Sushi Legendaris Ternikmat Sedunia

Sukiyabashi Jiro Sushi? Nope, saya belum semevvah itu. Dengan budget seadanya, ga rela rasanya membayar 4 juta rupiah untuk sekali makan di kedai milik Master Sushi terbaik dunia, Jiro Ono. Bayangin, ngemut Sushi seporsi dapet PS4. Harga dari sebuah kesempurnaan. Kedai sushi yang tidak hanya terbaik, tapi juga terpopuler dan termahal di dunia. Tempat mantan Presiden Obama dijamu oleh Shinzo Abe saat berada di Tokyo. Maybe next time. Kalo saya dah jadi Billionnaire, dan kalo Jiro san nya masi idup.

Karena belum bisa kesana tapi sudah sampe Jepang, tentu saja harus merasakan Sushi. Ikan mentah segar diatas gumpalan nasi. Walaupun Sushi ada dimana-mana namun kita ingin merasakan yang terbaik setidaknya sekali dalam seumur hidup. Kedai sushi terenak yang ga kalah enak dengan Jiro namun pas di kantong. Maka pilihan saya hari itu jatuh ke Sushi Dai! Sushi terbaik di dunia versi turis kelas menengah seperti saya.

IMG_3578
Tsukiji Fish Market’s Situation in the morning

Alarm yang berbunyi memaksa saya untuk bangun lebih pagi dari ayam. Setting-an alarm pagi itu demi merasakan enaknya sushi di Tsukiji Fish Market. Dengan muka bantal dan ga sempet mandi, saya berusaha membangunkan Aping yang berada di kamar hostel yang berbeda. Usaha mengajak nya makan sushi terlezat pun gagal, raga nya masih ingin bermimpi pada pukul 4.30 pagi. Dengan kereta paling awal yang  mulai beroperasi jam 5 subuh, saya berangkat sendirian menuju ke pasar ikan terbesar dan tersibuk di dunia.

Setibanya di Tsukiji, pemandangan manusia yang sibuk bekerja bersama ribuan ikan menyambut kedatangan saya. Ingin rasanya melihat pelelangan Tuna yang sangat terkenal disini. Namun dibatasinya jumlah orang yang boleh melihat perhari dan harus datang jam 3 pagi untuk mendaftar, membuat saya gagal melihat tuna segede gaban ditawar om-om. Saya pun harus puas melihat berbagai macam ikan yang tersebar di depan toko. Sambil berjalan kaki menuju ke Sushi Dai, saya menikmati pasar ikan yang bersih dan tertata rapi. Baunya seger seger sedep. Amis amis ngangeni.

Berbekal Google maps, akhirnya saya sampai di Sushi Dai. Well, saya pikir masih sepagi ini yang ngantri paling sedikit. Ternyata saya teot. Antrian nya mengular dari kedai sampe pinggir jalan membentuk huruf L. Tampaknya orang-orang ini sudah ngantri dari jam 4 subuh walaupun kedainya baru buka jam 5 pagi. Ngantri sushi kaya ngantri iPhone baru launching. Luar binasa! Di tengah udara dingin saya ikut berbaris dan siap menunggu apapun yang terjadi. Demi sushi yang menggoyang lidah, lambe turah.

IMG_3580
It’s smell like a fish

Dari jam 6 pagi saya baru masuk kedai kurang lebih jam 8.30. Bayangkan! antri berdiri ditengah angin dingin sekitar 7 derajat Celcius. Dibutuhkan ketangguhan dan tekad baja untuk melakukan ini. Jika kamu ga kuat, mending kamu lambaikan tangan kepada penonton. Kenapa antrinya bisa lama banget? karena kedai nya sangat kecil, cuma muat untuk 10 orang. Saya ga habis pikir, sudah setenar ini kenapa ga pindah ke tempat yang lebih gede atau diperluas gitu. Biar turis yang pingin nyicip ga semenderita ini. Atau kita sengaja dibuat menderita kedinginan dan kelaparan dulu di luar? jadi pas masuk langsung lahap dan makin kerasa enak? trik yang kejam nan cerdas.

