Menjejaki Aliran Puisi Kota Venice

Traveling-lah selagi Jomblo, karena selain ga ada yang peduli, status kesendirianmu membuatmu bebas melakukan apa saja. Mau pergi kemanapun, mau ketemu dengan siapapun ga ada yang ngelarang-larang. Yes, you’re FREE! Freehatin. Tidak adanya tanggungan hidup membuat biaya lebih ter-cover karena kamu cukup menghidupi dirimu sendiri. Tubuh mudamu masih setrongggg, naik ke puncak gunung turun ke lembah wakanda tak kan jadi masalah. Paling cuma ngos-ngosan dan sedikit bengek. Waktumu masih sangat fleksibel, belum terbagi dengan antar jemput kekasih, ataupun memberi perhatian apakah hari ini sudah makan atau belum, kalo belum biar aku aja yang makan, kamu ga akan kuat, rindu itu berat, kamu mati aja sana (Dylem Aibon 1990).

Apalagi kalo kita sudah menikah dan punya anak nanti. Akan semakin sulit untuk traveling dengan liar seperti saat kamu single, karena fokus terbagi antara bekerja memenuhi kebutuhan hidup seluruh keluarga, mengelus istri dan memberikan perhatian kepada si buah hati. Selain itu, ada kekhawatiran tersendiri saat mengajak anak yang masih kecil untuk ikut traveling, takutnya dia menangis tanpa henti sepanjang perjalanan, apalagi kalo sampe jatuh sakit. Kalo deket si ga papa tapi kalo perjalanannya jauh? Sementara kalo ditinggal bakal ga tega, takut kenapa-napa. Belum lagi kalo kangen, mentok dititipin Oma itupun dengan ketakutan si kecil lupa siapa mama papanya, ada dimana saya, apakah saya dipungut dari planet Mars? Tiba-tiba dia jadi anaknya Oma.

Yang paling penting adalah soal budget. Bayangkan jika kamu sudah memiliki keluarga nanti, tiket pesawat, biaya transportasi disana, makan, hotel, tiket masuk tempat wisata, semua nya bisa jadi double, bahkan triple quadruple! Kalo kamu saudagar kaya si ga masalah, tapi kalo seandainya nanti kamu tua pun ga kaya-kaya juga, kira-kira apa yang akan ada dipikiranmu saat itu? menyesalkah? tidak memanfaatkan masa jomblomu dengan baik, malah sibuk dengan menyesali kehampaanmu dengan kegalauan seribu satu malam. Jika saat itu tiba, penyesalan sudah tidak berguna. Masa jomblo itu singkat, jadilah jomblo Traveler sebelum tiba masanya belahan jiwamu lebih galak dari mamamu. Traveling-lah sejauh mungkin selagi kamu masih jomblo! *motivamblo

Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover – Mark Twain

IMG_0732
I admit i’m getting old. Just like Andy Lau, he’s maybe getting old, but we are fated to be handsome forever

“Im thankful for this moment coz i know that i grow a day older and see how this sentimental fool can be” – Dee Lestari

Tepat sebelum malam pergantian tahun baru, saya bersama rombongan group tour West Europe melanjutkan perjalanan dari Zurich menuju ke Venice. Pagi itu cuaca terasa pas ademnya berkisar antara 3-7 derajat Celcius dengan matahari bersinar telanjang membasahi bumi. It was a wonderful day! Untuk sampai ke pusat kota Venice kami harus menyeberang dengan kapal feri terlebih dahulu. Selama perjalanan, kami bisa duduk-duduk kece di dalam deck kapal sambil melihat panorama cantik kota Venice. Gedung-gedung berwarna-warni cerah membuatnya terlihat seperti pelangi, nyeni banget! Sebuah panorama yang membuat negeri ini seakan mengambang dengan indah diatas laut.

