Melbourne yang bikin keki. Cantiknya musim semi di kota layak huni

Pada satu titik, sebagai manusia kita pasti akan mengalami titik jenuh. Titik dimana kita bosan dengan rutinitas sehari-hari. Dan disaat seperti itulah kita butuh traveling. Namun dikala menulis ini saya teringat dengan kata teman saya yang ga bisa jalan-jalan dengan alibi ga punya duit. Menurut saya sih bukannya dia ga punya duit, tapi dianya aja yang ga mau ngeluarin duit untuk sesuatu yang ga kelihatan bentuknya, sesuatu yang katanya hanya untuk kesenangan sesaat, sesuatu yang dia pikir cuma buat gaya-gayaan doang?

Tentu saja tiap orang memiliki prioritas dan pandangan yang berbeda. Ada yang prioritas nya pingin investasi dulu, ada yang ga rela duitnya ilang gitu aja buat sesuatu yang menurutnya cuma foya-foya alias hedonisme, ada yang lebih suka menghabiskan koceknya untuk barang yang terlihat seperti gadget, fashion, electronics, mobil, perlengkapan rumah dan sebagainya. Tidak ada yang salah dari pilihan itu, bebas cuyyyy! semua orang berhak hidup dengan cara mereka masing masing, toh itu duit duit nya sendiri, hasil jerih payah sendiri.

“Everyone has his or her own way of learning things. His way isn’t the same as mine, nor mine as his. But we’re both in search of our Personal Legends” – Paulo Coelho, The Alchemist

Sesuatu yang menurut dia cuma foya-foya, menurut saya merupakan investasi kenangan di masa tua. Sesuatu yang menurut dia kesenangan sesaat, menurut saya kesenangannya membekas di hati selamanya. Sesuatu yang menurut dia gaya-gayaan doang, menurut saya kapan lagi mau gaya kalo ga sekarang? Mau nunggu sampe keriput dulu baru mau gaya? Terkadang kita lupa bahwa kehidupan kita itu begitu pendek. Kita tidak tau kapan hidup kita akan berakhir.

Kita bahkan tidak akan pernah lebih muda dari hari ini. Masa muda hilang begitu cepat seperti tertiup angin. Jika kamu ditanya oleh grim reaper apa saja yang sudah kamu lakukan semasa hidup? kamu bisa bercerita tentang semua hal seru yang pernah kamu lakukan saat traveling (lol! tampaknya saya terpengaruh film Along with the Gods). Atau saat di surga alam baka hidup kita di-review, Ngapain aja loe semasa idup? makan kerja tidur. Ga asyik banget kan! Kita semua bebas untuk jalan-jalan sesuai dengan apa yang kita mau. Ga peduli apa kata orang.

“You are responsible for what you say and do. You are not responsible for whether or not people freak out about it.” – Jen Sincero, You are a Badass!

Nah itulah mengapa, saya tetap jalan-jalan sesekali, tapi tidak bodoh dan frontal menghabiskan duit yang saya punya. Saya mengakali nya dengan berjuang mencari uang lebih banyak, menghemat biaya hidup selama di rumah dan menghabiskan nya dengan efisien saat berjalan-jalan. Walaupun terkadang, tidak terlalu efisien juga. Banyak hal yang bisa bikin kita lupa diri saat traveling. Disinilah mengapa muncul berbagai pengelompokan soal gaya kita traveling.

  • The Backpacker, umumnya bepergian untuk jangka waktu yang lebih lama daripada kebanyakan turis lain, bisa seminggu bisa 50 tahun (ngalahin bang toyib yang ga pulang pulang). Mereka cenderung bepergian di beberapa negara berbeda dengan menggunakan tas backpack di punggung selama traveling, identik dengan wisata alam hiking dan naik gunung
  • The Flashpacker, traveler yang melakukan perjalanan dengan seimbang. Tahu kapan harus berhemat tahu kapan harus bersenang-senang. Bisa tinggal di hostel maupun hotel tergantung sikon, membawa gadget mewah, cenderung sedikit lebih “matang”, memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan, dan sesekali makan Indomie di Hostel
  • The Groupist, traveler yang ga bisa sendiri, maunya rame-rame, termasuk ke WC. Kalo temennya ga jadi ikut, dia juga batal pergi walaupun tiket penerbangannya sudah dibeli
  • Luxury Traveler, traveler mevvah sekelas cucu konglomerat, makan di restoran kelas satu, naik penerbangan kelas satu, belanja tas Hermes kaya belanja kacang goreng, minumannya Hennesy tiap hari. Kalo pergi bareng temen, nraktirnya ga tanggung tanggung, satu restoran ikut dibayarin
  • Fashionista Traveler, traveler dengan kostum selangit, biasanya tas nya yang paling berat, isinya berbagai macam jenis pakaian untuk dikenakan saat berfoto, ganti baju bisa 7 kali dalam sehari. Full make up, suka nya cekrak cekrik tiap moment dan minta orang suruh potoin setiap saat, tapi kalo disuruh motoin balik hasilnya ngeblur. Naik gunung pake sepatu high heels, abis foto ga fokus jalan, liat hape sambil upload poto narsis di Instagram
  • The Complaining Traveler, traveler yang ga pernah berhenti mengeluh, dikit dikit ngeluh, naik tangga dikit ngeluh, jalan dikit ngeluh, ga bisa cebok ngeluh, nyasar dikit nyalahin Google maps, sungguh jangan pergi dengan tipe teman traveler seperti ini. Deritanya di batin tiada akhir
  • The Poor Traveler, kastanya dibawah budget traveler, miskin tapi ga miskin-miskin amat, cuma rada pelit dan sering jatuh sakit, namun masih bisa membiayai perjalanannya sendiri
  • The Kere Bule, bule kere ngemis di pinggir jalan karena keabisan duit ga bisa balik kampung
  • Wewe Gembel, traveler yang ga pernah mandi, kolor dibolak balik side a side b

