us how diamonds are cut and polished, with the history of the industry fully showcased
IMG_1419 2
View the diamond polishers that look a like Steve Jobs, find out how rough diamonds are turned into dazzling masterpieces

Disini juga terdapat outlet brand ternama seperti Rolex dan Swarovski. Ada jam tangan, kalung, cincin ataupun case iPhone blink-blink limited edition yang tidak bisa kamu temukan di tempat lain. Terdapat juga toko merchandise yang menjual pernak-pernik dan snack khas kompeni.

Saya sempat membeli stroopwafels (syrup waffles), bentuknya seperti 2 wafer bulat super tipis didempetin jadi satu. Dengan Caramel menjadi perekatnya. Saya beli yang kalengan Khong Guan buat oleh-oleh. Kalo penasaran rasanya kaya apa, kamu bisa beli di Starbucks. Rasanya mirip mirip.

header-stroopwafelsinblik

Setelah selesai, kami kembali ke bus untuk melakukan perjalanan sekitar 20 kilometer atau 30 menit ke kota pelabuhan tepi laut yang disebut Volendam. Desa nelayan yang tersohor dengan arsitektur kuno khas Belanda. Nama Volendam secara harafiah berarti bendungan penuh, penuh cinta mungkin.

Pada awal abad ke-20 Volendam merupakan tempat dimana seniman populer seperti Van Gogh, Monet, Picasso dan Renoir bersantai dan mencari inspirasi, mungkin sekaligus nyari bini. Sepanjang perjalanan saya menikmati keindahan alam dari balik jendela. Hamparan ladang hijau luas dengan pepohonan cantik sukses bikin hati mendayu-dayu.

IMG_1437
Vibrant architecture that is uniquely Holland, such a beautiful brick house. I couldn’t help but fall in love with this little village

Setelah tiba di Volendam, seperti biasa Tour Leader kami Koh Hendry, mengumumkan jam berapa kita harus berkumpul kembali. Kemudian dia mengantarkan kami berjalan di trotoar luas bertepikan laut yang indah. Dikiri saya angin laut berhembus sepoi-sepoi. Sihir suara ombak dan aroma laut biru sungguh menenangkan jiwa.

Di kanan saya berdiri rumah mini warna-warni penduduk lokal yang saya baca di Wiki hanya berjumlah sekitar 22,000 orang. Diujung jalan banyak kapal nelayan berlabuh. Sebagian besar masyarakat Volendam memperoleh penghasilan dari berlaut. Selain menangkap ikan, mereka juga hidup dari peternakan dengan mengolah dan menjual keju. Harvest Moon banget!

IMG_1459
Sunrise, sunrise
Looks like mornin’ in your eyes…
Volendam is a fishermen village in North Holland, 20 kilometres north of Amsterdam

Dari cerita dari Koh Hendry, sampai saat ini pakaian tradisional khas Belanda masih dipakai oleh warga lokal. Walaupun selama beberapa jam disana, saya belum sempat melihatnya. Apakah dia hanya asal mendongeng? kayanya si engga. Setelah bertanya kepada Mr. Google. Konon Volendam memang kaya akan warisan budaya yang berasal dari abad ke-17. Volendam dulunya merupakan pelabuhan utama dari kota yang bernama Edam bukan Edan (yang merupakan penghasil keju utama dengan merek Edam Cheese). Sampai akhirnya Edam memisahkan diri dan mendirikan pelabuhannya sendiri.

Jadilah para petani dan nelayan yang tinggal disini ga mau kalah dan membentuk kota sendiri. Jadi deh, Volendam. Namun seiring dengan dibangunnya Afsluitdijk, bendungan utama yang memotong laut utara, industri perikanan dan pelayaran Volendam pun perlahan menurun. Volendam akhirnya bertransformasi penuh menjadi pusat wisata. Kecintaan yang kuat akan tradisi bersejarah, membuat baju tradisional cheongsam ala londo tetap mereka kenakan.