IMG_3079
The view from our Ferry ride to Venice

Banyak sekali sebutan untuk Venice, La Dominante, Serenissima, Queen of the Adriatic, City of Water, City of Masks, City of Bridges, City of Yellow Float *yang terakhir saya ngarang, dari semua sebutan tersebut sekilas kita bisa langsung menggambarkan seperti apa kota di bagian timur laut negara Italia ini. The Floating City and City of Canals adalah sebutan termahsyur yang sudah tak asing lagi saat kita mendengar kata Venice. Dengan kanal indah bersejarah yang dipenuhi gondola-gondola eksotis, Venice menampilkan kesan romantis yang membuat siapa saja ingin datang kesini sebelum ajal menjemput. It’s a must see list for everyone! especially for those in love that just turn on their honeymoon mode. Banyak film yang telah syuting ditempat ini, salah satu yang paling terkenal adalah Casanova dan The Tourist. Film petualangan penuh cinta yang dibintangi oleh Heath Ledger, Johny Depp dan Angelina Jolie. Sebelum berangkat kesini, saya sempat menonton film ini dirumah supaya bisa lebih menghayati suasana kota Venice dengan sepenuh jiwa. Venice, i’m in melancholy!

IMG_3048
Even the darkest night will end, and the sun will rise. Glittering sunrise in Venice…

So, gimana sih ceritanya kota ini bisa melayang diatas laut? sampe ada yang rela membangun fondasi kayu untuk hidup di pulau yang datar, berlumpur, dan tergenang air di tengah-tengah lautan luas? saya yang penasaran akhirnya bertanya pada Mbah Google. Jawabannya adalah karena rasa takut dan tak ada pilihan lain! Pada abad ke lima, ketika para penjajah barbar menyerang dan berusaha menginvasi Italia, masyarakat lokal terpaksa berduyun-duyun meninggalkan rumah mereka di daratan. Mereka bersembunyi di laguna berawa yang dikelilingi oleh batu karang bersama dengan nelayan miskin yang tinggal di sana. Saat perang terus berlanjut di Italia, semakin banyak pengungsi yang ikut bergabung. Pada akhirnya mereka bersama-sama membangun kota baru. Lahirlah kota Venice yang begitu mempesona dan kaya akan sejarah seperti sekarang.

Tahukah kamu bahwa struktur yang menopang bangunan di kota Venice adalah KAYU? Orang pasti akan langsung berpikir, gila kayu?!!! kok bisa ga roboh ya? kenapa ga besi atau batu logam apa gitu kek yang lebih kuat memancang. Jawabannya penuh dengan keajaiban alam dan ilmu pengetahuan. Rahasianya ada di kayu penopang bangunan yang terendam didalam air. Kayu yang terendam di air tidak mendapatkan aliran oksigen, jadi tidak ada satupun mikroorganisme seperti jamur dan bakteri yang dapat berkembang biak untuk membuat kayu mengalami pembusukan. Selain itu, aliran air garam laut yang terus-menerus terhadap struktur kayu membuatnya semakin kokoh seperti batu yang mengeras dari waktu ke waktu. Inilah mengapa fondasi kayu ini bisa begitu kuat menopang seluruh rumah dan bangunan di Venice. Keren yah, science!

Nah yang jadi masalah bagi kota Venice dimasa sekarang adalah banjir. Bagi penduduk lokal, banjir sudah menjadi fenomena yang biasa, karena permukaan air naik sebulan sekali. Banjir ini disebabkan oleh air laut pasang tinggi disertai dengan angin kencang, badai, dan hujan yang parah. Horor! Namun belakangan banjir makin sering terjadi karena naiknya permukaan laut yang disebabkan oleh perubahan iklim dari pemanasan global. Sejumlah solusi telah diusulkan agar Venice ga tenggelam. Salah satu langkah yang dibuat pemerintah adalah dengan membangun 79 pintu air otomatis yang akan membentengi kota ini dari air pasang laut Adriatik saat berada pada level satu meter di atas tinggi normal.

Namun banyak yang pesimis langkah-langkah ini akan bisa menyelamatkan Venice dalam jangka waktu yang lama. Pengamat berpendapat bahwa akan tiba masanya kota Venice tenggelam, sama seperti kota legendaris Atlantis. Dalam 100 tahun terakhir, Venice telah tenggelam sembilan inci. Beberapa ahli memperingatkan bahwa pemanasan global akan menyebabkan permukaan air laut naik dan akhirnya menutupi garis pantai Adriatik dan kota Venice pada tahun 2100. Oh my God! betapa sedihnya dunia jika Venice tenggelam! jangan sampe deh cantiknya kota ini ga bisa dilihat lagi oleh anak cucu kita.