Termasuk yang manakah kamu? atau mungkin kamu pernah traveling bareng dengan salah satu teman yang bertipe seperti traveler diatas? Itu semua pengelompokan tentang bagaimana gaya kita berjalan-jalan. Tapi intinya ga peduli gayanya apa yang penting adalah bagaimana kita menikmati proses perjalanan, merasakan kebahagiaan saat tiba ditempat tujuan, dan pulang dengan sejuta kenangan berharga.

LRG_DSC01490
The sky made for a day of lovely photos. Beautiful cathedral right in the heart of Melbourne. The Gothic architecture and the sophisticated european style building around the St. Paul Cathedral. How small we are in this big big world

“If you want to live a life you’ve never lived, you have to do things you’ve never done.” -Jen Sincero

Benar kata temen saya, traveling itu bikin ketagihan. Semakin kamu sering jalan jalan, semakin kamu ga mau berhenti. Malah makin kepingin pergi ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Semacam penyakit yang ga ada obatnya. Sama halnya dengan keberangkatan saya ke Melbourne. Saya mulai berpikir bagaimana caranya sehabis ini tetap bisa traveling ke London dan sekitaran Eropa tetapi juga bisa KPR – mencicil ruko di 10 tahun mendatang. Tidak ada cara lain selain memperbesar income penghasilan. Dengan begitu saya tidak perlu mengorbankan salah satu diantara traveling atau kebutuhan masa depan lainnya. Namun ini yang dinamakan konflik mid-life crisis, Apalagi kalo sudah punya anak dan istri nanti, mungkin fleksibilitas dan budget akan semakin menjadi permasalahan apakah saya tetap bisa traveling atau tidak. Cara yang masih saya belum tahu bagaimana dan masih terus diperjuangkan dikala menulis blog ini.

What’s Melbourne weather like in September?

Kepergian saya ke Australia terjadi di bulan September 2017, dimana Austalia saat itu sedang berada di peralihan musim dingin ke musim semi. Musim semi di Australia berlangsung singkat dari bulan September sampai November, cuaca saat itu berkisar antara 7-16 derajat Celcius. Sangat pas buat berjalan-jalan tanpa harus kepanasan ataupun kedinginan. Spring all the way! Namun Melbourne memiliki cuaca yang aneh di musim semi, cuacanya bisa berubah-ubah dengan cepat. Kalo pagi bisa dingin banget terkadang hujan gerimis. Terus tiba-tiba temperature udara naik, panas terik di siang hari, terkadang sampai melepas hoodie yang saya kenakan. Sehabis terik trus bisa mendung seketika, sorenya balik dingin lagi, hembusan angin dinginnya war wer war wer Brrrrrr… Disaat seperti ini kamu membutuhkan “tolak angin pancen oyeee… ” (bukan promo berbayar, walaupun pinginnya si dibayar).

Itulah mengapa kamu perlu ngecek ramalan cuaca di iPhone sebelum pergi kemana-mana, biar outfit of the day mu sesuai dan kamu bisa berjalan-jalan dengan nyaman. Tidak seperti di negara kita yang tropis, setiap hari adalah summer abadi. Kamu hanya perlu memeriksa apakah hari ini hujan atau tidak? cuci mobil aaahhhh… eh mendadak ujan.

LRG_DSC01833

Keberangkatan saya tepat pada tengah malam dengan penerbangan langsung dari Jakarta ke Melbourne. Saya mengambil waktu penerbangan ini agar bisa tidur nyenyak di pesawat, dengan harapan keesokan harinya pas bangun sudah langsung ada di Melbourne, wuiiih… cepet ya ga kerasa (6 jam 35 menit waktu tempuh yang dibutuhkan dari Jakarta ke Melbourne). Saya berangkat dengan Garuda Airlines hasil dari berburu tiket murah di Garuda Online Travel Fair beberapa bulan sebelumnya. Tiket murah yang menjadi surga buat saya yang biasanya selalu berangkat dengan low-cost airlines.