IMG_3598
Best sushi in the world! The 2.5 hour wait is worth here. Lined up at 6am. Seated by 8.30am

Dengan hati senang walaupun pipi keram, akhirnya tiba giliran saya untuk masuk kedai. Kedai nya kecil dan sempit. Pintu masuknya cuma muat buat dua orang. Ruangannya kaya kamar kos-kosan. Suasana dan atmosfer nya Jepang banget dan terasa homy. Begitu masuk, chef koki yang ada didalam berteriak menyambut “Irasshaimashe!” saya pun menjawab ‘Haik, arigatou’ sambil setengah menunduk bingung mau jawab apa.

Kemudian saya dituntun oleh tante-tante berkacamata menempati tempat duduk. Di depan saya terdapat meja memanjang yang terbuat dari kayu. Seperti meja bar multifungsi merangkap piring bersama. Dibalik meja ini ada 3 koki sushi yang bekerja. Alih-alih meletakkan sushi yang akan kita santap di atas piring, mereka menempatkannya langsung di meja. Unik!

IMG_3610
A warm green tea and a bowl of hearty fish broth

Walaupun saya belum mesen, begitu duduk, segelas teh dan semangkuk sup hangat langsung disajikan. Sejenis appetizer-makanan pembuka untuk menghangatkan diri. Mungkin mereka tau betapa lelahnya antri berdiri di luar sana. Kalo mengerti kenapa ga buat resto yang gede?! dalam hati saya masi esmosi.

Saya pun langsung memesan menu Omakase ‘Trust the Chef’ yang berisi 9 Sushi Nigiri (gumpalan nasi sekali suap dengan topping berbagai macam ikan mentah) + 1 Sushi Maki (gumpalan nasi gulung  dibungkus rumput laut) seharga 4000 Yen | Rp. 510,000. Menu dimana kita percaya sepenuhnya kepada Chef layaknya kepada pasangan hidup. Menyerahkan semua kepada chef untuk milih daging ikan apa yang paling segar dan sempurna untuk disajikan ke atas meja.

Cuma ada dua menu di Sushi Dai. Karena saya ingin mencicipi keseluruhan variasi sushi yang lengkap, saya tidak memesan yang standar seharga 2,600 Yen dengan 6 potong sushi nigiri. Mungkin menu ini cocok buat kamu yang masi ragu meraba-raba, kira-kira cocok apa engga lidah nya sama sushi mentah hardcore.

Sushi Dai 寿司大

  • Address: 〒104-0045 Tōkyō-to, Chūō-ku, Tsukiji, 5 Chome−2−1
  • Hours: Senin –  Sabtu 5AM–2PM
  • Price: 4,000 Yen | Rp. 510,000 Omakase (10+1 nigiri+maki). No credit card, prepare your cash
  • Direction: Keluar melalui Exit A1 dari Tsukijishijo Station – Oedo line. Cari block 6 Sushi Dai Google Maps Location
IMG_3604
Urushibara Satoshi, the boss of Sushi dai

Setelah memesan, kita bisa menyaksikan Chef memperagakan keahlian mereka membuat sushi. Nontonin mereka jadi hiburan tersendiri. Diperlukan proses panjang untuk menciptakan Sushi yang enak. Tidak cuma kualitas kesegaran ikan dan nasi, skill Chef yang membuat sushi teramat sangat penting. Mulai dari pemilihan ikan, pengirisan ikan, pengolahan nasi, penggempalan nasi dan ikan di tangan, sampai ke perpaduan bumbu dan penyajian diatas meja. Dibutuhkan indra perasa dan penciuman yang hebat untuk menjadi Chef sushi handal. Seperti kata Chef Jiro, bahkan bakat alami saja ga cukup, dibutuhkan kerja keras untuk mempelajari cara menyayat ikan hidup tanpa muncratan darah. Seni maha tinggi dari seorang Chef Sushi.