To build a city where it is impossible to build a city is madness in itself, but to build there one of the most elegant and grandest of cities is the madness of genius.” – Alexander Herzen

Bayangkan kita aja khawatir Venice akan tenggelam, apalagi dengan beruang kutub yang takut tempat tinggal mereka di Arctic dekat kutub utara akan mencair habis. Dimana mereka akan tinggal dan melanjutkan hidup? Ga mungkin kan dia tinggal jadi hewan peliharaanmu? Sudah sepantasnya kita sebagai manusia mulai memikirkan dampak dari pemanasan global. Untuk mereka, untuk kita sendiri dan anak cucu di masa depan.

Kita tidak bisa hanya berharap pada pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan karbondioksida yang dihasilkan oleh pabrik. Kita juga bisa memulainya dari hal-hal kecil, seperti mematikan alat listrik dan lampu yang tidak terpakai, mengurangi pemakaian bungkus kresek, dan mengganti lampu bohlam di rumah dengan LED. Mengganti bola lampu 60 Watt tradisional dengan LED 10 Watt akan menghemat uang listrikmu Rp. 1,730,000 (selama masa hidup lampu). Lampu LED menggunakan energi 80 persen lebih hemat dibandingkan lampu PLC kaca lamamu. Selain kamu telah ikut berpartisipasi menjaga bumi, kamu juga menghemat biaya pengeluaran bukan? Dan akhir kata jangan lupa belinya di Toko Naga Electric Jogja. Betul, ujung ujungnya saya promo.

IMG_3105
Fairy tale like scenery, i’m just going to let the photos do the talking…

Setelah sampai dipusat kota Venice, pemandangan bangunan classic berwarna kecoklatan menyambut kami dengan megahnya. Dreams do came true! Dalam hati saya terkagum-kagum dan ingin rasanya menelentangkan kedua tangan sambil berputar dan melompat lalu berteriak keras Whoaaaaaaaa! Namun hal itu tidak saya lakukan, saya berusaha agar tetap coolkas. Kami langsung diajak oleh tour leader untuk berbagi kelompok seusai keluarga masing-masing untuk menaiki Gondola. Pertanyaannya adalah, saya tidak bersama dengan satupun anggota keluarga pada saat itu. Dan tentu saja saya tidak ingin naik Gondola sendirian dengan biaya yang cukup bikin kantong keder, 106 Euro per Gondola atau Rp. 1,800,000! SWAG abis aja naik gondola sendiri, ngelamun sendiri, selfie selfie sendiri, SWAG nan nelongso.

IMG_3118
It’s really an unforgettable experience. Keep in mind that in a gondola no more than 6 people. But I was travelling alone, and it just seemed kind of sad? No! I found a new friends, new family to share a Gondola experience, and all of them are as precious as Swarovski’s GOLD

Persatu Gondola yang seharga 106 Euro ini, maksimal diperbolehkan memuat 6 orang, tentunya 17 Euro yang saya share bisa jadi timbal balik bisnis yang sama-sama menguntungkan *cino. Dan inilah nilai tambah dari ikut group tour, akan selalu ada teman dan keluarga baik yang menawarkan bantuan. Untungnya, ada 2 keluarga yang menyisakan spot untuk saya bergabung. Bukan karena mereka ingin mengangkat saya sebagai anak tiri, melainkan pas kebetulan keluarga Billionnaire dari “Asuk Gangster” dan keluarga gaul penuh Harmony dari Yemi & Kei beranggotakan 5 orang. Jadi ada 1 tempat dimana saya bisa duduk manis dan share biaya Gondola tentunya, patungan berjemaah disaat diperlukan.