IMG_1494
Cheese is big business in the Netherlands, so don’t go home without visiting one of Holland’s many ‘kaas’ shops and tasting some Gouda! “The Big fat cheese”

Kemudian saya sempat muter-muter nyari toilet, lalu berakhir di sebuah cafe. Karena ga enak cuma numpang pipis, akhirnya saya beli Beer Heineken. Saya memang gitu orangnya, sopan dan berdedikasi. Setelah itu, saya melewati jalan-jalan sempit yang dipenuhi dengan rumah-rumah kuno. Berjejer rapi cafe-cafe eksotis, hotel, cheese factory, pusat oleh-oleh, photo studio dengan baju tradisional khas Belanda. Pertokoan yang berdiri sejak 500 tahun yang lalu ini sudah menjadi karakter khas kota Volendam.

Kemudian saya singgah ke toko keju besar merangkap ‘Cheese Factory’. Disini mereka memperlihatkan bagaimana proses keju itu dibuat dengan peralatan peres susu modern, ajiiibbb! Mereka juga menyediakan free sample dari semua jenis cheese gouda best seller. Karena kecintaan saya akan susu cap nona dan keju, saya memborong berbagai jenis selai keju untuk dibawa pulang.

Saya juga sempat mengunjungi toko pernak-pernik untuk membeli beberapa gantungan kunci murahan sebagai oleh-oleh untuk teman-teman yang ga deket deket amat, alias teman fakir oleh-oleh. Prinsip saya yang penting kasi oleh-oleh deh daripada ga sama sekali.

IMG_1517.jpg
Volendam is a popular tourist attraction in the Netherlands, well known for its old fishing boats and the traditional clothing still worn by some residents. The women’s costume of Volendam is one of the most recognizable of the Dutch traditional costumes, and it is often featured on tourist postcards and posters and visitors can have their pictures taken in traditional Dutch costumes

Dan tentunya saya tidak melewatkan untuk berfoto dengan baju tradisional khas Belanda (klederdracht). Foto studio disini wajib hukumnya sebagai tanda kamu sudah pernah mampir disini. Saat itu saya masuk sendirian, dan ketemu sama teman Brotherhood ‘Wakanda Forever’ satu grup travel. Sebutlah namanya dengan Jason seorang pemuda yang masi sangat muda, jago berbahasa Inggris karena dia tinggal di Amerika, dan sedikit cadel berbahasa Indonesia.

Saat itu dia bersama mama nya juga sedang antri menunggu untuk dipanggil berfoto. Dan akhirnya tibalah saat Jason dan mama nya untuk berfoto. Mereka berdua terlihat mengagumkan saat mengenakan baju tradisional khas Belanda tersebut. Cocok sekali, semacam foto keluarga Belanda-Asia Oriental dimana Jason yang perawakan nya tinggi besar dan berotot seperti sapi jantan kelebihan hormon, bisa membuat sapi-sapi betina lokal berteriak histeris “Moooo… Moooo… Mooo…” sejenis “Kya Kya Kya..” dalam bahasa sapi. Sementara mamanya yang awet muda terlihat seperti cicik-nya yang berasal dari negeri dongeng.

Berbeda dengan saya saat memakai baju ini. Saya malah terlihat seperti Mario Bross berpipi tebal. Ekspresi Jason dan mama nya ketika pertama kali melihat saya memakai pakaian ini adalah ngakak ga abis-abis.

“Ya, ampun Steve lucu deh. Kaya anak kecil. Hahaha!” ujar mami Jason dengan tawa aneh yang  seakan senang melihat orang terhina.

Saya pun cuma bisa tersenyum pasrah. Di satu sisi saya merasa senang diomongin seperti anak kecil, itu berarti saya awet muda kan? Disisi lainnya saya merasa seperti bocah tua ingusan. Padahal kan… memang iya sih.

