Kiat Berfoto Keren dan Aman saat Traveling sendirian

“Siapa yang motoin?” pertanyaan yang kalo terus-terusan didenger lama-lama jadi ngeselin. Pertanyaan yang sering terlihat setiap kali saya posting foto traveling sendirian. Setidaknya pasti ada satu orang yang comment seakan-akan mereka ga percaya kalo saya sedang jalan-jalan sendirian. Antara ga percaya atau dia senang melecehkan “jomblo bau tanah” seperti saya. Pernah ada satu orang yang sama, selalu muncul dengan comment yang sama “siapa yang motoin?” karena kesel sayapun menjawab “Manusia”.

IMG_7434
Taken by random stranger in front of the Cologne Cathedral, Germany. Standing in front of this big church makes you feel very tiny. I had a very difficult time getting the full church into my camera’s  viewer even from quite far away

Memang ga gampang untuk mendapatkan foto narsis yang keren saat traveling sendirian. Dibandingkan bila kita pergi sama temen yang siap kapan saja dan dimana saja buat “cekrek-in”. Kadang proses untuk memperoleh foto idaman bisa sangat merepotkan. Tapi kalo memang niat dan caranya tepat, sedikit usaha lebih ga jadi masalah. Lebih baik malu dan repot sesaat daripada ga ada foto dirimu sama sekali di tempat tujuan. Apalagi bila hasil foto-nya memuaskan, mood-mu saat traveling akan semakin on fire! Foto yang menampilkan wajahmu di destinasi wisata bersejarah dan pemandangan alam yang spektakuler, menciptakan foto unik yang berbeda dengan foto-foto lainnya diluar sana. Tak ada orang yang bisa menyamai atau mencuri fotomu, karena kamu ada disitu. Even though you take the same picture like everybody else, but sometimes it’s you that matters the most.

Foto yang membuktikan bahwa kamu telah menjejakkan kaki di tempat yang kamu impi-impikan. Foto yang menjadi investasi kenangan berharga dan pengingat akan petualanganmu yang hebat. Foto yang seperti tombol pause kehidupan yang bikin kamu senyum-senyum sendiri kaya orang gila. Foto yang kalo di-share di social media bisa membuat teman-teman dan gebetanmu berdecak kagum, sementara haters-mu semakin iri dan dengki.

Foto-foto pada saat traveling sudah menjadi hobi kekinian baru bagi para turis millennial di era digital. Ada yang jalan-jalan demi menambah eksistensi atau istilah “Young Lex” nya adalah panjat tebing sosial. Namun, banyak dari kita melakukannya tidak hanya sekedar untuk menambah Instagram Feed. Melainkan untuk mengabadikan moment-moment fantastis menjadi pengalaman yang ga akan hilang seumur hidup.

Kita tentu tak ingin melewatkan moment di tempat indah yang dengan susah payah baru bisa kita datengin hilang sekejap mata. Dengan foto, moment ini menjadi memori pelengkap jiwa yang abadi. Sehingga saat tiba di rumah, foto itu menjadi mesin waktu yang membawa kita merasakan flashback pengalaman seru saat berada disana. Travel back in that moment, escape from a real life for a second.

 Taking pictures is savoring life intensely, every hundredth of a second – Marc Ribaud 

Tapi jangan sampai kamu lupa menikmati real moment disana karena terlalu sibuk cekrak-cekrik, edit foto, googling caption, upload di Facebook, chatting, balesin comment, Instagram live all the time. Jangan lupa esensi dari traveling untuk menikmati dan merasakan apa yang ada didepanmu saat itu. Just breathe and enjoy the view… don’t miss the real excitement when you’re there! the happiness of doing nothing. Menikmati suasana disekelilingmu dengan duduk dan tidak melakukan apa-apa.

Mendengarkan suara debur ombak, menatap matahari yang sayup-sayup terbenam, menggenggam pasir putih, membentangkan kedua tangan sambil merasakan angin yang berhembus di sekujur tubuh, guling-guling di hamparan salju, main timpuk-timpukan bola salju (kalo sama pacar, kalo jomblo emut salju aja!) berjalan kaki menikmati tiap sudut kota, plonga plongo mengagumi gedung-gedung pencakar langit, ataupun mencium aroma kopi sambil menyaksikan berbagai macam tipe orang berlalu lalang.