Saat itu saya bingung mau ikut Gondolanya Asuk Saudagar Mafia, atau ikut wahana gondolanya Kei and Sam Family. Dua keluarga ini sama-sama asyik dan seru abis, cuma karena saya terbiasa dengan Sam pacarnya Kei yang merupakan teman sekamar saya selama di Europe, jadilah saya ikut bareng merekaTernyata memang Yemi & Kei Family ga cuma gaul tapi baik banget. Pas saya mau kasi duitnya, mereka bilang ga usah! eh beneran ga usa, jangan ahhhh! kata saya memaksa, gila aja ga enak men gondola 17 Euro kan berarti 290 rebu, tapi beneran akhirnya mereka dengan dermawan membiarkan saya duduk gratis di Gondola. Sungguh Aiie dan Asuk kebaikan anda saat itu tak akan lekang oleh waktu.

IMG_3263
Sits at the goldenest of beauties, Was all Venice such a dream?
IMG_3283
The gondola is propelled by a person (the gondolier) who stands facing the bow and rows with a forward stroke. As we saw in some travel documentary or Youtube video, the gondolier will sing Italian song and some people may drink wine while in Gondola. Unluckily we don’t have that, but we enjoy relaxing and taking picture of the Venice’s wonderful scenery
IMG_3231
Weaving our way through Venice’s ancient calles. We floundering through tiny alleys, across endless bridges. I wish I can go to Venice again someday. One day in Venice isn’t enough. So little time, so much to do. 

Kami menikmati setiap moment saat berada diatas gondola. Kalemnya tiap sudut kota Venice yang begitu cantik, membuat kami tersihir. Seakan tiap sudut kota ini sedang berpuisi menyambut kedatangan kami. Melewati kanal-kanal cantik, lorong-lorong bodong, dan jembatan-jembatan kecil tak berujung. Gondola dikayuh oleh seseorang Gondolier, sebutan untuk mereka yang berdiri dibelakang kami dan mengayuh Gondola kedepan dengan khusyuk. Saat berada di Gondola yang tengah berjalan, kami dilarang berdiri karena bisa bikin Gondola tidak seimbang dan goyang dombret, resiko terburuk adalah kita bisa tercebur plung! lalu mengambang. Biarkan si kuning mengambang.

IMG_3327

Seperti yang kita sering lihat di film dokumenter, pendayung gondola biasanya mendayung sambil menyanyikan lagu seriosa ala ala Luciano Pavarotti, namun pada waktu itu kita ga mendengar dia nyanyi satu patah kata pun, melainkan malah meludah sembarangan “Hoaaakkkk Cuhhhh”. Sampe dalam hati saya geleng geleng sendiri, ni bule kenapa ngeludah mulu yah. Mungkin ada biaya upgrade atau paket khusus buat yang ingin dimanjakan nyanyian Gondolier yang merdu sambil menikmati red wine. Walaupun tanpa itu semua pun, kami sangat menikmati aliran puisi di tiap sudut kota Venice yang bersenandung manja bagaikan negeri dalam dongeng.

IMG_3301
The gondola rides are quite expensive (which we paid Euro 106 per gondola, 6 people for a 30 minutes ride through quiet back canals, and across the Grand Canal) but as a tourist you kind of have to do it for once in a life time experience, after all its still a gondola ride and we had fun
IMG_3335
Symbol of Venice – Bridge of Sighs. The infamous Latin lover Casanova walked the bridge in 1755

Bridge of sighs

Jembatan melengkung ini bernama Bridge of Sighs yang kalo diartikan kedalam bahasa Indonesia dengan Google translate menjadi jembatan mendesah. Kalo diartikan langsung memang kesannya ini adalah jembatan mesum, namun bukan itu maksud sebenarnya. Jembatan tertutup abad ke 16 ini merupakan penghubung antara Istana Doges Palace dengan salah satu penjara terkejam di dunia, Leads. Jembatan ini memiliki jendela dengan pemandangan sinar matahari paling cantik di kota Venice, yang pada mulanya dilintasi oleh para tahanan untuk melihat keindahan kota Venice terakhir kalinya sebelum disiksa, dihukum mati ataupun dipenjara seumur hidup. Jembatan penglihatan bagi mereka untuk merenungkan nasib dan mungkin mendesah panjang menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan.