IMG_6371
Pakaian Belanda yang membuat saya lebih terlihat seperti Mario Bross
IMG_1489
Salah satu kedai Food Corner yang menjual Fish and Chips, Dutch herring, dan Poffertjes di Volendam

Selagi menunggu hasil photo studio-nya jadi, saya sempat mondar-mandir melihat pemandangan pelabuhan dan keluar masuk toko di sepanjang jalan. Saya pun berhenti di salah satu cafe, mencicipi pancake khas Belanda yang bernama Poffertjes. Pancake mungil yang disajikan fresh from the oven dengan taburan gula halus, syrup mapple dan mentega. Yummy! enak banget saat melt di mulut, lumernya pas bila disantap dengan kopi.

Terdapat berbagai macam pilihan topping, chocolate, syrup strawberry, ataupun ice cream. Namun, topping yang wajib kamu coba disini justru yang plain. Karena kamu jadi bisa merasakan rasa asli lembutnya pancake polos, sederhana tapi mematikan. Dari bentuknya, Poffertjes ini sekilas mirip kue cubit. Mungkin hasil kawin silang dengan Dutch Cinnamon Cake.

IMG_1515.JPG

Selagi makan berdiri sambil nyantai ngelihat orang berlalu lalang, saya ketemu dengan pasangan honeymoon dalam satu group tour kami yang tergopoh-gopoh berjalan cepat. Memang harus diakui resiko ikut tour adalah waktu yang ada disuatu tempat sangat terbatas, kadang kita terbentur dengan banyak keinginan namun harus strict to itinerary. Belum nyoba makan ini, belum sempet shopping ini, eh dah harus balik ke bus. Kemudian perlahan Pau dan Ming, menghampiri saya yang sedang ngemil sendirian.

“Eh cobain gih, pancake khas Belanda. Kalo dah kesini harus nyicip ini” sapa basa basi saya menawarkan makanan untuk dijamah.

“Hmmm.. engga deh Steve thanks. Eh ga papa ding.”

Mungkin ini yang namanya terburu-buru tapi mau. Pau lalu ngambil satu pancake dengan cepat buat dicicip, sempat ragu lalu dia berkata

“Hmmm.. enak, gilaaa…. aduh pingin beli. Eh, tapi… udah lah tar aja.. hahaha”.

Akhirnya Pau dan Ming pun pergi lagi dengan bergegas seperti ada sesuatu yang belum mereka lakukan. Saya pun akhirnya ikut ngabisin pancake ini dengan terburu-buru. Takut ga enak sama teman-teman satu bus kalo terlalu lama telat ngumpul. Ngaret to the max.

IMG_1582.jpg
Just an old man and his best friend
IMG_1574 copy.jpg
See clogs being handcrafted at the Clog Workshop

Setelah itu kami diajak menuju Zaanse Schans. Sebuah desa kecil dimana terdapat deretan kincir angin yang bukan cuma hiasan tapi masih berfungsi untuk irigasi persawahan. Koleksi kincir angin bersejarah yang terawat baik sejak abad ke-18. Hal pertama yang kami lakukan saat tiba disini adalah masuk ke toko Clogs, sebutan untuk sendal bakiak warisan budaya Belanda di masa lalu, selain bunga tulip dan kincir angin tentunya. Disini kami menyaksikan presentasi pembuatan sendal kayu dengan mesin modern.

IMG_1577
We took our time visiting crafts shops like the clog workshop and cheese shop. There were clogs-making demonstrations, which were really nice to see. The shop boasts the largest selection of clogs in all colors and sizes. Clogs become another dutch icon after tulips flower and windmills

Clogs biasanya dikenakan oleh petani dan tukang kebun. Bentuknya pas untuk berjalan di atas rawa dan tanah berlumpur. Clogs ini udah kaya Adidas ultraboost buat mereka. Clogs bahkan disertifikasi oleh Uni Eropa sebagai sepatu pengaman yang bisa menahan benda tajam dan kadar asam pekat.

Menurut legenda, pada abad ke 9, Clogs menjadi bagian tradisi para pria untuk melamar calon pengantin. Sebelum melamar, biasanya mempelai pria mendesign dan membuat clogs sebagai lambang cinta mereka. Dengan sepasang sepatu kayu dibayar tunai, SAH! Hemat nan romantis. Ga perlu cincin kawin buat nikah. Cukup dengan sepatu kayu unyuu. Aaahhh, indahnya hidup di masa lalu.