Beberapa menit untuk menikmati moment berharga itu ga jadi masalah bukan? kalo dah puas baru deh kamu bisa lanjut dengan foto-foto dan siaran langsung ala TV lokal mu lagi. Itulah sebabnya mengapa pada saat traveling saya hanya upload 1-2 foto di social media, pas dirumah biasanya saya baru banyak upload ke Instagram, ga papa deh walaupun jadinya late post mulu.

IMG_5742
Taken by a new friend that i just met in Great Ocean Road, Australia

Berikut saya jabarkan my own secret recipe menghasilkan foto narsis yang keren walaupun sedang traveling sendirian. Tips yang dipraktekkan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Tips yang dibuat biar ga ada yang nanya lagi ke saya siapa yang motoin! Tidak lupa untuk tetap berhati-hati biar kameranya ga hilang dibawa lari. Untungnya,  sampai saat ini saya belum pernah kehilangan barang berharga saat traveling sendirian. Jangan sampe deh! Semoga kiat ini bisa berguna dan bikin kalian makin pede foto sendirian bak jomblo kurang kasih.

1. Pake Tripod + Timer. Cuek en pasang muka badak walaupun diliatin bule dengan tatapan nanar

Pede aja lagi, kaga kenal juga. Kalo diliatin anggep aja dirimu artis ibukota. Mereka yang ngeliatin besoknya bakal lupa. Ga usah diambil pusing. Mereka ngeliatin kamu karena kamu manusia normal dan bukan hantu.

Saat traveling sendirian saya selalu membawa tripod. Biasanya tripod ini saya pake di area yang ga terlalu ramai. Kalo di jalan-jalan atau pusat perbelanjaan yang over crowded, saya segan mau ngeluarin tripod. Asking other people to do it is more effective! Cara lainnya adalah dengan membuat tempat ramai jadi sepi, caranya? ga perlu punya kekuatan super, cukup dengan datang pagi-pagi sekali. Seperti saat saya saya berfoto di Federation Square, Melbourne dan Pont De Alexandre III, Paris pada pukul setengah 7 pagi. Sepi rek!

Setelah memposisikan tripod dan naruh mirrorless camera atau iPhone ke penopang nya, saya baru mengeset timer-nya. Di era narsisme modern, sebagian besar iPhone or Android, mirrorless or DSLR camera, dan GoPros sudah memiliki timer yang berfungsi sebagai pengatur waktu jepret! Biasanya saya selalu mengeset waktu 10 detik dengan pengambilan burst mode 3 foto berturut-turut. Saya menyisakan cukup waktu untuk berjalan menuju ke spot yang saya inginkan tanpa harus lari ngibrit, sambil mikir pose apa yang akan saya pakai. Sementara burst mode berfungsi untuk mengambil banyak foto dalam sekali cekrik, jadi kamu bisa milih mana hasil foto yang bentuk mukanya paling kece dan ga tembem. Kecuali kalo dari sono nya mukamu udah pipi semua, kamu ga tertolong. Cekrik! jadi deh. Intinya jangan cuma poto sekali, shoot yang banyak dari segala macam posisi dan sudut yang menurutmu keren. Kamu bisa ngapus yang jelek nanti dan memilih yang paling keren buat di-upload.

Kamu juga bisa menyisihkan sedikit uang untuk membeli remote pengendali jarak jauh. Semacam pencetan yang tinggal klik dari jauh, fotomu akan langsung “cekrek” tanpa harus menunggu timer. Kalo saya sih ga pernah beli remote ini, saya merasa sudah cukup nyaman dengan pake timer. Kalo sudah nyaman sama seseorang sulit rasanya untuk berpindah ke lain hati.

cropped-img_02864.jpg
Take plenty of photos, they make the best souvenirs. Taken with tripod at Pont de Alexandre III, Paris