IMG_3338
The Doges Palace was the home of the Doge, as well as Venice’s government, courts and prisons for seven hundred years old. Ornate Gothic palace buildings hosting exhibitions with duke’s rooms, prison & armoury tours. My favourite part of the tour was learning about the legendary womaniser, CASANOVA. The story of the legendary lover and his exploits with many girls and his escape from the prisons of the Doge’s Palace

Doge’s Palace

Setelah puas bermain diatas air kecipak kecipuk dengan gondola. Kami melangkahkan kaki menuju ke Piazza San Marco atau sering disebut sebagai St. Mark Square. Dalam perjalanan kesana, kami melewati berbagai tenda kecil yang menjual pernak pernik seperti kaos, gantungan kunci, dan magnet kulkas. Kemudian kami berhenti sejenak didepan Doge’s Palace.  Tour leader kami Koh Hendry, menunjuk sebuah gedung besar dengan dekorasi maha cantik di sebelah kanan kami sambil menjelaskan bahwa tempat ini merupakan penjara dimana Cassanova ditahan. Kemudian dia bercerita singkat tentang Cassanova yang merupakan seorang high quality playboy, pecinta wanita legendaris termegah sepanjang sejarah. Seorang jenius intelektual, penulis, penyair, musisi, perayu professional dan salah satu mata-mata terbaik dalam sejarah umat manusia. Seorang pria yang bisa bikin wanita mendesah pada pandangan pertama.

Casanova lahir di Venice dari seorang ibu konglomerat yang membuatnya mendapatkan pendidikan terbaik di sekolah tinggi ternama. Di era itu, sebagian besar anak dari keluarga ningrat dijodohkan untuk meningkatkan kelas sosial mereka, cinta tak berarti bagi mereka. Casanova menggaet banyak wanita pada masa itu dengan “sex appeal” memberikan kekaguman, perhatian, dan perasaan bahwa mereka adalah segala-galanya. Rayuan maut atas nama cinta yang berakhir di ranjang. Casanova selalu menunjukkan komunikasi verbal sebagai kunci keberhasilan, ia yakin bahwa tanpa perkataan manis, cinta ga ada geregetnya.

IMG_3344 2
Like the Grand Place in Brussels or the St Mark’s in Venice. The living room of the south pacific. The iconic St. Mark Square aka Piazza san Marco, Beautiful weather, nice shot. It’s a breathtaking scene. Take time to stop, admire the architecture and enjoy the view. But I can’t stop taking pictures, because it’s awesome

Cassanova seakan memiliki segalanya yang bisa membuat wanita jatuh hati, namun dibalik kelebihan, selalu ada kekurangan. Seperti yang selalu diperingatkan oleh Rhoma Irama dalam tiap konsernya, Cassanova lemah soal berjudi. Casanova terus menerus berhutang dan ga kapok kapok meskipun sering kalah berjudi. Sampai akhirnya dia gak bisa membayar dan masuk dalam jeruji besi. Casanova mendekam di Leads, sebuah penjara di sebelah The Doges Palace yang atapnya terbuat dari timah, sehingga udara dalam sel terasa panas nyelekep dan dirancang agar tahanan tidak mungkin melarikan diri.

Impossible is nothing for him! Setelah berhasil menyelundupkan paku dengan cara bertukar buku ke dalam sel, Casanova dengan bantuan seorang pendeta yang mendekam di satu sel diatasnya, berhasil membongkar sebuah penutup di atap penjara yang kemudian masuk ke ruangan lain melalui jendela atap. Menggunakan kombinasi dari tangga dan tali, mereka berhasil memecahkan kunci dan menyelinap melalui lorong-lorong penjara, dan melarikan diri dengan gondola. Setelah melarikan diri, Casanova pergi keliling dunia, dan akhirnya kembali ke Venice pada tahun 1774. Sejak saat itu ia bekerja sebagai mata-mata bagi Inkuisitor Negara. Namun pada tahun 1797, Venice jatuh ke tangan Napoleon Bonaparte. Casanova pun akhirnya meninggal pada tahun berikutnya di usia 73 tahun. Hidup berlimpah dengan gejolak, jatuh bangun yang penuh dengan petualangan, this is the life of Giacomo Casanova.