Ternyata kalo lagi promo, pesawat Garuda bisa lebih murah dibandingkan dengan tiket pesawat Air Asia. Dengan segala fasilitas dan pelayanan istimewa Garuda, kamu ga bakal rugi bila mendapatkan tiket promo semacam ini. Kursi pesawat yang empuk dengan space kaki yang lebar, membuat pantat dan kakimu bebas keram. Ditambah dengan kursi yang bisa menyenderkan badan sampai belakang, lengkap dengan selimut dan bantal kepala sukses bikin saya bisa pules tidur selonjoran.

Selain itu terdapat layar TV touch screen di depan tempat duduk, dimana saya bisa menyaksikan berbagai macam film ter-update kaya Spiderman Homecoming, ataupun sekedar mendengarkan musik dengan earphone yang sudah tersedia. Enaknya terbang dengan maskapai premium adalah kita sudah dapet makan,  breakfast nya lengkap lagi. Ada croissant, nasi daging sapi, ada pilihan dengan daging ayam juga, buah buahan, yogurt, jus jeruk. Bikin wareg dan waras!

Disaat senggang, pramugari dengan sigap menawarkan, “mau beer, red wine apa white wine pak?”

“Hmmm, white wine deh mbak” jawab saya sambil berusaha menyembunyikan rasa sakit dipanggil dengan sebutan bapak.

Saya pun bebas nambah minuman beralkohol tersebut tanpa tambahan biaya apapun.

“Eh, ini bener ga papa boleh nambah lagi mbak?” tanya saya dengan nada sedikit ragu ke pramugari tadi.

“Iya, ga papa kok pak.” Lalu dengan senyuman dia menyodorkan lagi 1 kaleng beer Heineken untuk saya minum. Perasaan saya saat itu diantara senang bisa mimik beer lagi dan pilu dipanggil bapak untuk kedua kalinya.

Sungguh indah kawan! Fasilitas kaya gini yang membuat tiket Garuda promo benar-benar worth it! Jadi jangan ragu berburu tiket promo yah. Dibandingkan jika kamu naik low cost airlines dengan biaya tetek bengek yang tersembunyi dengan rapi. Belum biaya asuransi lah, belum include bagasi lah, yang ternyata harga bagasi nya mehong abis, belum termasuk biaya makan pula. Biaya tambahan yang tidak muncul di permukaan, jadi kalau bener-bener mau membandingkan harga antar maskapai penerbangan International, pastikan kamu mengecek info yang tersedia soal semua total biaya tambahan sebelum kamu memencet tombol akhir booking. Berbeda dengan pesawat Garuda yang sudah mencakup semuanya di permukaan, tinggal klik. Kita bisa sampai ke tujuan dengan lega bahagia dan tanpa penyesalan.

Tips

Saya merekomendasikan kamu untuk booking pesawat macam Garuda jika perbandingan harga dengan pesawat low cost lainnya tidak berbeda jauh, dari segi fasilitas dan kenyamanan, selisih uangnya bener-bener worth it. Tapi jika sedang tidak promo, dan ternyata harganya 2 kali dari harga low cost airlines, barulah mending kamu booking tiket pesawat low cost airlines semacam Air Asia dan sejenisnya.

IMG_4955
Happiness is looking straight at your next destination’s sunrise from a plane window

Akhirnya saya mendarat di Melbourne pukul delapan pagi. Keluar dari gerbang kedatangan bandara Tullamarine Airport, saya langsung menuju ke counter yang menjual tiket skybus yang berada sebelum pintu keluar bandara. Berbekal browsing dari rumah, saya sudah mengerti apa saja yang harus dilakukan saat tiba disini.

Terletak 19 kilometer dari barat laut distrik bisnis utama Melbourne, ada sejumlah pilihan transportasi untuk sampai ke pusat kota. Nah pertanyaan yang paling umum ditanyakan sebagai turis yang baru tiba disini adalah…

Transportasi publik apa yang paling efektif dari Bandara menuju ke pusat kota Melbourne?

Saat ini tidak ada kereta langsung atau jalur trem antara Bandara Tullamarine dengan pusat kota Melbourne. SkyBus adalah cara tercepat dan termudah untuk melakukan perjalanan antar bandara dan kota. Skybus merupakan layanan bus express antar-jemput yang beroperasi selama 24 jam 7 hari dari bandara menuju ke Southern Cross Station, di pusat kota Spencer Street, Central Business District. Perjalanan dengan SkyBus menuju pusat kota memakan waktu sekitar 20-30 menit, tergantung traffic. biaya one-way ticket nya 18 Australian Dollarsekitar 190 ribu Rupiah.

Shuttle Bus ini berangkat setiap 10-20 menit, jadi kamu ga perlu khawatir akan kelewatan bus, begitu lewat 10 menit lagi akan datang bus lainnya. Tiket berlaku selama 3 bulan sejak tanggal pembelian. Kartu transportasi Myki card tidak bisa kamu gunakan disini. Tiket Skybus dapat dibeli di stand ticket di T1 dan T3, atau membeli secara langsung ke bus driver dengan menggunakan Kartu Kredit. Asyiknya lagi di bus ini ada fasilitas wifi on board, jadi kamu bisa update dan memberi kabar kepada keluarga dirumah sambil nyantai di bus. “Mah, Otong dah sampe di Aussie nih!”

