Megahnya Cologne Cathedral

Bagaimana caranya menjadi traveler yang memiliki street sense? Indra tambahan yang membuat kita lebih peka dan menikmati perjalanan. Pengetahuan yang membuat kita waspada dan siap bila terjadi hal yang tak diinginkan. Wawasan yang membuat kita ga gampang dibodohi dan bisa merespons dengan tepat.

Setelah malang melintang di studi kasus jomblo abadi. Dengan saya sendiri sebagai kelinci percobaan. Berikut, tesis ilmiah saya tentang street sense. Semoga setelah membaca ini, bakat terpendammu mulai nongol. Semakin sering kamu traveling, indra ini akan semakin terasah. Perlahan-lahan nongol banyak, lalu keluar dengan sendirinya. Petualanganmu pun akan mengalir dengan indah.

IMG_1932

1. Browsing before Traveling

Di era internet seperti sekarang, kita bisa survei destinasi hanya dengan goyang jempol. Sebelum berangkat, pelajarilah tempat tujuan dengan seksama. Google is our tour guide! Selain itu, banyak Apps di iPhone yang mempermudah kita mengakses info. Mulai dari prediksi cuaca, jadwal kereta dengan harganya, peta interaktif, destinasi wisata yang wajib dikunjungi sampai resto yang wajib dicoba. Mempersiapkan segala sesuatunya dari rumah, membuat waktumu disana lebih fleksibel.

‘Yah, ga asik dong. Ga ada spontanitasnya?’ Justru dengan membuat perencanaan, kamu bisa berspontan ria dengan nyaman. Waktumu ga habis dengan mencari free WiFi, membaca dan memahami, bingung memilih. Kamu ga kelamaan mikir mau makan apa, ke tempat wisatanya naik apa, beli tiketnya dimana. Waktumu ga habis percuma untuk hal sepele yang bisa kamu lakukan di rumah.

Let it flow bukan berarti kamu tenggelam dalam arus. Let it flow berarti kamu bisa mengalir dengan asik dan kreatif tanpa terbebani, karena sudah sedikit mendapat gambaran tentang medannya. Planning = saving time and money. The more you plan, the less you’ll spend. Ga kelamaan acara nyasar-nyasaran. Ga buang duit lebih banyak untuk hotel dan transportasi yang mesennya terlalu mepet. Pilihannya pun lebih banyak jika memesan jauh-jauh hari.

Browsing resto dan makanan khas di tempat tujuan, membuatmu bisa nyicipin makanan lokal yang super enak. Tidak terjebak di tempat touristy yang mahal dan rasa makanannya biasa aja. Kalo kamu sudah merencanakan dengan baik, flow-mu pun akan lebih nyaman, ga muncrat kemana-mana.

2. Plan your own itinerary

Misal, kamu datang ke suatu kota tanpa perencanaan. Kamu ga tahu mau lihat apa di kota tersebut, random aja deh. Kamu buta sama sekali tentang kota tersebut. Kamu asal keliling tapi ga ketemu hal yang seru dan menarik. Iya kalo kotanya kecil, kalo kotanya besar? iya kalo waktu dan duitmu banyak, kalo pas-pasan dan cuma sebentar?

Apalagi kota-kota di Eropa yang sightseeing nya tersebar di segala penjuru. Kamu menghabiskan waktu mengembara tanpa menemukan sesuatu yang sesuai dengan interest-mu. Plan your route with google maps. It’s not overplan, just a little homework. Jika kamu sudah puas dengan sightseeing kesukaanmu, kamu bisa sengaja menghilang. Jalan-jalan tanpa map, muter-muter sesukamu.

3. Learn about the history, lifestyle, and the people in your destination 

Sebelum sampai di destinasi bersejarah, renungkan kejadian masa lalu dari tempat tersebut. Biar makin meresap, dan menghargai apa yang kamu lihat nanti. Pahami adat istiadat warga sekitar. Bisa dari buku, blog ataupun Youtube.