Kalo soal tripod kayanya kamu harus beli yang bagus. iPhone saya pernah jatuh waktu di Paris karena tripod yang saya miliki berkualitas rendah, bahannya terbuat dari plastik dan mudah tertiup angin. Jadi ceritanya setelah mengeset tripod dan iPhone di seberang taman Place de la Concorde. Saya berjalan menuju ke spot, sudah siap berpose gaya punggung, Eh… karena angin yang berhembus begitu keras tripod ini miring dan akhirnya… pletak! jatuh dengan sempurna. Untungnya iPhone saya cuma gompel dan masih berfungsi. Saat itu saya belum memiliki mirrorless camera. Bayangkan bila hal itu terjadi sama kamera DSLR atau mirrorless-mu yang mahal? nangis-nangis deh kalo rusak. Soal tripod, mending kamu beli yang bener-bener OK sekalian walaupun biasanya yang the best rada mahal. Itung-itung buat investasi kenangan. Sebelum membeli kamu harus mempertimbangkan soal berapa tinggi yang diperlukan, stabil engga nya tiang penyangga, dan berapa berat yang bisa tripod tersebut topang. Jangan sampe beli tripod yang ga kuat nahan kamera necismu.

Nah setelah kejadian itu, selain membeli tripod yang lebih baik, saya juga membeli Gorilla Pod. Kenapa sampe beli 2? karena fungsinya dari dua jenis tripod ini berbeda. Tripod biasa memiliki kelebihan bisa mencapai posisi yang lebih tinggi. Sementara kalo saya lagi males gotong tripod yang rada berat, saya bisa bawa Gorilla Pod serbaguna yang bentuknya kecil, ringan, gampang dipindahin dan dibawa kemana-mana. Penyangga nya juga bisa disesuaikan, bisa untuk Mirrorless Camera dan smartphone tergantung sikon. Yang bikin Gorilla Pod keren adalah kakinya fleksibel bisa dibengkok bengkokin sesuai dengan posisi yang kamu inginkan. Jadi ngeset nya juga bisa lebih cepet walaupun juga punya kelemahan ga bisa menjangkau tempat tinggi. Fungsinya memang ditaruh di tepian, bangku, meja, pohon atau di lantai. Pastikan beli Gorilla Pod yang asli yah! Jangan versi KW buatan China, kadang ereksinya meleot leot ga jelas.

LRG_DSC02422
The view of Melbourne city from Yarra river. Taken by me and my tripod. Using Sony A7II mirrorless camera with 28-70mm kit lens 

Ga cuma buat penopang, tripod juga berguna untuk mengambil foto long exposure. Foto super tajam di tempat gelap yang bisa kamu hasilkan dengan men-set shutter speed di mirrorless camera pada kecepatan yang sangat lambat, biasanya saya 30 detik. Karena saking lambatnya shutter speed, jadinya kamera begitu rentan terhadap goyangan sekecil apapun, untuk itulah kamu perlu tripod agar kameranya tetap stabil. Hasilnya bisa bikin air mengalir terlihat silky smoothglassy and creamy, halus dan lembut kaya susu *ojo saru. Merubah mobil yang bergerak menjadi seperti seberkas cahaya, cool abis!

2. Kalo berada di tempat rame dan ga memungkinkan untuk pake Tripod, kamu bisa pake Tongbro “Tolong dong, Bro” sambil ngarahin angle yang kamu mau

Karena jalan-jalan sendirian, saya sering banget jadi obyek yang dimintain tolong orang untuk fotoin. Justru itu menjadi nilai plus, karena saya bisa minta orang itu buat motoin balik. Selain itu, minta tolong orang buat fotoin juga jadi awal yang manis untuk memulai percakapan dan menambah teman baru. Kalo kamu beruntung mungkin kamu bisa menemukan jodohmu dari sini, dari foto turun ke anu eh hati. *modus operdemen

Berilah dan kamu akan diberi. Membantu sesama traveler lain mendapatkan foto yang mereka idam-idamkan sama bahagianya dengan mengabadikan fotomu sendiri. Kebahagiaan dari membuat orang lain bahagia.

Dan jangan pernah takut untuk menyapa dan memulai duluan. Lama-lama kamu pasti akan terbiasa. Beranilah untuk minta tolong sama orang yang ga kamu kenal disaat kamu memang ingin dipotoin. Jangan menggunakan kata-kata pembuka yang sok asyik dan ga banget kaya “what’s up baby? happy happy yuk!”. Ga ada orang yang suka dipanggil sayang dan langsung diajak hepi-hepi pas baru pertama kali ketemu. Kalo kamu bawa DSLR atau Mirrorless, jangan lupa menset nya ke Auto. Karena ga semua orang jago ngambil foto super fokus en stabil, kadang malah bisa out of focus dan ngeblur semua kalo ke set aperture favoritmu. Pinginnya bokehlicious malah blurrylicious!