Transportasi paling murah menuju ke pusat kota Melbourne?

Cara paling murah adalah dengan naik kereta cuma 7 AUD atau 74 ribu Rupiah. Murah tapi seloowwwww, waktu tempuh nya sekitar 70-90 menit. Karena kamu harus berpindah-pindah dari bus ke stasiun kereta yang berada diluar bandara. Sebelum keluar dari bandara, kamu harus pergi ke terminal Skybus dan beli Kartu Myki di counter yang berada tepat disebelah skybus counter. Setelah itu kamu bisa keluar dari terminal dan berjalan lurus di jalan utama, belok kiri dan berjalan ke ujung peron di Terminal 1. Kemudian naik bus nomor 901 (Bus dengan tulisan “Frankston”) menuju ke Broadmeadows Station. Setelah sampai di Broadmeadows Station, beralihlah menggunakan kereta api dari Broadmeadows station menuju ke Melbourne Central station. Sampe deh ke pusat kota!

screen-shot-2018-04-02-at-14-41-35.png

Transport options

Pilihan transportasi yang bisa kamu pilih dari Bandara Melbourne menuju ke pusat kota. Disertai dengan harga dan link dari website resminya:

IMG_5013
The trees are beautifully lined behind that tall colonial building

Pepohonan yang berderet cantik di sepanjang trotoar menyambut kedatangan saya di kota Melbourne. Saat itu saya terkesima dengan jalanannya luas dan lengang, gedung-gedung pencakar langit dengan desain colonial yang berkarakter, udara musim semi yang sepoi-sepoi, nyessss… nyaman banget! Dengan suasana seperti ini mana ada yang ga suka berjalan kaki? mana ada orang males beralih dari kendaraan pribadi naik ke angkutan umum? sungguh nikmat menjadi pejalan kaki di kota ini. Pergi kemana-mana tinggal ke stasiun kereta terdekat atau naik bus dan tram dengan rute dan jam yang pasti, udaranya bersih bebas asap knalpot, bebas sampah, bebas dari rasa takut dicopet, menyebrang jalan dengan aman dan teratur mengikuti zebra cross dengan tanda lampu merah khusus pejalan kaki. Dan yang pasti terbebas dari polusi suara geberan knalpot motor yang memekakkan telinga, rrrrreengggg rrrrrrengggg….

Selagi menyeret tas koper, dibenak saya muncul rasa iri. Suasana ini bikin saya keki. Melbourne jadi gambaran sempurna bagaimana seharusnya sebuah kota tertata. Dan yang sungguh bikin pejalan kaki jadi seperti raja disini adalah suasana nya yang ga tau kenapa terasa lengang dan tenang. Mungkin karena populasi nya yang tidak terlalu besar berkisar 4 juta penduduk jika dibandingkan dengan Jakarta yang berjumlah 10 juta. Stop! saya ga boleh membandingkan ini dengan negara kita yang masih berkembang. Namun tak ada salahnya kita bermimpi. Mungkin suatu hari nanti, rumput negara kita bisa sama hijaunya dengan negara tetangga (asal orang-orang yang tulus mau memajukan bangsa ini seperti Ahok, tidak “di-bully”)

LRG_DSC01312
What a beautiful day to explore the city!
IMG_5034
Space Hotel = Hotel luar angkasa. Where’s the alien?

Kemudian setelah tiba di pusat kota, saya langsung menuju ke Hotel tempat saya menginap. Karena belum waktunya untuk check-in, saya menitipkan bagasi koper terlebih dahulu agar bebas berjalan-jalan tanpa barang bawaan yang berat, cukup berduaan dengan tas punggung dan mirrorless kamera saya. Travel light! Tempat penitipannya pun aman, saya dikasi nomer penitipan bagasi yang juga dicantolkan ke tas koper saya, kemudian dimasukkan ke ruangan khusus koper yang dikunci oleh receptionist. Jadi ga mungkin hilang ataupun ketuker dengan koper tamu hotel lainnya. Mungkin kalo saya bawa pacar, pacar saya juga akan saya titipkan di bagasi hotel ini *eh *dibakarcalonmertua. Untungnya saya ga punya pacar. *menangisdipojokan

Saya menginap di Space Hotel, guesthouse dengan rasa hotel. Lokasinya terletak di jantung kota Melbourne Victoria, dekat dengan berbagai macam tourist attraction seperti Princess Theatre yang berjarak hanya 0,6 km, Regent Theatre berjarak 1 km, dan St. Paul Cathedral berjarak 1,1 km. Jadi cepat dan mudah buat kamu pergi kemana-mana. Hotel ini juga memiliki harga yang bersaing, untuk 1 malam di mixed dormitory room, saya membayar Rp330,000.  Dibilang murah engga, dibilang mahal engga, sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Hotel ini menawarkan berbagai pilihan kamar untuk ukuran besar maupun kecil, privat maupun dorm sharingReceptionist nya buka 24 jam dan fasilitas nya ok punya. Ada dapur sharing modern, ruangan nyantai untuk nonton film rame-rame, cafe internet lengkap dengan Mac yang bisa kamu pakai secara gratis, tempat fitness, dan yang paling mencolok adalah rooftop-nya dimana kamu bisa berendam di bak permandian air panas ala ala Jacuzzi.