Dengan mempelajari tempat yang akan kamu datangi, semakin kamu menyadari betapa eksotisnya tempat tersebut. Semakin baik juga kamu melebur dengan warga lokal. Pelajari sedikit sapaan sederhana bahasa lokal, misal kalo lagi di Paris, ‘Halo – Bonjour’, ‘Goodbye – Au revoir’, ‘Thank you – Je vous remercie. Walaupun ngomongnya belepotan, setidaknya mereka akan senang melihatmu mencoba menyapa dengan bahasa lokal. Seperti wanita yang selalu suka dikejar, tapi tak pernah memberi kepastian.

If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home – James A. Michener

Yang paling penting, pelajari kata Exit. Kata Exit ga selalu mirip. Bayangkan di Prancis exit nya bertuliskan Sortie! Kalo kamu ga tau, bingung juga kan? Sangat berguna bila kamu ingin mencari jalan keluar dari stasiun kereta, terutama saat terjadi bencana yang tidak diinginkan, misal kebakaran dan gempa bumi.

4. Be Open to strangers, but keep Cautious 

Say Hi! ke orang asing. Entah yang lagi duduk sendirian di cafe, atau yang lagi melamun di kereta. You will never know when strangers will become friends for life. Banyak orang yang sama sepertimu, berpetualang sendirian, dan ingin menemukan teman yang asik di jalan. Tapi jangan lebay sampe dadah-dadah ke semua orang, yang ada malah kamu disangka orgil.

Terbuka namun tetap waspada. Supel tapi ga murahan. Friendly, classy and elegant! Waspada dari scam yang bikin traveling-mu berantakan. Jika dia mengajakmu ke tempat gelap, pastikan membawa senter. Jika dia mengiming-imingimu dengan permen, pastikan itu bukan cimeng.

5. Give attention to detail

It’s the little details that are vital. Sepatu yang nyaman, bisa membuatmu bahagia. Saat traveling pasti banyak jalan, pakailah yang paling nyaman namun tetap kece. Satu aja cukup, ga perlu banyak-banyak. Leave your high heels at home.

Good shoes bring you to a good places. 

Bawa botol minuman atau tumblr sendiri. Glegek sampai habis sebelum melewati security penerbangan. Isi ulang dengan air keran yang bisa diminum saat hendak bepergian. Selain menghemat uang, kamu ikut menjaga lingkungan.

Waktu di bandara Sydney, saya lupa punya sebotol milk shake chocolate dari Bourke Street Bakery. Pas sampe security screening, bener aja minuman tersebut ga boleh dibawa masuk. Karena ogah rugi, saya pun glegek sebotol milkshake chocolate kaya sapi gelonggongan.

Jangan makan di touristy area karena biasanya mahal. Jangan lupa membawa fotocopi passport. Jangan lupa foto kopermu, bila kopermu hilang, foto ini akan mempercepat proses identifikasi. Dan masih banyak lagi detail kecil lainnya yang bisa kamu tambahkan sendiri.

Semoga tulisan ini berguna bagi single traveler, friendzone traveler, ataupun crowded traveler. Sekali lagi, tidak ada yang abadi di dunia ini, bahkan untuk seorang jomblo abadi. Sedikit ga nyambung yah. Salam jedar-jeder, Ciao!

A traveler without observation is like Nobita without Doraemon

IMG_1898
The view around the church
IMG_1899
Cologne has more sophisticated ambience, with a classical looking city centre that is dominated by its artistic-style buildings

Begitu mendengar kata Cologne, saya langsung teringat akan Rexona. Cologne yang membuat saya segar sepanjang hari. Namun, Cologne yang ini beda. Cologne merupakan kota terbesar keempat di Jerman. Saya bersama rombongan tur, datang kesini untuk melihat gereja gothic TERBESAR di Eropa Utara. Di sekeliling gereja terdapat bangunan dan rumah-rumah tua yang cantik. Cologne memang seperti pedesaan jika dibandingkan dengan Munich atau Berlin.