Dan jika kamu ingin difotoin secara spesifik, kamu bisa kasi tau posisi dari sudut mana yang kamu mau terlihat. Misal rada bawah dikit, dari sebelah samping dikit, sambil kamu kasi lihat mereka layar yang ada di iPhone atau mirrorless cameramu. Walaupun ga semua orang mau jongkok untuk mengabadikan fotomu bak model, mereka biasanya dengan senang hati akan membantu kamu mengambil foto. Asal kamu tau kondisi juga, jangan nyuruh orang yang lagi asyik makan atau ciuman buat fotoin kamu. Ganggu orang lagi indehoy aja…

IMG_4179
Instagram shows the best version of yourself. There’s a little sweat, awkward moment, and hard work behind the scenes. Taken by my friend “Siti Nurbaya” in front of the Leaning tower of Pisa, Italy

3. Ask them to take several photos of you, jangan cuma satu. Biar narsis yang penting dapet kenangan manis!

Dari banyak foto yang diambil orang tadi, masa ga ada satupun yang bagus. Pasti ada salah satu yang hasilnya ga jelek jelek amat. Don’t forget to check it first! kalo semua poto yang dia ambil pas kamu merem semua, cek sekali lagi, mungkin memang matamu yang udah melotot maksimal aja tetep keliatan merem, kalo sudah sipit dari sono nya terimalah nasib *sama kaya saya. Kalo dia nawarin poto lagi, jangan malu dan ragu untuk berpose lagi. Tapi kalo muka orang yang motoin dah keliatan kesel, sebaiknya kamu sudahi sebelum kamu diludahi. Biarkan foto gagalmu masuk recycle bin, dan foto manismu masuk instagram cyiiinn! *terdengar sayup sayup suara manja Syahrini

20151229_154929
Chapel bridge and water tower. These two are the symbolic buildings of Lucerne, Switzerland

4. Even better, pick the one that bring a DSLR or Mirrorless camera. Biasanya hasil poto mereka lebih bagus!

IMG_8406
Taken by random strangers at the Sydney Opera House, Australia
IMG_7445.jpg
Sitting in front of the most beautiful fountains in the universe. Been to Rome, throwing coins, made a wish at the Trevi fountain

5. No Tripod? No people? No problem! tepian dinding, meja, bangku taman, lantai, Tas sebagai penopang pun jadi

Adakalanya kamu hanya ingin berjalan santai menikmati tiap taman dan sudut kota, jadi males bawa tripod yang berat dan bikin risih. Eh, ga taunya liat spot yang cantik abis, tapi pas ga ada satu orang pun disana? gimana mengakalinya? Cari aja permukaan datar dimana kamu bisa meletakkan dan menyangga kamera mirrorless dan iPhone mu, idupin timer dan cekrik! Be creative, think like a child! Saya sering menaruh kamera dengan posisi sedikit ke bawah terutama bila latar belakangnya gedung gedung tinggi. Kadang hasilnya jadi keren abis dan gedung nya jadi terlihat full body dengan perspektif yang unik. Yang pasti jangan sampe kamera kesayanganmu lecet, tersiram air, ataupun keinjek orang lewat. Perhatikan dimana kamu bisa menaruh nya dengan aman. Jangan di pasir, jangan di batu, jangan juga di atas duri cinta yang ditinggalkan oleh mantan *apaansih *tampardirisendiri

IMG_9271
Set my camera on the ledge, start the timer, and pose! St. Mary Cathedral Sydney looks really beautiful that day
IMG_0620
Set my tripod from low angle-close to the ground pointing towards the sky. So i could nicely capture all the building as a whole. Oh, how beautiful it is. At Notre Dame Cathedral, Paris

6. Jangan lupa berpose dengan berbagai gaya dan gerakan biar kamu makin terlihat “hidup”. Salurkan bakat terpendammu sebagai model Instagram kelas kakap!