IMG_1649.jpg
Built around the windmills are traditional style Dutch houses and small farms. Simple life!
IMG_1675
It feels like me in the Harvest Moon game.
On our day trip, we toured the Disney looking village of Volendam, the windmills in Zaanse Schans, visited a Dutch shoe maker and stopped at Amsterdam city central
IMG_6339
Built around the windmills are traditional style Dutch houses and small farms, complete with sheep, goats, and chickens

IMG_6379

IMG_1651
When the sun goes down …
Holland’s country side was charming and picturesque

Setelah puas berjalan-jalan, foto-foto dan membeli cemilan, kamipun kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan ke pusat kota Amsterdam. Di dalam bus, terjadi perbincangan yang membuat kami tak henti tertawa. Bahan perbincangan itu adalah kosa kata kinciran. Salah satu anggota tur kami, sebutlah dia dengan Asuk. Sebuah panggilan kepada orang yang lebih tua atau disebut paman, baik itu paman kandung ataupun ga kandung. Dalam adat Tionghoa tujuan nya biar sok akrab.

Asuk ini memiliki perawakan tubuh gempal, berkacamata, bersuara keras menggelegar dengan nada yang bisa membuat orang keder dan terintimidasi. Sosok asuk ini terlihat seperti bos mafia Hongkong! Asuk ini berangkat bersama istri nya yang super cantik dan ketiga orang anaknya yang lucu lucu.

Dari cara berpakaian dan cara bicaranya terlihat jelas bahwa asuk ini bukan orang sembarangan. Terutama kalo dilihat dari barang belanjaan nya, tas tas branded ratusan juta rupiah dia beli dengan easy going. Asuk Mevvah yang sungguh SWAG. Asuk ini menyampaikan complain dengan nada candaan kepada Koh Hendry, Tour leader kami.

“Aaahhh Hen, daripada lo ajak kita ngeliat KINCIRAN doang, mending lo ajak kita shopping di outlet.”

Dalam hati saya bergumam, “Asuk ini garing sekali, kalo ke Belanda harus liat kincir angin la suk, kinciran bukan kunciran. Kasihani saya yang cuma bisa liat barang branded kalo pergi ke outlet”.

Di dalam bus pun muncul gelak tawa, gara-gara saya dan asuk ini sering ledek ledekan. Diawali oleh Asuk ini sering menghina halus dengan berbagai macam pertanyaan seperti:

“Steve, lo sendirian ikut tour Europe tujuan nya ape? cari jodoh lo?” dengan logat Jakarta nya yang kental.

Belum pulih dari pertanyaan menusuk tadi. Saya pun kadang membalas dengan pertanyaan halus seperti:

“Suk, rahasianya apa si punya istri secantik Aiiie (Tante). Heran lo, Asuk kan muka nya boleh dibilang yaaaa.. cakep engga, jelek engga. Bagi tips dong suk?”

Sontak satu bus pada ketawa, dan saling melempar komentar. Banyak komentar lucu di bus, yang membuat suasana makin rame ga karuan. Tapi memang harus diakui, istri dari asuk ini cantik dan hot mom banget, terlihat begitu awet muda dan kinclong layaknya aktris mandarin bernama Gong Li.

Selain itu, asuk ini juga sangat dermawan. Saya pernah dibeliin Beer satu krat buat minum di Bus. Hal inilah yang membuat saya makin kagum padanya. Walaupun saya ga tau apakah maksudnya benar-benar baik, atau sengaja ingin membuat saya mabok.

IMG_1601

Setelah cape ketawa, suasana di bus pun kembali tenang saat tour leader kami, koh Hendry menceritakan tentang Anne Frank Museum. Sebuah rumah dimana Anne dan keluarganya hidup dalam persembunyian dari kejamnya Nazi pada masa Perang Dunia ke 2. Dengan sendu, Koh Hendry berdongeng dengan background lagu mellow untuk mendukung daya dobrak cerita nya. 