85197335.jpg
Picture Courtesy by Space Hotel

Kamarnya didesain modern dan dilengkapi kasur bunk bed (tempat tidur susun) yang empuk dengan ruangan yang luas dan langit langit yang tinggi. Kamar mandinya pun ada banyak, sekitar 5 kamar mandi di tiap lantai. Jadi kita ga harus berebut untuk beser duluan. Yang paling berkesan dari hotel ini menurut saya kebersihan dan balcony nya yang cantik abis! Terdapat 2 Balcony dilantai paling atas dan didepan ruang makan hotel. Kamu bisa melihat panorama gedung-gedung kota dari ketinggian sambil nyeruput kopi panas saat breakfast. Sluurrpppp… aaah! Yang minus dari hotel ini adalah WiFi nya lambat banget! kalo mau yang cepet kamu harus bayar. Keselnya lagi WiFi gratis cuma bisa diakses dilantai bawah area lobby dan cafe internet.

Tentu dibalik suka selalu ada duka. Tinggal di dorm seperti ini, mau ga mau kita harus bertenggang rasa dan menjaga suara tetap tenang saat berada di kamar dengan tamu hotel lainnya. Selain itu kamu hanya bisa berharap agar stay dengan teman sekamar yang ga “berbau”. Apes kalo ketemu temen sekamar yang bau ketek dan kaki nya ga dikondisikan. Keselnya minta ampun, karena saya bingung mau negornya gimana. Saya tidak ingin memulai perang dunia dengan bule!

Duka tinggal di hostel ga cuma bau, terutama saat kita lagi butuh tidur nyenyak setelah seharian cape berpetualang. Terkadang muncul orokan bayi tua disekeliling kita, bunyi ranjang susun yang berdenyit nyit nyit nyit! seakan mau patah menimpa kita yang tidur dibawahnya. Suara jegrek pintu kamar saat orang keluar masuk, grusak grusuk nya orang yang lagi packing pagi pagi menjelang check out dari hotel, bikin saya terbangun dan sulit merem lagi. Duka yang harus saya terima demi menghemat biaya perjalanan. Tentunya jangan dilihat dari sisi dukanya aja, sisi sukanya juga banyak kok, mengenal teman baru yang asyik, cantik dan sexy bisa jadi keberuntungan tersendiri.

IMG_5971
Panorama from Space Hotel’s balcony

Space Hotel

  • 380 Russell St, Melbourne VIC 3000, Australia
  • Contact: +61 3 9662 3888
  • Direction: 6 menit berjalan kaki dari stasiun kereta api Central Melbourne.
  • Space Hotel Google Maps Location

So here i am, in the most liveable city on earth! Economist Intelligence Unit memberi penghargaan kepada Melbourne sebagai kota layak huni terbaik di dunia 7 tahun berturut-turut. Kinerja kota diukur berdasarkan sejumlah indikator, diantaranya stabilitas (ekonomi dan politik), perawatan kesehatan, pendidikan, budaya, lingkungan dan infrastruktur. Melbourne win it all!

Beberapa tourist attraction di Melbourne mulai dari Carlton Gardens yang terdaftar sebagai warisan dunia yang menakjubkan di UNESCO, Flinders Street Station, Shrine of remembranceFederation Square yang megah, State library of Victoria, dan Hosier lane semuanya dapat diakses secara gratis! The best things in life are free!

lrg_dsc01319.jpeg
Spring is in the air. When the flower blooms and so will i
LRG_DSC01316.jpg
Musical performance inside the college near my hostel. I love to see random performance while walking in this beautiful city
LRG_DSC01371.JPEG
State library of Victoria. It is not just a grandeur old library but also a museum with a lot to see inside and totally free. The State Library’s collections include over two million books, hundreds of thousands of pictures, newspapers, maps and manuscripts, and masses of audio, video and digital material – all reflecting the culture of Victoria over the past 150 years.

Selesai menaruh koper, eksplorasi saya mengelilingi kota layak huni nomer satu di dunia ini pun dimulai. Di hari pertama, saya berencana hanya ingin mengitari kota dengan santai, berjalan bebas tak tentu arah menikmati suasana sembari mengabadikan moment unik layaknya turis di film AADC 2. Walaupun saya ga se-cool rangga, bersantai seperti ini cukup bikin hati damai dan berbunga-bunga. Cinta dimana kamu berada?