IMG_3376
Venice is a must to visit if you come to Italy. A place where you will lost even with your map, A place where you will keep on crossing a bridgeA place where you can’t find any pollution coming from road vehicle, A place where you will find something to cheer and laugh in the new year
IMG_3421
2 sejoli berbagi cinta, Kei dan Sam bermain burung bersama-sama

Setelah bercerita tentang Casanova, Koh Hendry memberhentikan kami semua di St. Mark Square, sebuah pelataran luas yang dikelilingi oleh gereja tua dan bangunan bersejarah. Lalu dia membebaskan kami untuk pergi kemana saja dan bertemu kembali di tempat dan jam yang ditentukan. Saat di St. Mark Square kami sempat berkumpul dan bermain dengan burung beramai-ramai. It sounds wrong! but it was fun. Meskipun kita tahu sebenarnya tidak boleh memberi makan burung dara dan merpati yang tidak pernah ingkar janji ini. Tapi sedikit aja kayanya ga papa deh, biar burung nya dateng dan hinggap sejenak, membuat kami menjadi terlihat seperti manusia burung dara. Yang pastinya bakal SWAG banget saat diupload di Instagram, bisa bikin temen kita comment “wow, mantab” namun dalam hati berkata “sok keren lo nyet!”

Bahkan baru-baru ini pemerintah Venice telah meluncurkan kampanye kesadaran baru untuk turis #EnjoyRespectVenice Tujuannya adalah menciptakan pariwisata berkelanjutan yang selaras dengan kehidupan warga sehari-hari. Intinya biar turis ga resek. Peraturannya berisi tentang: dilarang berenang di kanal, dilarang tidur pasang tenda menggembel di San Marco, dilarang pake bikini di tengah kota, dilarang memberi makan merpati, tidak membuang sampah sembarangan dan tidak bersepeda. Jika kamu kedapatan melanggar aturan ini bisa didenda hingga 500 Euro! Wah untung pas saya kesini belum ada aturan ini. Muke gile kasi makan burung aje didenda 9 juta. Miskin miskin dah!

IMG_3462
St. Mark’s Basilica is the masterpiece of Byzantine architecture. The works of this current basilica began around 1063. The Venetian Republic imposed as a tribute the lucky merchants made a gift to beautify San Marcos. Hence the variety of styles and materials

St. Mark’s Basilica

IMG_3506
Basilica di San Marco or St Mark’s Basilica Cathedral is magnificent. It’s both a wonderful Gothic architectural, Romanesque and Renaissance styles declaring the wealth of Venice over centuries, a spiritual place of worship
IMG_3473.jpg
St Mark’s Clock Tower is one of the most famous architectural landmarks in Venice, standing over an arch that leads into the main shopping street of the city. The building offers a romantic view. A Renaissance tower from 1499, with city views and a mechanical clock with symbolic Zodiac decorations

St. Mark Clocktower

Traveling ga cuma hal yang indah-indah aja. Ada kalanya hal yang menyebalkan terjadi saat perjalanan. Seperti saat kamera dari salah satu dari teman saya si Pau jatuh pada waktu perjalanan di Luzerne, untungnya body-nya masi bisa digunakan, sementara lens nya rusak sama sekali. Pau masih memiliki lens cadangan khusus untuk portrait yang ngezoom abis. Sewaktu berada di depan St. Mark Clock tower ini, Pau minta tolong saya untuk mengabadikan moment berdua bersama Ming suami kesayangannya. Dengan lens zoom banget sekitar 100mm, saya lupa tepatnya, saya terus mundur berusaha menemukan angle yang pas agar mereka bisa keliatan at least setengah badan. Padahal saat itu saya sudah mundur sambil jongkok sekitar 20m dari mereka, tapi itu baru nge shoot kepala mereka doang. Mati deh gue, lens buat nge-shoot burung, dipake buat nge-shoot landscape couple dengan background jam St. Mark Clocktower. Jadi deh otomatis saya mundur trus trus dan terus… Mungkin kalo dibiarkan, saya bakal terus mundur sampe kecebur dan ngambang di empang nya Venice ini.

