Sadisnya Salju Abadi di Mount Titlis

Traveling enakan pake Tour, jalan bareng temen atau single fighter? Kebetulan saya sudah merasakan ketiganya. Tapi kalo ditanya mana yang paling enak, saya tetep ga bisa jawab. Karena jawabannya ga absolut, tergantung situasi, kondisi, dan kepribadian masing-masing. Semuanya punya keunikan, kelebihan dan kekurangan. Tiap caranya pun memiliki kenangan manis tersendiri.

  1. Pake Tour

    Jalan-jalan ga pake mikir. Layaknya bos besar yang berangkat dengan asisten pribadinya. Thank You, Secretary Kim. Tiket pesawat, menu makan, hotel, itinerary, destinasi wisata, dan semua tetek bengek perjalanan sudah diatur. Ga pake ribet, super nyaman, banyak temen baru di bus, dan bisa ke banyak tempat wisata dalam waktu singkat.

    Kekurangannya biaya yang dikeluarkan biasanya lebih mahal dibandingkan jalan sendiri. Waktu kunjungan di tempat wisata begitu sempit, belum puas jalan-jalan eh harus balik ke bus. Sulit untuk bisa explore, bersosialisasi dengan warga lokal dan mengenal budaya setempat.

    Kita akan sibuk ‘digrusa-grusuin’ Naik bus – didongengin tour guide – diturunin – foto-foto – main bentar – disuruh cepetan balik – repeat! Lama-lama kesel juga. Kurang bisa nyobain makan makanan lokal, karena kebanyakan diajak ke Chinese food restaurant yang nyediain nasi putih. Kangen si sama nasi, tapi ya ga tiap hari juga kali.

  2. Jalan bareng Temen

    Asyik apa engga nya kadang tergantung dari temen jalan. Kelebihannya bisa patungan dan saling menjaga. Patungan naik taxi, patungan nginep di hotel privat, saling nyicip makanan. Kitapun ga pernah kesepian karena selalu bisa ngobrol dan saling motretin. Bisa menggila bareng tanpa malu, karena ada temennya.

    Be with someone who doesn’t feel weird with your weirdness. Teman yang ga peduli sama kelakuan bodohmu.

    Kelemahannya kalo kecapekan, sama-sama lagi ga mood. Masalah kecil bisa emosi lalu perang dunia. Tiap orang memiliki hobi dan kesukaan yang berbeda. Ga bisa menyatukan keinginan setiap saat, yang ada malah debat. Misal, ada yang ga cocok itinerary-nya, ada yang mau shopping, ada yang mau ngafe, ada yang mau main bola. Kalo hal ini terjadi, solusinya adalah bikin kesepakatan, misah dulu lalu ngumpul lagi di jam yang ditentukan.

  3. Lonely Traveler

    Free like a bird! bebas mau koprol, naik gunung, tidur, ngemol, makan junk food, semua bisa dilakukan sesukamu. Bebas bergaul dan berkenalan dengan siapa saja, baik sesama traveler maupun warga lokal. Jalan-jalan sendiri membuat kita ga cuma foto-foto, tapi bisa menelusuri suatu tempat lebih banyak dan lebih lama, menyatu dengan kehidupan setempat. Live like a local.

    Hal yang paling penting saat jalan sendirian adalah kemampuan beradaptasi, salah satunya adalah berkenalan dengan strangers. 3 langkah untuk membuka percakapan dengan orang baru adalah ‘Senyum, Sapa, dan Tanya’. Bisa dengan teman sekamar di hostel, di cafe, di kereta, ataupun tempat umum lainnya.

    Travel forces you to be more social even when you’re alone!

    Gesture tubuh kita juga harus terbuka, jangan tertutup seperti orang takut kemalingan. Tatap matanya. Kalo boobs-nya gede, susah juga sih kadang autofocus. Mulailah dengan pertanyaan simple seperti ‘Where do you come from?’ or something they wear like ‘Hey! what a nice Mickey Mouse Jacket. Where did you buy it?’ or something that makes them tell a story like ‘What’s the coolest thing you have seen so far in here?’ Meet new people and hear their stories. Jangan bertanya yang ga banget seperti ‘Who’s your favorite porn star?’ Kalo keliatannya cocok dan asik diajak jalan bareng, kenapa engga?