LRG_DSC01380
Even the birds didn’t shy to beg human for food, they sit with them in the park of this beautiful library
LRG_DSC01463
Big chess for everyone. This kid fight with a grandpa, guess who’s the winner? the grandpa of course

State library of Victoria

  • Address: 328 Swanston St, Melbourne VIC 3000, Australia
  • Hours: Monday-Thursday 10AM-9PM Friday-Sunday 10AM-6PM
  • Direction: Exit dari Melbourne Central Station atau Swanton Street Tram
  • State library of Victoria Google Maps location
IMG_5020
Didepan perpustakaan ini jadi seperti taman tempat yang asyik buat anak muda kongkow kongkow, main kartu, ndelosor sambil mainan hape, baca buku, ataupun ngobrol dengan teman. Aaahhh asyiknya…

LRG_DSC01384

Persis di sebelah Library state of Victoria, terdapat toko sneakers Hype. Salah satu toko reseller yang menjual campuran berbagai merek sneakers limited edition. Bagi pecinta sneakers pasti langsung ngiler ketika masuk sini, koleksinya yang membuncah dan tokonya yang besar cukup untuk membuat matamu bergoyang dan dompetmu berlinang. Saya yang memang berencana mencari sepatu di hari itu, akhirnya memutuskan untuk membeli Adidas NMD R2 prime knitted berwarna white grey. Sneakers yang tadinya saya hanya lihat di iklan terus jadi kepingin *korbaniklan. Sneakers baru yang nyaman,  membuat saya berjalan di Melbourne dengan penuh gaya. SWAG Boost tuing tuing! Styrofoam never been this cool!

LRG_DSC01397.jpg
Perfect sunshine always make the pictures look more beautiful. That’s the bright blue sky kinda day
IMG_5170.jpg
Australian Burger and Chips are so huge! Big juicy meat, creamy sauce and foamy beer just make a perfect lunch

It’s time for lunch! Saat itu saya memesan salah satu best seller burger disini, yaitu “The mighty”It’s wild, big and mighty. Wow! *lebay. Dari yang saya baca Grill’d Degraves terkenal dengan burgernya yang rendah kalori. Terdapat banyak pilihan menu burger yang baru dimasak saat dipesan, jadi dagingnya bener bener fresh. Daging beef yang juicy tapi rendah kalori, keju yang meleleh, telur, irisan salad dan mayonnaise. Yum! Saking besar porsinya saya sampe ga abis makannya. Jadilah saya minta burger dan kentang yang masi sisa setengah ini untuk di take away. Pelayannya dengan ramah segera membungkusnya. Staff nya juga friendly abis, sapaan kecil seperti “Hello, mate? how are you?” sampai pertanyaan simple setelah selesai makan “Do you like it? is it good?” dan dengan ramah memberitahukan saya dimana lokasi toilet restoran ini berada. Friendly staff, cosy laneway, great food are make my lunch better!

Namun sekeki kekinya saya dengan kota ini, ada hal yang bikin saya ga keki. Mungkin saya bisa sirik ngeliat infrastruktur dan nyamannya kota mereka. Tapi begitu bayar makanan di restoran burger ini yang harganya 14 AUD atau sekitar 150 ribu Rupiah, keki saya berubah menjadi rasa bersyukur. Nikmatnya makan angkringan dan nasi padang rendang yang cuma abis 20 ribuan. Saya malah merasa kasihan sama orang Melbourne, harga mobil disini selangit dan mereka ga bisa nembak SIM!

LRG_DSC01420
Photo can’t do the justice. It’s bigger than you think. My stomach couldn’t take it all, so i’ll save it for later

LRG_DSC01439

Grill’D Degraves

  • Address: 15 Degraves St, Melbourne VIC 3000, Australia
  • Hours: Senin-Minggu, 11AM-10PM
  • Direction: Exit dari Tram Flinderst street station, kamu akan melihat gang cantik disebelah kanan, berjalan sekitar 30 meter di gang ini kamu akan menemukan kedai burger Grill’d disebelah kiri
  • Grill’D Google Maps Location
LRG_DSC01403.JPEG
“A developed country isn’t a place where the poor have cars. It’s where the rich use public transportation” – Gustavo Petro
IMG_6924.jpg
Myki! Your reusable travel card for trains, trams and buses in Melbourne and regional Victorian centres

Getting around Melbourne with Myki Card

Kartu Myki ini ibarat kartu debet khusus transportasi. Kartu akses pra-bayar uang muka untuk seluruh transportasi massal di Melbourne, seperti Tram, kereta dan bus. Kartu ini fungsinya sama seperti Ez Link Card di Singapore, Suica di Jepang, Touch n’ Go di KL, dan Opal di Sydney. Myki Card layak kamu miliki meskipun mungkin kamu hanya berada disini dalam beberapa hari. Myki card membuat jalan-jalanmu jadi lebih mudah dan cepat.

Kamu bisa membeli Myki card di area Hub PTV setelah tiba di stasiun Southern Cross atau di stasiun kereta dan trem tertentu. Ada lebih dari 800 gerai retail yang menjual Myki Card di seluruh kawasan Victoria, termasuk sebagian besar convenience store seperti 7-Eleven. Isi ulang sebelum perjalanan, jangan lupa untuk Tap Tap alias Touch on dan Touch off di mesin scanner myki saat naik dan turun. Myki card ini dijual seharga 6 AUD (sekitar Rp. 63,000). Ini baru biaya kartunya aja, kosongan belum ada isi creditnya.