Anne Frank adalah seorang gadis kecil yang kebetulan lahir sebagai orang Yahudi, hanya karena kebangsaannya ini, dia dan keluarganya di Jerman harus bersembunyi dari kekejaman Nazi Adolf Hitler yang ingin membantai semua orang Yahudi. Bersama tujuh anggota keluarga lainnya, Anne bersembunyi di panti asuhan di Prinsengracht 263 di Amsterdam.

Setelah lebih dari dua tahun bersembunyi mereka akhirnya ditemukan dan dideportasi ke kamp konsentrasi oleh Nazi. Penyelidikan intensif pernah dilakukan dalam sejarah, namun tidak jelas bagaimana tempat persembunyian Anne bisa ditemukan. Ayah Anne, Otto Frank, adalah satu-satunya dari delapan orang yang bisa bertahan hidup. Selama perjalanan panjang kembali ke Belanda, dia mengetahui bahwa istrinya telah meninggal. Dia tidak tahu apa-apa tentang keberadaan 2 anak perempuannya termasuk Anne.

Saat itu Otto masih berharap bisa bertemu lagi dengan mereka. Sempat mencari Anne kemana-mana, Otto akhirnya menerima kabar bahwa Anne telah meninggal karena sakit akibat kekurangan gizi. Setelah kematiannya, Anne menjadi terkenal karena buku diary yang dia tulis selama masa persembunyiannya yang penuh penderitaan.

I can shake off everything as I write, my sorrows dissappear, my courage is reborn, tulis Anne dalam diary-nya. Kata-katanya yang memiliki makna dalam dan menyentuh hati mampu menginspirasi seluruh dunia. Berikut beberapa goresan tangan brilliant yang ada dalam diary Anne Frank:

No one has ever become poor by giving.

I keep my ideals, because in spite of everything I still believe that people are really good at heart.

How wonderful it is that nobody need wait a single moment before starting to improve the world.

Think of all the beauty still left around you and be happy.

Whoever is happy will make others happy too.

Parents can only give good advice or put them on the right paths, but the final forming of a person’s character lies in their own hands.

I don’t think of all the misery, but of all the beauty that still remains.

We all live with the objective of being happy; our lives are all different and yet the same.

Laziness may appear attractive, but work gives satisfaction.

Whoever doesn’t know it must learn and find by experience that ‘a quiet conscience makes one strong!’

– Anne Frank

Entah karena kami terbawa cerita atau kami memang sudah sedikit lelah dan ngantuk, suara dongengan Koh Hendry menjadi pengantar bobo yang sempurna. Diiringi dengan lagu lawas seperti imagine nya The Beatles, Dust in the wind, The sound of silence, dan Tears in Heaven membuat saya menikmati sore itu sembari sesekali menatap keluar pemandangan dibalik kaca bus, begitu sendu.

IMG_1711.jpg
The red light district De Wallen is a major tourist attraction in Amsterdam
There is a number of sex shops, sex theaters, peep shows, and a number of coffee shops that sell marijuana. “Unlucky” for us, we can’t see much “love” because that day they’re still in Christmas holiday

Tak terasa langit sudah gelap, akhirnya kami tiba kembali di pusat kota Amsterdam. Kami diajak oleh Tour Leader untuk berbagi 2 kelompok dan bertemu kembali di titik yang ditentukan. Kelompok pertama terdiri dari ibu-ibu yang doyan shopping, bebas mau nge-mall atau ngafe cantik ala Syahrini. Kelompok kedua terdiri dari para pria termasuk Koh Hendry sendiri, bersama-sama mengunjungi atau tepatnya ‘melewati’ area yang terkenal mesum di Amsterdam, tidak lain tidak bukan adalah Red Light District.