Semua orang travel dengan cara mereka masing-masing. Ga ada cara yang benar atau salah dalam melakukannya. Never judge someone, don’t compare your Chapter 10 to someone else’s Chapter 1. Tiap orang memiliki soal ujian dengan pertanyaan yang berbeda. Ga ada gunanya nyontek atau sok kasih jawaban.

Traveling itu sangat pribadi. Ada orang yang bisa jalan-jalan sendiri, ada yang engga. Tapi, jangan pernah takut mencoba. Kadang kamu baru tau kalo kamu bisa, saat sudah menjalaninya. So, be happy and keep on traveling, because good things happen to those who book flights. Berani, Berangkat, Pulang, Kecanduan, Repeat!

“A life without traveling is like living in a cage. You’re not living, you’re just being kept alive” – unknown

IMG_2272
We were enchanted by the scenic valleys and snowcapped mountains

Untuk membaca petualangan saya di Eropa sebelumnya kamu bisa klik disini Europe Journey Pagi-pagi buta seluruh anggota tur, telah bangun, mandi, dan breakfast di hotel. Dari Zurich, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Engelberg untuk melihat Mount Titlis. Selama 45 menit perjalanan, pemandangan dari balik kaca bus sungguh SPARTA! Selalu ada yang indah di tiap tikungan, seakan-akan saya sedang berada di film Lord of the Ring.

Dengan rasa croissant dan kopi yang masih membekas di mulut, saya terbuai melihat gundukan salju yang mengeras di pinggir jalan. Hamparan danau bening, rumah-rumah kecil tertutup salju, bukit pepohonan hijau dan pegunungan yang berselimutkan bedak bayi surga.

IMG_2276
When we arrived, we were greeted by a pure fresh mountain air.Bluish mountain, palm trees, and a cute houses on the background are all marvellous!

Mount Titlis merupakan gunung salju yang terletak 10.000 kaki di atas permukaan laut! Glacier tertinggi di Swiss bagian tengah, salah satu puncak pegunungan Alpen. Terbentuk dari hujan salju yang mengeras dari waktu ke waktu, tidak meleleh kena panas sehingga menumpuk abadi di pegunungan.

Mirip dengan baju diskonan yang kamu beli di mol, tak terpakai dan cuma menumpuk di lemari. Salah satu destinasi wisata terindah di dunia, yang menjadi daya tarik bagi turis yang ingin bermain ski, ataupun sekedar menikmati pemandangan dan gegoleran ga jelas di atas salju.

IMG_2323
It’s like a classic Disney fairy tale. For me, it’s more like a scene in The Witcher 3 game

Mount Titlis Cable Car

Sesampainya di Mount Titlis, turun dari bus kami langsung diajak menaiki Cable Car menuju ke puncak. Selagi tour leader membelikan tiket, kami foto-foto di parkiran yang dikelilingi pegunungan bersalju. Udara nya seger banget, dingin dingin manja!

Saya menyempatkan diri masuk ke toko souvenir untuk membeli sarung tangan. Tanpa pasangan untuk digandeng, sarung tangan menjadi penghangat yang pas. Sebenarnya sarung tangan ga perlu-perlu banget, kan bisa masukin tangan ke saku Winter Coat. Tapi kalo dinginnya hardcore gini, lumayan bikin tangan ga beku.

Apalagi kalo beli disini ada lambang Engelberg Mount Titlis nya, lumayanlah buat kenang-kenangan. Walaupun mejet handphone jadi susah, yang penting gaya! *sarungnista Setelah Koh Hendry sang tour leader membagi-bagikan tiket, kami bersama-sama menuju ke Cable Car. Saya melihat banyak bule pecinta ski dengan peralatan lengkap, bergerombol mengantri untuk keatas.