Yang patut diingat adalah di area free tram zone kamu bebas naik tram gratis, jadi ga perlu touch on dan touch off kartu myki-mu. Intinya naik turun sesuka hati ga usah tap tapan, asyik kan? Kamu bisa cek gambar dibawah untuk area dimana kamu bisa naik tram secara gratis. Tapi jika kamu melewati area free tram zone, kamu hanya perlu touch off saat turun dari tram. Selain tram ada juga kereta dan bus. Jika kamu naik ini jangan lupa untuk selalu tap kartu Mykimu touch on pas naik, dan jangan lupa touch off pas turun di tempat tujuan. Untuk informasi lebih detail tentang Myki Card kamu bisa menuju ke link ini Myki Card Information atau donwload akses secara offline dimana saja informasi mengenai Myki card lewat link ini Myki Card Pocket Guide

Your-go-to-guide-for-myki-2018
Top up before your journey. touch on and touch off at a myki reader as you travel
PTV-Free-Tram-Zone-Map.jpg
Melbourne’s free tram Zone Map – Courtesy by Public transport Victoria government. Melbourne Free Tram Zone merupakan zona dimana kamu ga perlu tap in tap off Myki Card tinggal langsung naik en turun sesuka hati. Gratis tis tis tis! 

Setelah makan siang, saya sempat balik hotel sebentar untuk check-in, mandi biar fresh, tiduran bentar baru kemudian melanjutkan jalan-jalan dengan semangat. Saat tiba di hotel saya sempat nyari dispenser untuk minum air putih, tapi kok ga nemu nemu. Sampai akhirnya saya bertanya kepada receptionist, dan saat itu saya baru tahu bahwa orang Melbourne minum air putih langsung dari keran. Tapi dalam hati saya sempat meragukan, “Is it safe to drink from the tap water?” namun setelah saya coba rasanya lebih enak dibandingkan semua aer keran yang pernah saya minum di negara lain. Sedikit berbeda dari air keran yang saya cicip di Eropa, ga berasa sama sekali kesan gering dari rasa besi atau plastik yang menempel disini,  bener bener jernih dan segar kaya air Aqua galon. Hidup aer keran!

Penasaran saya pun browsing mbah Google, Melbourne ternyata memiliki sistem penyulingan air modern. Setelah disuling air mengalir ke bendungan khusus yang terpisah dan terlindung. Bendungan khusus tertutup rapat sehingga kotoran yang ada di udara tidak bisa jatuh kedalam. Pemerintah Australia juga memiliki peraturan sendiri tentang bagaimana kualitas air diproses dan dikontrol secara ketat. Mereka bahkan menambahkan fluoride untuk menjaga agar gigi kita tetap sehat. Yang kerennya lagi, air keran Melbourne dikemas dan dijual sebagai air kemasan botol seperti Aqua di Amerika Serikat. Bahkan air keran di Australia lebih aman daripada air kemasan. Keren abis! Melbourne really has some of the highest quality drinking water in the world! Orang Melbourne ga perlu beli Aqua galon lagi, tinggal langsung gleg gleg dari keran! Kamu juga bisa mandi shower sambil minum aer secara bersamaan. Hemat bin praktis. Di restoran pun saya ditawari pilihan “what do you want to drink? Tap water or infused water?

LRG_DSC01444
The endless beauty of St. Paul Cathedral. St Paul’s Anglican Cathedral is a beautiful, historic building, situated in the centre of the City of Melbourne, Australia. It is a place of worship and prayer

Setelah selesai mandi, saya langsung menuju ke St. Paul Cathedral. Sebuah gereja yang berdiri sejak tahun 1891. Gereja ini dibuka setiap hari untuk siapa saja yang ingin berfoto, berdoa ataupun sekedar mengalami damainya berada didalam gereja tua ini. Turis diperbolehkan untuk berfoto didalam gereja tapi harus bayar 5 AUD. Kalo sedang ada ibadah dan pelayanan, kamu dilarang berfoto dan dilarang norak!

LRG_DSC01449
That flappy bird doesn’t have manner. Sit and take a shit at the statue. Captain Matthew Flinders RN was an English navigator and cartographer, who was the leader of the first circumnavigation of Australia and identified it as a continent. Flinders made three voyages to the southern ocean between 1791 and 1810 – Wikipedia

St. Paul’s Cathedral

  • Address: 209 Flinders Lane, Melbourne VIC 3000
    03-9653-4333
  • Hours: Monday-Friday: 8am-6pm Saturday: 9am-4pm
    Sunday: 8am-7pm Public Holidays: 11am-3pm
  • Direction: Exit dari Flinders street station atau Swanton St and Flinders St tram
  • Saint Paul’s Cathedral Google Maps Location
LRG_DSC01472.JPG
It was good to see the cathedral’s message welcoming immigrants to Melbourne. Pure heart for humanity
IMG_5023
Busy street in the centre heart of the Melbourne city

Di seberang St. Paul Cathedral, terdapat Federation Square yang merupakan jiwa dari kota Melbourne. Shop till you drop! Di area ini saya banyak melihat berbagai atraksi budaya, museum dengan pameran lukisan, deretan restoran dan bar maupun toko retail-retail besar. Apple Store terbesar di Australia pun rencananya akan segera buka di kawasan ini.