Tempat ini dinamakan Red Light District karena lampu remang-remangnya yang berwarna merah. Lampu merah yang menjadi penanda area prostitusi di Eropa sejak abad ke-19. Ada sejumlah sex shop, gay club, bioskop film bokep, pertunjukkan striptease, museum seks, dan kedai kopi yang menjual ganja. Gila kan! Kamu bisa menemukan segala jenis dosa duniawi disini.

Tidak cuma legal, prostitusi dan drugs sudah menjadi industri di Amsterdam. Industri yang menarik banyak turis penasaran seperti kami ataupun yang niat ‘jajan’ beneran. Sebelum tiba disini tour leader sempat mengingatkan untuk tidak sembarangan mengambil foto wanita yang dipajang di jendela etalase rumah bordil. Banyak kejadian dimana turis asik fotoin mereka, lalu kamera nya dibuang ke sungai oleh mucikari ala satpam segede gaban. Sadis! Intinya, kamu boleh lihat tapi ga boleh foto.

Kemiskinan membuat mereka harus melakukan pekerjaan apapun. Red Light District memang dipenuhi oleh imigran kurang mampu dari negara Uni Eropa. Tawaran untuk mendapatkan uang banyak dengan cepat membuat mereka tergiur. Berhubung pada malam itu masih liburan natal, maka banyak ‘cafe bordil’ yang masih tutup. Setelah sempat berputar-putar dalam gelap, akhirnya kami menemukan beberapa rumah bordil yang masih buka. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wanita memakai lingerie berpose merebahkan diri di jendela kaca etalase, seakan menawarkan dirinya untuk disantap. Bener-bener kaya Fashion Store, Pilih – Pakai – Bayar.

Maaf, mungkin malam itu dikarenakan keterbatasan stok musim liburan, saya hanya melihat cewe yang bikin saya geleng-geleng. Perawakannya gede berlemak, dengan perut menggelambir layaknya kuda nil. Cukup membuat saya kenyang hanya dengan melihatnya. Mengenakan Lingerie merah, lipstik merah tebal menyala, dengan tatapan hot dan sesekali menjulurkan lidah keluar layaknya ular piton. Saya pun terheran-heran. Apakah mungkin selera orang Belanda memang yang sehat seperti ini? Kalo jauh-jauh sampe belanda cuma liat ini si, mending di rumah nonton Tsubasa Amami.

IMG_1713
In the Netherlands, coffee shop is not a place to “kongko-kongko” like in Indonesia. It is a weed cafe to try Marijuana Cake. You will be handed a “menu of drugs” selling items such as cakes that contain a dose of legalized cannabis. Doing all these are legal in Amsterdam
I wish i could try it, but i’m just scared becoming stoned and hallucinated after trying small quantity of weed, if i do it all alone. I just need someone to accompany me that day

Malam itu kami juga melewati The Bulldog Cafe Mack. No! there is no Caramel Macchiato in here. Cafe ini menjual berbagai macam “cake fantasy” alias cake yang mengandung marijuana yang berasal dari berbagai macam negara. Saya sebenarnya penasaran pingin nyobain, tapi anggota tour group kami ga da yang tertarik, kesannya saya sendiri yang bejat.

Penasaran aja pingin tau kaya apa rasanya getting high in a coffee shop, nyeruput kopi sambil melayang-layang di dunia fantasy. Saya pun mengurungkan niat untuk nyobain. Takut-nya nanti dah nyoba, malah sakau trus ga inget lagi jalan pulang. Belum lagi bila saya ga sadarkan diri lalu dicopet ditengah jalan. Hmmm.. gadeh. Seandainya ada temen yang nemenin saat itu mungkin bisa saling menjaga.

Tidak semua orang bisa masuk ke cafe ini, di pintu masuk ada satpam yang meminta pelanggan untuk menunjukkan kartu identitas. Ada batasan umur yang tidak boleh dilanggar. Perasaan penasaran saya berawal dari curhatan teman saya yang pernah nyobain nyimeng disalah satu cannabis cafe ini. Sepasang suami istri yang sedang hot-hot nya honeymoon, beramai-ramai bareng temen tur nya. Membeli “space cake” untuk dishare.