IMG_2329
The view of Engelberg city as we ascended via the cable car. Wonderful scenery with snow covered-roofs

Ada dua pergantian Cable Car untuk sampai keatas. Ketika Cable Car naik, panorama kota terlihat seperti karpet putih dengan rumah-rumah beratapkan salju. Semakin tinggi, pemandangannya semakin keren. Danau yang bening bak kaca, dikelilingi pegunungan bersalju dan bukit pepohonan pinus di dasarnya. Berasa lagi di dongeng nya Anna Frozen. Dalam hati saya mulai bernyanyi

‘Let it go, let it go. Can’t hold it back anymore. Let it go, let it go. Turn away and slam the door. I don’t care what they’re going to say. Let the storm rage on. The cold never bothered me anyway’

IMG_2882
The views from cable car ride coming up was fantastic
IMG_2338
Charming views where we took a cable car to the mountain top. The landscape was full of white snow and traces of dry trees
IMG_2414
The Rotair – a revolving cable car. The world’s first rotating gondola. As you’re moving upward, the entire floor slowly rotates in a circle, giving you a 360 degree view. The final ride before you reach the peak of Mount Titlis

Setelah sampai di suatu titik ketinggian, kami turun dan kembali mengantri untuk menaiki Cable Car selanjutnya, The Rotair – a revolving cable car. Cable Car yang perlahan berputar 360 derajat. Hanya dengan berdiri di satu tempat, kita bisa menyaksikan keseluruhan panorama puncak pegunungan salju. Matahari yang bersinar cerah dengan langit birunya membuat pemandangan hari itu makin sempurna.

IMG_2423
Snow Paradise. Nothing can be more beautiful than this, right?

What’s Mount Titlis’s weather like in December?

Mount Titlis hanya mengenal satu musim sepanjang tahun, yaitu musim dingin. Di bulan December, suhu udara sampe dibawah titik beku dari -9°C sampai -16°C. Dinginnya ngalahin masuk kulkas. Untuk ukuran manusia tropis, suhu udara satu digit aja sudah dingin, apalagi sampe minus.

Kadang tanpa sadar, ingus tiba-tiba meler dan kulit gatal karena kering. Jadi bisa dibayangin, bagaimana Oppa menggigil kedinginan. Sebenarnya kalo pake Winter Coat tebal dengan layering berlapis-lapis, dah cukup menghangatkan. Tapi sekali angin lewat, Behhh… apalagi pas kenceng di ketinggian alam terbuka, dingin nya benar-benar menusuk, ngilu sampe ke hati. Bablas angine…!

IMG_2419
I love it when the day is sunny, the sky and snow look clear as crystal
IMG_8411
Europe’s highest suspension bridge that scary enough when the wind blows. It’s 3,041 metres above sea level and 500 metres off the ground

Mount Titlis Cliff Walk and Suspension Bridge

Kemudian kami melewati jembatan gantung penghubung dua glacier yang menjulang tinggi di puncak. Jembatan baja yang hanya digantung dengan kabel ini disebut Titlis Cliff Walk. Kedengaran gila memang, jembatannya cuma ditopang dengan kabel baja. Tapi saya percaya teknik pemasangannya mumpuni, jadi harusnya setroonggg sih.

Dikarenakan hari itu hembusan anginnya kenceng banget, jembatan ini berayun-ayun seakan-akan mau nyemplungin kita ke bawah. Goyang dombretnya bertambah parah kalo banyak orang berjalan diatasnya. Dalam hati saya berpikir, mungkin sengaja dibuat kaya gini biar deg-degan.

Beberapa orang dari anggota tur, ada yang ga berani melintas. Ada juga yang jalan cepat sambil pegangan di besi penyangga dengan gemeteran. Sementara saya? sibuk nyari orang buat motoin. Saya sempat berhenti sejenak, menikmati pemandangan yang luar biasa spektakuler. Jembatan yang bolong-bolong bikin kita bisa lihat kebawah dengan muka horor. Ayunan glacier yang bikin hati membeku luar dan dalam.

IMG_8502

‘Ming, coba fotoin dari situ sambil gua pura-pura jalan’ ujar saya ke salah satu teman tur. Jembatan yang terus berayun kuat, ditambah hembusan angin dingin, tangan yang basah, membuat kami memegang iPong dengan ngeri-ngeri. Kalo ga hati-hati iPong bisa kepental dan nyemplung kebawah, nangis dah.

Walaupun goyang-goyang ga jelas ditengah gigi gemeletuk dan pipi gemeteran, saya berusaha untuk tetap cool. Cool beneran kalo ini, cool kedinginan. Kemudian kami bergantian foto narsis. Perjuangan untuk mengabadikan kenangan pun berakhir dengan happy ending.