Disini saya duduk santai menikmati Wi-Fi gratis, update insta-stories sambil memandangi berbagai macam tipe orang berlalu lalang. Saat saya melihat mereka, saya jadi menyadari betapa indahnya keragaman,  traveling membuat saya lebih menghargai perbedaan dan belajar untuk lebih rendah hati, sadar bahwa selalu ada langit di atas langit. Betapa kecilnya kita di dunia yang besar  ini,  selalu akan ada orang yang lebih baik dari kita di luar sana.

LRG_DSC01880
Tram and City tour bus standing next to each other. Hop on hop off helping me to admire the city easier 
LRG_DSC01870
The people. Tourist and local mix like there’s no tomorrow
LRG_DSC01872
Prestigious horse-drawn carriages in Melbourne driven by a coach driver fully uniformed in traditional driving attire
LRG_DSC01876
Sweet reminder for you, it’s not cheap. You have to pay about 100 AUD for 30 minutes Melbourne city tour with this powerful horses. They will take you on a journey through Melbourne city to see some of the key sights of Melbourne such as St. Patricks Cathedral, Parliament House, China Town, sights from Swan Street Bridge, The Shrine of Remembrance, The Arts Centre and Federation Square precinct
LRG_DSC03127.jpg
Breathtaking attraction in Federation Square. I believe i can fly human type
IMG_5028.JPG
Sit and relax. There’s a free wifi in Federation Square
LRG_DSC01817
The street tells you a thousand stories
LRG_DSC01823
Spring in Melbourne is something else. It calm your moods beautifully 
LRG_DSC01822
Is there such thing as street goals? 
LRG_DSC02333.jpg
Because spring makes everything young again
LRG_DSC02310.jpg
Punggung-genic, cuma keren kalo pose bergaya punggung

Indahnya hari pertama di Melbourne sukses bikin hati adem. Kalemnya musim semi bersinergi sempurna dengan kecantikan kota. Laju kehidupan terasa santai mengalir dengan penuh harmony. Melbourne memiliki semua yang kota lain impikan, bagaikan putri raja yang memancarkan inner beauty nya keluar untuk dinikmati seluruh rakyatnya. Kota ini seperti bunga yang membahagiakan kumbang, seperti tetes air hujan yang bertemu dengan matahari membuat kita melihat indahnya pelangi.

Kamu bisa lihat betapa banyak kenangan yang saya koleksi hanya dalam satu hari di Melbourne. Sometimes, money is better spent on memories and experiences than on extra shoes, bags and clothes. But it’s much better if you can have them both. Am i to naive? Everyone wants to have them both but there’s always a price to pay. If you fail to have them both, there’s always something to be sacrificed. if i had to choose one, i will spend my money on experience than on material things.

“Because I don’t live in either my past or my future. I’m interested only in the present. If you can concentrate always on the present, you’ll be a happy man. You’ll see that there is life in the desert, that there are stars in the heavens. Life will be a party for you, a grand festival, because life is the moment we’re living right now.” – Paulo Coelho, The Alchemist

IMG_4971
Sky without a limit

 

Advertisements

4 thoughts on “Melbourne yang bikin keki. Cantiknya musim semi di kota layak huni

    1. Thank you ilen dah sempetin baca. Iya, ko berusaha bikin bahasa sesimple mungkin kaya lagi ngomong ke orang, supaya yang baca langsung ting! Lonely traveler is lonelier than lonely planet 😆 pantengin ya edisi Aussie lainnya, biar tar makin siap en asyik jalan-jalan sendirinya

      Like

  1. I like your writings, ga nyangka bisa bikin tulisan kayak gini juga. Bahasanya ga tumpang tindih, menjabarkan apa yang kita lihat lewat tulisan itu ga gampang lho, saya juga lagi coba-coba nulis novel soalnya..hehehhehe. So I really apreciate it.

    Panduannya jelas dan kocak. Doakan saja, saya juga dapet kesempatan menjelajah keluar Indonesia. Semua tulisan dan fotonya bikin mupeng.

    Best of all, semangat berkarya dan semoga perjalanan selanjutnya ga sendirian lagi.. 😁

    Liked by 1 person

    1. Thank you Bu Guluu… pujian mu menerbangkanku ke khayangan. Iya, mikir kata kata nya mumet, bikin satu paragraf kalo lagi stuck bisa sehari diulang-ulang, baca ulang trus dirapihin lagi biar susunan katanya pas.

      Wuiiizzz… aseeekkk, link nya dikirim ya tar kalo dah jadi novel mesum nya stip mau baca. Iya, iseng-iseng berhadiah mikir fotonya di hard disk ga kepake, coba buat cerita biar kenangannya abadi lewat tulisan #tsaaahhhh

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s