IMG_3510.jpg
Strolling around the little alley

Kemudian saya meneruskan langkah dengan berkeliling kota. Venice adalah satu-satunya kota pejalan kaki di dunia. Mobil dan motor ga diperbolehkan masuk disini. Hal inilah yang membuat Venice makin unik. Bentuk kotanya yang terdiri dari gang gang kecil dan jalan berliku, membuat kamu mau ga mau bakal tersesat dengan indah. Yak, ga ada tempat paling indah dan menyenangkan untuk nyasar selain di Venice. Saya yang sudah mengunduh Google maps Offline pun masih sempat nyasar. Gang gang kecil dan tembok tembok yang semuanya mirip mirip ditambah adanya lorong berliku-liku kecil yang tidak terlihat di Google Maps, sedikit memperlama proses mencari Rialto Bridge. Kalo waktumu banyak mungkin ga masalah sedikit nyasar, tapi kalo waktumu sempit seperti ikut tour kaya gini, bisa rugi kalo nyasar mulu. Tau tau dah jamnya balik. Teot!

Men-download kawasan yang akan kamu kunjungi melalui Google Maps merupakan sebuah keharusan. Dengan fitur map offline nya yang telah kamu download, tanpa WiFi pun kamu bisa keep in the right track, ga kelamaan nyasar. Jangan lupa membintangi beberapa tempat khusus yang jadi must see listmu, biar nyarinya lebih gampang. Kalo nyasar pun mentok, kamu tinggal tanya orang buat balik lagi ke St. Mark Square, karena kota Venice boleh dibilang kecil. Kunci untuk menikmati Venice adalah siap-siap banyak jalan. Yang pasti kalo backpackeran kesini, harus pake sepatu yang nyaman karena kamu bakal banyak jalan jauh, yang berarti sekalian bikin langsing dan hemat biaya transportasi. Maximise your Adidas ultraboost!

Screen Shot 2018-04-13 at 10.28.45.png
Thank God for Google maps. Don’t forget to download your destination map at home, so you can use the Google maps Offline. 
IMG_3528.jpg
An amazing collection of Venetian Italian style masks for people of all ages and tastes.
Masking making in Venice can be documented back to the 13th century, The wearing of a mask put everyone on the same level: rich and poor, nobleman and citizen, beautiful and ugly, old and young. There is no gap with this mask, we’re all the same human being
IMG_3514
Wherever you go, there’s a bridge and a canal. Wherever there’s a canal, there’s a good chance you’ll see a gondola and gondolier taking some Tourists around the town
IMG_3533
Get lost in Venice, that’s the best memories you can get
IMG_3534
I made my way to the Rialto Bridge, the oldest bridge that spans the Grand Canal which runs through the center of town. The bridge has been there in some shape or form since 1181, with the current stone rendition existing since 1591

Rialto Bridge

  • Address: Sestiere San Polo, 30125 Venezia VE, Italy
  • Ornate covered 16th-century stone footbridge crossing the Grand Canal, with shops & restaurants.
  • Rialto Bridge Google Maps Location
IMG_3530
La vita è bella ”Life is wonderful”…
My view of The Grand Canal from the Rialto bridge
IMG_3544
I rode in a gondola. It was as magical as I had hoped
IMG_3547
I walked almost everywhere, busy capturing every little detail. It is such a magical, romantic place with so much to do and see…
IMG_3548
The statue is of the famous Venetian playwright, Carlos Goldoni. There is also a small church on the square of San Bartolomeo Rialto in here. There is plenty of shopping, bars and cafes in this area of Venice but what struck my attention was the interesting statue in the middle of this small square.

Banyak sekali warisan sejarah dan budaya di Venice. Kamu bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan melihat bangunan dan monumen klasik, gereja tua, museum kelas dunia, seniman jalanan, pertokoan kecil yang menjual pernak pernik, maupun cafe dan restoran lokal yang unik, there’s no Starbucks in here. Karena orang italia beranggapan kalo Starbucks buka disini ga bakal laku, cafe disini menghasilkan espresso dan cappuccino terbaik di seluruh dunia. Di square San Bartolomeo, saya sempat mampir dan masuk ke Disney Store sejenak dan melihat-lihat beberapa koleksi serba Mickey, Donald, Stitch, Winnie The Pooh, Toy Story dan Star Wars didalamnya. Namun karena saya berusaha menghemat saat itu, dan kurang menemukan sesuatu yang menarik hati jadinya ga beli apa apa disini. Bye-bye, Mickey Mouse!