Kemudian Chef menyajikan sushi satu persatu ke depan saya. Konon sushi paling enak adalah yang langsung dimakan saat baru selesai diiris. Jadi rasa daging tidak memudar oleh waktu. Seperti rasa cinta kita ke mantan. Selain itu, Chef nya juga ramah dan berusaha menyapa saya dengan bahasa Inggris terbata-bata. ‘Where are you from?’ ‘Indonesia’. Haik. Apa kabar?’ Chef juga sempat menanyakan apakah ada daging sushi tertentu yang tidak kamu sukai. Personal touch yang memberikan rasa nyaman.

IMG_3605
The chefs were friendly and the menu is a fixed set menu
IMG_3606
Tamago Rolled Egg was light and fluffy. Perfect appetizer

Sebagai pembuka chef meletakkan ginger-jahe sebagai acar untuk sushi. Jahe disini berfungsi sebagai penetral rasa yang membersihkan langit-langit mulut sebelum kamu makan sushi berikutnya. Semacam jeda di ring tinju, dimana cewe sexy lewat sambil mengangkat plang tinggi-tinggi. Tujuannya agar rasa ikan sebelumnya memudar dan lidah kita ga eneg. Santapan pertama adalah tamago! telur dadar berbentuk persegi panjang yang lembut. Simple tapi kerasa enak banget!

IMG_3609
The first serving was fatty Tuna. My mouth is watering again looking at the picture. It was fresh as heaven! The price you pay versus the fish quality is more than worth it. The size of the sushi is very large fish to rice ratio

Sushi pertama yang disajikan adalah ikan tuna. Saya kurang ngerti apakah ini Chutoro (medium fatty tuna) atau Otoro (the fattiest part of tuna, bagian perut dekat leher), yang pasti daging ini berasal dari perut tuna yang besar itu. Sebelum kesini, saya sempat nonton Youtube ‘bagaimana cara memakan Sushi dengan benar.’ Warga lokal ternyata suka makan Sushi dengan tangan dibandingkan sumpit. Saya pun meniru bagaimana warga lokal memakannya, seperti kita yang makan nasi padang pake tangan.

Saya mengambil Sushi, menambah secuil wasabi diatasnya, mencocol sedikit soy sauce, lalu mengunyahnya dengan sekali hap! Pas ngunyah saya merem dan tersenyum. Bulu kuduk berdiri dan menggelinjang. Saya merasakan gemerlap kekenyalan yang meleleh dimulut. Lemaknya yang tebel membuat lidah saya muncrat didalam. Sushi terenak yang pernah saya makan. Seperti lagi dengerin konser musik orkestra yang indah. Walaupun saya belum pernah nonton orkestra. Untuk sebuah sushi yang sederhana, kenapa rasanya bisa begitu berwarna?

IMG_3614
Horse Mackerel. Excellent sushi. Their combo nigiri set was delightful. After all, Japanese tuna is world renowned! Fresh seafood and very nice service
IMG_3608
You can see the chefs making your sushi in front of you. They are highly skilled and you will get an experience beyond the sushi. The chef kept me entertained and gave a few extra things to try. I did not feel rushed, it was a positive experience. The presentation wasn’t fancy, but their classic culture of making sushi is simply elegant

Fresh. That’s what this place is all about. Sushi dengan ikan terbaik yang super fresh! Ikannya baru mati pagi itu juga. Rasa daging ikannya bener-bener kenyal, gurih dan ga amis. Sangat berbeda dengan ikan yang kita beli di supermarket. Dibunuh di laut, masukin tumpukan es, diawetin, dikirim berhari-hari, dijual di pasaran, baru kita goreng dirumah. Bayangin berapa lama mayat mereka baru sampe keperut kita.

IMG_3615
Maguro-zuke (marinated tuna) is obviously one of the highlights of the Sushi Dai experience. You can just see the freshness in the color ‘vibrant red’, shiny from it’s marinade which gives it a sweet flavor. It breaks off ever so gently at the touch of your lip. Even though wait was long 2 hours in cold, food was worth waiting

Saya ga mencantumkan semua sushi yang saya makan, hanya beberapa yang saya anggap special. Selain tuna, yang paling saya suka adalah Sea Urchin atau landak laut. Rasa asin dari landak laut dan nasi yang dinanak sempurna menjadikannya benar-benar istimewa. Sulit untuk mendeskripsikannya. Seperti mencicipi lautan yang membahagiakan. Seret-seret asin bikin nagih. Dengan mata segaris. Akhirnya saya keluar kedai dengan bahagia. Kayak habis menang perang.