Jangan cuma berdiri kaya patung seperti kamu ngambil Pas Foto 4×5. Fotomu akan terlihat kaku dan membosankan. Kamu sedang foto liburan bukan bikin SIM. Berubahlah dari Lusuhnista menjadi Fashionista. Pakai kostum dan sepatu terbaikmu, rapikan rambut dengan gel, putar dan dongakkan kepala sedikit ke atas, sampingin sedikit posisi badan. Khusus cewe, bisa sambil mengibaskan rambut dan sedikit menggigit bibir bawah biar keliatan sexy. Kalo perlu pakai bulu mata kemoceng lalu busungkan dada dan lapangkan bahu. Biar kelihatan “gede” dan menantang.

Every detail matters. Berdiri tegak, lalu mainkan pose badan dan tangan, lekukkan salah satu kaki sedikit, show your body curve, rentangkan kedua tangan ke atas sambil tersenyum lebar, masukkan tangan ke kantong winter jacket, tiduran diatas salju, pretend to be candid, kayang, nungging, lompat kalo perlu (asal jangan jump shot diatas meja makan). Dan, masih banyak lagi pose yang bisa kamu lakukan dengan kreatif! show your best self! Berposelah layaknya kamu supermodel International! kalo perlu siapkan snack jajanan lalu berpose dengannya biar kamu keliatan kaya endorser sejati. Walaupun pada akhirnya snack itu cuma kamu makan sendiri.

IMG_2991
How to take a jumping photos? Just jump and take a photo! As i looked down at the thick snow cover from the gently swaying ground i definitely felt butterflies fluttering in my stomach. I’m hungry… Taken by a new friend “DJ Sam” at Mount Titlis, Switzerland

7. Jangan lupa kalo gaya samping or gaya belakang tetep ngelirik dan nengok sesekali. Jangan sampai tanpa sadar kameramu hilang dibawa lari. Pastikan suara mereka masih terdengar saat ngomong 1, 2, 3!

Yang pasti jangan berambisi mengejar kesempurnaan foto saat traveling. Apalagi kalo difotoin orang yang baru aja ketemu. Yang ada kamu malah stress. Ga ada yang bisa 100% sempurna di dunia ini. Jelek dikit ga masalah fotomu bisa diedit nanti. Done is better than perfect. The show must go on!

IMG_6452
The two huge side is not just a wall. It is all made by glass. Taken by random stranger at Ewha Womans University Seoul

8. Half selfie

Dengan half selfie kamu menempatkan dirimu sejajar dengan background yang ada di sekitarmu. Jangan sampe semua background yang indah itu tertutup oleh wajah besarmu. Tag location foto nya di Santorini, tapi ga keliatan rumah-rumah putih indah dibelakangnya. Apa bedanya dengan selfie dirumah kalo followers-mu ga bisa ngeliat pemandangan dibelakangmu? Pegang kamera sedikit ke samping sehingga  setengah wajahmu terlihat misterius dan pemandangan indah di belakangmu tampak. Khusus cewe kamu bisa pose melet menjulurkan lidah dan edit dengan filter muka alien super alus, biar kamu makin terlihat tirus, cetar dan menggoda iman!

That’s how real men take selfie. We do a half-selfie to show our background not only our shitty face. Real men don’t own a selfie-stick. We use the timer and “tong-sis” Tolong dong sis…

IMG_0252

9. Menyewa City Photographer 

Opsi yang tak pernah saya pakai. Ini opsi buat kamu yang memiliki uang lebih atau sedang foto pre-wedding / honeymoon dan memang ingin hasil fotonya super maksimal. Opsi ini tidak dianjurkan buat kamu yang backpackeran, daripada buat nyewa city photographer sehari, mending duitnya buat makan 1 minggu disana. Ya kan?