IMG_3525
When you have limited time in a group tour, you want to see as much as possible. But try to be flexible, don’t rush it, just enjoy the moment. Disney Store’s Venice Google Maps Location
IMG_3549
When you’re abroad, your phone is a tool. Armed with Google map, find the best food you want to try!
IMG_3554.jpg
I am so glad i came here as this was the best gelato i had in Italy, Gelato suso! Testing out one of their best Gelato flavour in town, Pannetone is the best flavor to try. Heavenly good! no, it’s spectacular!

Setelah sempat merasa berputar-putar di sepanjang gang kecil, akhirnya saya menemukan Gelato Suso! salah satu gelato terlezat di penjuru kota Venice. Seneng banget akhirnya bisa sampe sini dan nyobain Gelato di negeri asal kelahirannya, Italia. Abis foto ala kadarnya buat Instagram, saya yang dah ga sabar tanpa ba bi bu langsung ngemut Gelato ini. Slurrpppp… kata-kata ga bisa menggambarkan sensasi rasa Pannetone yang meleleh di mulut. Ini bukan hiperbola, tapi food-gasm. Lembut dan manisnya pas bikin menggelinjang. Rasanya seakan-akan saya sedang melayang bersama bidadari surga.

Jika kamu cuma diberi kesempatan dalam hidup untuk nyobain satu rasa Gelato di Italia, kamu wajib cobain rasa surga ini! Panettone merupakan kue Natal Italia yang memiliki adonan mentega manis diisi manisan buah dan kacang kriwil kriwil. Mamamia! Puas banget, terbaik dari semua yang saya coba selama perjalanan tour kami di Italia (dari Venice, Rome, Florence, dan Milan). Saya sempet pingin nambah lagi nyobain yang rasa nutella, tapi waktu begitu sempit, saya buru-buru pergi ke Rialto Bridge. Kalo suatu hari balik ke Venice, saya pasti bakal balik kesini lagi. Kalo kamu pikir saya overhype, kamu bisa lihat review orang lain yang pernah nyobain gelato di tempat ini, dari Google Maps or Trip Advisor, hampir ga ada haters sama sekali, semua suka bahkan sampai tergila-gila sama tempat ini. So if you’re going to Venice, try as best as you can not to miss it!

Gelato Suso

Setelah lumayan puas berkelana, saya sempet berpapasan dengan Ming, suami dari Pau, pasangan honeymoon yang sering saya ceritakan di blog. Saat itu saya menyapanya,

“Lho, si Pau mana?” tanya saya menanyakan keberadaan istrinya yang biasanya selalu nempel kaya perangko, dunia milik berdua yang lain ngontrak.

“Ini lagi nyari ga ketemu, lo liat ga? tadi gua mau masuk museum misah gitu sama Pau, ” jawabnya.

Dalam hati saya bergumam, ini yang dinamakan drama mencari istri dalam gang. Dari wajah ming terlihat dia kelaparan, seakan bensinnya harus diisi dulu sebelum kembali mencari istri tercintanya

“Eh gua mau cari makan, cobain cafe itu yuk.” ajak Ming ke saya.

Karena saat itu saya sudah lumayan banyak mengunjungi beberapa must see list, jadi deh saya sempet nemenin Ming nongki dan ngemil di kafe bentar. Setelah selesai, kami berpisah lalu kembali melanjutkan perjalanan kami masing masing memburu istri eh waktu.

Tiap sudut kota Venice sukses menghadirkan puisi di jiwa. Cantiknya arsitektur yang berdiri diatas air mengalir manis dengan magisnya Kanal berliku-liku. Sejarah gedung gedung tua yang menakjubkan bersinergi sempurna dengan buaian indah Gelato. Bagaikan karya surga yang mencuri hati seorang petualang gila. Di Venice, hati saya tak henti berpuisi.

If i could rename love, I’d call it Venezia – Conny Cernik

IMG_3353

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Menjejaki Aliran Puisi Kota Venice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s