IMG_2545
As i looked down at the thick snow cover, i felt butterflies fluttering in my stomach. Just like what Elsa said “The cold never bother me anyway”

Di ujung jembatan gantung, saya menyaksikan panorama tertinggi pegunungan Alpen. I felt like on the top of the world! Melihat kemegahan salju abadi di ketinggian 3020 meter memang gila banget. Hamparan salju mengeras di pegunungan berapis-lapis dengan gradasi warna coklat dan putih kebiruan. Pemandangannya terlihat surreal.

Seperti berada diantara alam nyata dan fantasy. Jika bule menyebutnya breath-taking view saya menyebutnya dengan heart-frozen view. Hati seakan membeku, melewatkan beberapa detak jantung, mulut pun ga bisa berkata apa-apa. Puncak tertinggi di Swiss memang surga yang menakjubkan.

I travel so i can experience the spectacular!

IMG_2810
Switzerland is simply heaven on earth, every corner is extraordinary beautiful

Glacier Cave

Kemudian kami masuk ke dalam gua yang terbuat dari es. Berjalan di terowongan  yang memanjang 150 meter. Dindingnya bergelombang, lantainya licin, semuanya terbuat dari es! Mungkin kalo dindingnya kamu serut, kamu bisa makan es kepal. Mungkin juga kamu bakal mati ketimpa goa yang runtuh. Gelap-gelapan di tengah gua es, membuat saya seakan sedang berada di dunia Mortal Kombat. Sub-Zero, where are you?

Keren bagaimana mereka bisa membangun infrastruktur, di tengah pegunungan salju dengan ketinggian 3,020 meter di atas permukaan laut. Dari stasiun kereta, jembatan sampe gua es, semua nya aman dan ciamik! Belum pernah ada yang kecemplung dari jembatan atau tiba-tiba ketiban es yang runtuh. Mungkin kamu mau jadi yang pertama? becanda, aman kok aman.

Setelah keluar dari goa, tour leader mempersilahkan kami kami bebas pergi kemana saja. Saya pun langsung menyusuri 5 lantai di Titlis Mountain Station satu persatu. Ga cape, soalnya ada lift. Ada juga restoran dan toko yang menjual souvenir. Saya sempat masuk ke Titlis Chocolate Shop yang berada di lantai 3, membeli beberapa Lindt Chocolate untuk oleh-oleh dan buat ngemil sendiri di bus (sembunyiin dari temen-temen tur, pokil mode on)

Yang paling seru ada di lantai 5, paling atas. Ada lapangan terbuka dimana kamu bisa berfoto, main ski, ataupun guling-guling ga jelas. Saat melihat hamparan salju luas nan tebal, saya langsung jatuh cinta dan mensetubuhi salju tersebut.

Pengalaman pertama selalu bikin deg-degan, setelah mensetubuhinya, kemudian saya menggenggam salju. Rasanya persis kaya es serut yang mengeras. Disini saya melihat banyak orang belajar bermain ski. Karena keterbatasan waktu ikut tur, saya ga sempat nyobain main prosotan pake papan ini. Maybe next time!

IMG_2686
This is what happen when Jones meet snow. Snow hug, Happily ever after

Berjalan di tengah tumpukan saju pada suhu -9 °C, bikin saya jadi norak. Saat itu saya bertemu dengan Sam dan Kei, pasangan berpipi tebal yang berada dalam satu tur. Saya pun minta tolong mereka buat motretin. Kemudian saya berpose tidur tengkurap tanpa rasa malu, pura-pura memeluk dan mencium salju, bercinta tanpa akal.

‘Cekrik’

‘Udah belom?’ tanya saya seperti anak kecil yang sedang main petak umpet.

‘Belom, tar… sekali lagi’ Jawab Kei.

‘Crash!’ punggung saya kena timpuk salju.

‘Woi…!’ teriak saya sewot. Dengan pipi beku, saya bangun dan membalikkan badan.

Ternyata si Sam pacarnya Kei, diam diam bikin bundaran salju, lalu ngelempar dengan santainya.

‘Eh, bagus juga kayanya. Sam, tendangin saljunya ke gua, biar ada cipratan salju gitu fotonya’ ujar saya sok brilliant.