Kata mereka efek dari cake ini baru terasa sekitar 30 menit. Untuk orang yang belum pernah nyoba marijuana, konon efek-nya makin liar. Setelah selesai makan, mereka pulang ke hotel dengan membawa 1000 halusinasi. Cekakak cekikik ga karuan, mood-nya pingin ML, tapi ngelepas baju aja ga bisa. Akhirnya, mereka berdua malah tumbang di kasur sambil ngigo dengan pulas.

Sekarang saya mengerti mengapa Red Light District menjadi salah satu alasan mengapa orang mengunjungi Amsterdam. Rasa penasaran akan sebuah bentuk semu kebahagiaan.

IMG_1714.jpg
The Dutch version of French Fries has many different words, Friet, Frites, Patat. They are thicker than the normal French Fries. Dutchies aren’t just about the mayonnaise. The best sauce comes with Patatje Oorlog, a mix of mayo, sate sauce and onions and it translates to war chips. Yum!

Dan jadilah saya malam itu malah nyimeng french fries. French fries versi Belanda lebih tebel dari french fries biasa. Hampir ga jauh beda dengan Belgia punya. Saat disini saya memesan menu french fries Patatje Oorlog. Saus topping best seller yang merupakan campuran dari mayonnaise, satay sauce dan garlic. Cocol lalu kunyah. Rasa kentang yang bercampur dengan mayonnaise dan saus seakan berperang dilidah. Yum! Saya pun melayang-layang keenakan.

Malam itu saya berjalan-jalan sambil nyemil kentang dengan khusyuk. Saya tipe orang yang suka makan sendirian, bukan cuma karena saya jomblo busung lapar. Entah kenapa makanan jadi terasa lebih enak. Mungkin karena saya sudah nyaman dan terbiasa, mungkin juga karena titik fokus hanya dimakanan saja tanpa harus mikir bahan obrolan seperti saat kita sedang bersama orang lain. Fokus menikmati makanan yang diemut just me and my food. Making love forever! Ga ada cinta yang lebih tulus dari cinta sama makanan.

IMG_1724
Amsterdam’s largest and most popular park is a great place to walk, bike, people-watch, or relax, especially after a visit to a local coffee shop or beer. There’s numerous areas for hanging out. I wish i could stay here longer that night
IMG_1733
Dam Square, one of the shopping areas in Amsterdam. You can find almost everything in here. Whether its world-renowned museums, endless shopping, a foodie haven, green space or a crazy nightlife

IMG_6366.JPG

Saya tersenyum saat menulis ini, mencoba mengingat-ingat pengalaman seru yang terjadi. Banyak sekali tempat yang belum kesampaian untuk dikunjungi. Memasuki Van Gogh museum, Rijksmuseum, Anne Frank House, Heineken Experience museum, mengendarai sepeda mengelilingi kota ataupun mencicipi Herring ikan mentah khas Belanda. Mungkin semua itu bisa saya lakukan lain kali.

Namun keseruan saat berjalan-jalan di group tour kali ini benar-benar tak tergantikan. Damainya hati saat berada di bus dengan lagu yang mengalun. Cara tour leader mendongengkan sejarah masa lalu dengan menarik. Canda tawa teman-teman baru yang unik. Menginvestasikan pengalaman seru di memory.

Saya berharap dengan menceritakan ini dapat mengawetkan sejuta kenangan manis. Sehingga, sewaktu-waktu saya membaca lagi tulisan ini, kenangan itu menyeruak kembali. Semacam potret album kesenangan yang tak berdebu dimakan waktu. Kadang oleh-oleh terbaik untuk dibawa pulang bukan berupa barang. So, what is the best thing to bring back home? pretty photos and beautiful memories! 

Friends can be new, friends can be old. All of them are as precious as GOLD – Roo

Advertisements

2 thoughts on “Melayang-layang di negeri “Kinciran”. Terhembus Liarnya Amsterdam, Ademnya Volendam, dan Manisnya Zaanse Schans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s