IMG_0652.JPG
Swimming like you’re the owner of this resort, at Infinity pool of Marina Bay Sands Singapore

Nah saat asyik berfoto kita harus tetap waspadalah-waspadalah! Semaju dan seaman apapun negara itu, kita tetep ga boleh meleng dan berpikir ga bakal ada yang berniat jahat. You need a little portion of negative thinking. Bukannya berprasangka buruk, cuma memproteksi diri dengan takaran yang pas. Tapi jangan parnoan lebay juga, semua orang yang berjalan dibelakangmu kamu anggap penguntit, turis lain yang sekedar menyapa atau bertanya langsung kamu tuduh, “maling ya?” Jangan sampai kamu dikucilkan dari masyarakat. Intinya adalah…

1. Tetap fokus jangan keseringan melamun apalagi saat ada gerombolan orang berusaha mengalihkan perhatian.

Biasanya maling professional di Eropa kaya gini suka bergerombol dan berbagi tugas. Ada yang tugasnya mengalihkan perhatian, seperti ngasi tau kamu “eh tuh ada duit jatoh!” dan matamu langsung ijo atau mereka bertanya “jam berapa ya sekarang?” Keep focus! kalo lagi kecapekkan mending kamu duduk dan ngafe bentar. Jangan sampe dompet dan hpmu ilang tanpa kamu sadari.

2. Jangan tergoda rayuan orang ga dikenal kecuali dia Scarlett Johannson

(Sexy-nya Black Widow memang sulit ditolak). Jangan sampai kamu kena hipnotis ala ala. Be strong!

3. Selalu periksa ulang barang bawaan.

Abis foto di suatu tempat selalu cek ulang semua kelengkapan, jangan sampai ada yang ketinggalan. Sebelum ninggalin cafe atau restoran, cek ulang barang berharga seperti passport, dompet, hp, camera yang ada ditas. Sehabis dari WC, cek ulang anu mu masih utuh atau tidak.

4. Mendekap tas punggung mu didepan dada dengan erat pas berada di angkutan publik

Jadikan tas punggung sebagai tameng tolak angin. Dengan menaruhnya di depan dada saat di tempat ramai, orang ga bisa diem-diem buka retsleting tas mu. Kamu memang akan terlihat sedikit aneh, ga masalah cuma ditempat ramai yang kamu anggap “rentan” saja. Because being normal is boring!

5. Tas tangan cewe (Handbags) untuk menaruh Dompet, Passport, dan Handphone kalo bisa bawa yang pake Retsleting

Yang saya heran banyak tas fashion kekinian cewe ga ada retsletting nya sama sekali. Di Eropa, pernah teman saya curhat hp, passport, dan dompetnya hilang dicuri tanpa dia sadari. Be careful! jangan sampai menyesal dan repot kemudian. Lebih baik aman daripada mau gaya tapi jadinya liburanmu malah ambyar.

6. Mirrorless Camera or DSLR dipakein Strap

Setidaknya kalo ada orang yang menjambret, kamu akan ikut tertarik. Kamu bisa merebut kembali kameramu dan berteriak dengan keras. Kalo badanmu gede, dia akan sulit menarikmu, malah dia terpeleset jatuh dan langsung digebukin massa.

7. Berdoa dan sekali lagi selalu waspada! Sial bisa datang kapan saja, tapi kalo kita terbiasa berhati-hati setidaknya bisa meminimalisasir resiko

Salam Mario Terbang

IMG_7464
Drakor “Winter Sojomblo” scene. Yang atas dikiss, yang bawah dikucilkan dari pergaulan. Taken at Nami Island in the Summer
Advertisements

3 thoughts on “Kiat Berfoto Keren dan Aman saat Traveling sendirian

  1. Wah tipsnya bagus2. Secara aku sering travelling solo, emang tantangan paling besar ya foto diri. Kadang minta bantuiin org hasilnya gak memuaskan. Selfie wajahnya malah kaku. Aduhhh tripod masih gak pede nih. Tp bener kata km, peduli setan sama org2 sekitar meskipun dianggap aneh. Yg penting foto jadinya kece 🤣🤣

    Liked by 1 person

    1. Blog Clara juga isinya ga kalah bagus. Tar ko baca semua post an nya yah. Kata-kata nya crunchy en baik untuk lambung. Udah berkelana sampe ujung dunia gitu kok, harus overdosis pede-nya. Asah bakat terpendam-mu sebagai foto model Instagram kelas galau!

      Liked by 1 person

      1. Dan hebat loh kamu- udah capek jalan2 gt, masih bisa kinclong dandanannya. Selain kamera dan tripod, pasti tasnya jg isi bedak dan sisir. 👍 Kl aku abis jalan seharian wajahnya udah sembab kayak org abis dipukulin 😭😭

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s