Sementara Kei, saya tugaskan untuk shoot berkali-kali dengan burst mode. Yak, saya memang profesional kalo nyuruh orang fotoin. Setelah selesai foto, ga terima ditimpukin, saya membentuk bola salju dan balas nimpukin mereka. Kamipun lempar-lemparan, tidur-tiduran, guling-gulingan, sampai main prosotan. Masa dewasa kami terlihat begitu bahagia saat itu.

IMG_2560
It didn’t matter that the temperature was 9 degrees below freezing point. What mattered was the beautiful view from the top while holding this ❄️
IMG_2780
At 10,000 feet above the ground, the view was spectacular and mesmerizing. I had never experienced wonderland like this
IMG_2759
The stunning view of the snow-covered mountains. Everything just white and blue
IMG_2763
Switzerland’s loftiest peak. Freezing beauty!
IMG_8409
We spent some time playing on the snow and taking pictures of the breathtaking sceneries
IMG_2841
What’s cooler than being cool? Froze
IMG_2960
Pegunungan yang puncaknya tertutup salju, perbukitan hijau yang luas nan cantik. Dreamy other world with Mother of nature as the main character.
IMG_2961
Parking Car with a view
IMG_2943
When the snow loves the trees

Melihat dataran salju begini, membuat saya kena ‘snow fever’. Cuaca ekstrim seakan terabaikan saat kamu bahagia. Kenangan di puncak gunung salju, mengabadi indah di ingatan. Dengan hati senang, saya kembali ke bus, dan melanjutkan perjalanan ke Lucerne

IMG_3005
I took thousands of pictures. I really like my travel posts to be story-telling like, to make you feel like you were there if possible

Titlis Mountain Station

  • Address: 6390 Engelberg, Switzerland
  • Opening Times: Monday to Sunday 8 AM – 5 PM
  • Harga tiket Cable Car Ride PP Engelberg – Titlis seharga 92 CHF | Rp. 1,409,000. Tiketnya bisa dibeli di Titlis Valley Station. You can also purchase your tickets at the standard price from the ticket machines at the entrance to the valley station or via online shop
  • Direction: Dari Zurich Main Station, naik train IR70 ke Luzern. Kemudian di Lucerne, naik kereta pltaform 8 ‘Zentralbahn’ railway dan memakan waktu 45 menit untuk sampai di Engelberg Station. Dari sini kamu bisa naik free shuttle bus atau jalan kaki 10 menit ke TITLIS valley station. Terakhir naik cable car ke Titlis Mountain Station Titlis Mountain Station Google Maps Location
IMG_2979
This is what happen after Doo Min Joon stops the time, kiss Cheon Song Yi and let her go, he is “baper” and became Ice Prince statue

Impian manusia yang tinggal di negara tropis adalah merasakan salju. This is the first time I see snow in my life! Melihat hal yang diidam-idamkan untuk pertama kali, membawa saya masuk ke dunia baru. Merasakan udara dingin yang menusuk, meremas salju di tangan, mengagumi pemandangan spektakuler, dan guling-guling ga karuan.

Oh gini toh rasanya main salju. Perasaan gembira itu tak tergantikan. Mendadak saya menjadi anak kecil lagi. I fell in love like ‘yesterday afternoon child’ – anak kemarin sore! Mimpi masa remaja saya baru terwujud saat itu. Di tempat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

“If you have done it right, being adult is more fun than being a child. Especially being adult that act like a child in the snow paradise”

Advertisements

3 thoughts on “Sadisnya Salju Abadi di Mount Titlis

  1. Oppa, kacau sih!
    seru banget cerita jalan-jalan di mt Titlis. asli.
    foto2nya bikin gue mau ke sana Oppa >.<

    btw, setuju bgt dengan pernyataan Oppa ttng traveling pake tour yang Naik bus – didongengin tour guide – diturunin – foto-foto – main bentar – disuruh cepetan balik – repeat!
    tapi seru kan?
    semua udah disiapin, diberesin, tinggal terima duduk dan dipijetin *eh maksudnya sightseeing aja :p

    Liked by 1 person

    1. Kacau yah guling-guling nya. Salju memang bikin kedewasaan kita membeku, lalu balik jadi anak kecil lagi.

      Iya, serasa jadi raja minyak dari Qatar. Serunya lagi, kalo temen satu bus nya asik-asik semua. Family be like!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s