Perjuangan ngantri akhirnya terbayar lunas. Pengalaman yang tak terlupakan. Mencicipi sushi yang luar biasa nikmat dengan harga yang pas. Jadi, apakah saya akan datang lagi untuk kedua kalinya? jawabannya adalah TIDAK. Lho, kenapa engga? katanya puas? Yes, it’s worth to try for the first time. Tapi kalo cuma buat makan harus antri 2-3 jam subuh-subuh, saya terlalu lelah. Faktor U! Lebih baik saya mencoba sushi lain nya di Tokyo. Oh ya, tempat ini belum bisa menerima pembayaran dengan Kartu Kredit. Persiapkan cash yang cukup sebelum berangkat kesini.

IMG_7695
In terms of value for money vs quality, this place can’t be beat. Service was fantastic and food was brought to the table quickly after ordering

Untuk kamu yang males bangun dini hari dan ga kuat ngantri, kamu bisa kesini Umegaoka Sushi No Midori. Kedai sushi modern yang luas, harga lumayan miring, dan ga kalah enaknya! Midori Sushi memiliki beberapa lokasi di Ginza, Akasaka, Shibuya, Daikanyama, dan lainnya. Saya mencoba Umegaoka Sushi No Midori cabang pusatnya di Ginza, yang bangunannya terdiri dari dua lantai. Tempatnya yang lumayan besar membuat mu ga perlu antri lama dibandingkan dengan cabang Shibuya yang lebih kecil dan touristy banget. Malam itu saya mengantri sekitar 30 menit.

Umegaoka Sushi No Midori

  • Address: 〒104-0061 Tōkyō-to, Chūō-ku, Ginza, 7 Chome−2−2
  • Hours: Senin – Minggu 11AM–10PM
  • Price: Most people order Ultimate Sushi Assortment 2,100 Yen | Rp. 270,000. Credit Card: Yes!
  • Direction: Keluar melalui South Exit Odakyu Line Umegaoka Station, lalu berjalan kaki 1 menit Umegaoka Sushi No Midori Ginza Google Maps Location
IMG_0816
Look at that Sushi set, Japanese food can be so artistic and stylish. Awesome taste of fresh sushi with reasonable price. Fish slices are thick and juicy! Ultimate Sushi Assortment 2,100 yen

Saat itu saya memesan Omakase Nigiri Chef’s recommend set. Berisi 12 sushi diantara nya adalah otoro, chutoro, sea urchin (landak laut), salmon roe (telur salmon), tamago (telur gulung), botan shrimp, green onion dan boiled conger eel sushi (sushi belut rebus kenyol-kenyol). ‘Itadakimasu!’ Tiap irisan ikan di sushi nya tebel abis. Unagi nya juga enak banget. Yang paling saya suka waktu makan sushi adalah merem melek karena wasabi. Kesedek enak gimana gitu pas nyampe idung.

Sambil menenggak bir, saya memperhatikan sekitar. Tiap orang melahap sushi sambil ngobrol dengan asyik. Kebiasaan orang Jepang berkumpul dan minum minum kayak di komik terlihat disini. Ga cewe ga cowo, tua maupun muda. Ga heran si, karena selain enak, suasananya asik. Sayapun tak kuasa menahan nikmatnya beer yang bercampur dengan sushi di mulut. Cepet ngantrinya, nyaman di kantong, dan enak kebangetan. Yes, it is! kedai sushi yang bikin saya kangen untuk balik ke Tokyo lagi.

IMG_0815
Sushi + Beer = Perfect Combo

Saat itu saya menyadari kalo Sushi di Jepang sangat berbeda dengan Sushi modifikasi di negara kita. Dari segi bentuk, rasa, dan variasi. Sushi di Jepang simple minimalis, ga macem-macem polos apa adanya. Just plain and fresh tanpa ada tambahan mayonnaise yang membuncah, saus berlebihan, ataupun gulungan nasi sekepal tangan. Mungkin maksudnya ingin menyesuaikan dengan cita rasa lokal karena kebanyakan dari kita belum biasa makan ikan mentah. Walaupun sebenarnya rasa daging ikan nya jadi  ilang ketimpa segala variasi tadi.

Mumpung di Jepang, saya pun puas-puasin nyobain sushi. Mulai dari minimarket sampe random resto pinggir jalan. Dan, rata-rata Sushi nya enak-enak semua. Namun yang paling berkesan adalah dua kedai sushi diatas, Sushi Dai dan Umegaoka Sushi No Midori. Mungkin suatu hari nanti jika uang tak lagi jadi masalah, saya bisa nyobain sushi buatan Jiro ataupun anaknya.

Dibagian akhir saya cantumkan kisah hidup Jiro yang tanpa sengaja saya tonton di Youtube. Chef Master sushi terbaik Jepang yang menginspirasi semua orang di dunia. Kisah mengharukan dari kegigihan seorang Chef yang cinta akan pekerjaannya. Setelah menonton ini, saya yakin kamu makin cinta sama sushi. Yang pasti bakal ngiler pingin nyobain langsung di Jepang.

“Once you decide on your occupation you must immerse yourself in your work. You must fall in love with your work. Never complain about your job. You must dedicated your life to mastering your skill. That’s the secret of success” – Jiro, the best sushi chef in the world

Advertisements

5 thoughts on “Sushi Legendaris Ternikmat Sedunia

  1. a trip to Japan is surely won’t be completed without a taste of real fresh Japanese sushi. Hands down for their fresh sushi(s)! Even the smallest chain of sushi restaurant serves tasty and fresh sushi. I’ve tasted sushi from various restaurant and small stall in Tokyo, Osaka, and Kyoto, from small one to bigger ones. They all have unique taste of their own and none of them failed me. And yes, Jiro Ono is indeed the master of sushi. I’ve never tasted his sushi but same as you, I hope I can try it one day.

    Liked by 1 person

    1. Persyaratan nya tidak jauh berbeda dengan Visa Korea. Berikut syarat-syaratnya berdasarkan http://www.id.emb-japan.go.jp/visa_7.html
      Dokumen-dokumen yang perlu dilengkapi dalam mengajukan permohonan visa
      1. Paspor.
      2. Formulir permohonan visa dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
      3. Foto kopi KTP
      4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)
      5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
      6. Jadwal Perjalanan (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
      7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu)
      8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
      Bila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya
      9. Fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya)

      Kalo udah punya e-passport, hanya perlu registrasi ke Japan Visa Application Centre – JVAC (Jalan Professor Doktor Satrio No.3-5, RT.18/RW.4, Karet Kuningan, RT.18/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Setia Budi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940 https://goo.gl/maps/yRmGh6ALmKz )

      TATA CARA REGISTRASI nya sebagai berikut:
      1. Pemohon atau perwakilan pemohon membawa e-paspor dan formulir aplikasi ke Kantor Kedutaan Besar Jepang/Konsulat Jenderal/Kantor Konsulat di Indonesia untuk diregistrasi.
      2. Kedutaan/Konsulat Jenderal/Kantor Konsulat akan menerima berkas permohonan, melakukan proses registrasi, menempelkan sticker bebas VISA, dan menyerahkannya pada pemohon kembali.
      3. Yang bersangkutan dapat melakukan perjalanan ke Jepang untuk durasi tinggal maksimal 15 hari, berkali-kali hingga masa berlaku sticker tersebut habis, tanpa perlu melakukan registrasi lagi di tiap kali perjalanan.
      4. Bagi pemohon Bebas VISA yang tidak dikabulkan permohonannya, harus melakukan permohonan VISA seperti biasa.

      Sumber http://www.id.emb-japan.go.jp/news14_30.html

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s