IMG_1805
Cologne Cathedral’s two soaring towers reign the skyline. The high gothic trademark of the city. It took 700 years to complete. You can even climb up the 533 steps to the top of the south tower, and enjoy the panoramic views

Kölner Dom is an architectural masterpiece! Arsitektur bangunan dan sejarah gereja yang impresif, membuat Cologne Cathedral menjadi magnet bagi turis. Butuh waktu 700 tahun untuk menyelesaikannya. Tingginya mencapai 157,4 meter. Katedral ini bisa menampung sampai 20,000 orang. Bahkan sampai sekarang, beberapa bagian masih direnovasi.

IMG_1857
The architecture around the church is beautiful. Detailed with very sophisticated carvings

Pada masa perang dunia ke-2, empat belas bom udara pernah menghantam gereja ini. Sementara sebagian besar kota rata oleh bom, struktur gereja ini masih tetap berdiri. Ajaib! Tidak heran, Gereja ini masuk UNESCO World Heritage List. Arsitektur Gothic-nya begitu mengesankan. Pilar-pilar besar dan ukiran ornamen menghiasi pintu masuk gereja. Di puncak pintu masuk, terdapat patung Bunda maria yang sedang menggendong Yesus. Keren abis!

IMG_1858

Cologne Cathedral – Kölner Dom

  • Landmark Gothic cathedral with a huge facade and Rhine views
  • Address: Domkloster 4, 50667 Köln, Germany
  • Entrance Fee: Free. If you want to go up 533 stairs to roof top, it costs 4 euro per person
  • Hours: Everyday 6 AM – 7.30 PM. Visitors are not allowed to walk around during masses but visitors can sit and attend
  • Direction: Keluar dari Köln train station, lalu berjalan kaki 5 menit ke Kolner Dom Google Maps
IMG_7433
Standing in front of this gigantic church makes me feel like an ant. It’s hard to get the full church into camera’s viewer, even from far away. The perfect photo isn’t easy. If you manage to get the whole church in one photograph, you’re a pro!

Saya sengaja mengenakan jas sebagai Outfit of the day, bahasa gaulnya OOTD. Ga peduli temen tur pada ngemeng epe, yang penting saya bisa bergaya ala pria mapan. Walaupun pada akhirnya saya malah terlihat seperti pria kesepian yang pre-wedding dengan dirinya sendiri.

‘Wah, pagi ini Steve rapi banget. Udah kaya bapak Pendeta’ ujar Koh Hendry memulai ledekan. Nah, kan bener aja. Saya pun tersenyum, bingung harus memberikan respons seperti apa. Kalo dari sifat, saya lebih tepat disebut sebagai penyamun. Kalau saya jadi pendeta, yang ada malah domba-domba saya makin tersesat.

Begitu masuk, saya terperangah menyaksikan pelataran yang tingginya mencapai 140 kaki. Pilar yang menopangnya terlihat kokoh dan misterius. Kaca jendela nya dipenuhi lukisan mosaik. Stained glass menawan yang merupakan pemberian dari King Ludwig I.  Beberapa bagian kaca jendelanya terbuat dari kristal keunguan. Tujuannya agar suasana didalam gereja tetap khusyuk, meski refleksi sinar matahari memancar masuk.

Mosaik adalah seni menciptakan gambar dengan menyusun kepingan-kepingan kecil berwarna dari kaca, batu, atau bahan lain. Seni ini merupakan sebuah teknik dalam seni dekorasi dan juga merupakan aspek dari dekorasi interior – Wikipedia

IMG_2247
Amazing to look at both from within and externally. Pictures taken by Pao-pao, my friend in a tour
IMG_2240
The furnitures look so old and antique. I was amazed by the architectural beauty and the spiritual aura within the cathedral. It provides a soul healing experience! Picture taken by Pao-pao

Salah satu interior gereja tercantik yang pernah saya kunjungi. Aura spiritual di dalam gereja terasa sakral dan damai. Altarnya yang tua dan antik, bikin saya merinding. Dindingnya penuh dengan ukiran dan patung seni bersejarah. Ga habis pikir, begitu hebatnya pemikiran dan kerja keras orang yang membangun gereja ini.

Keterbatasan waktu, membuat saya ga sempat menaiki 533 anak tangga menuju puncak menara. Dari situ kamu bisa melihat panorama kota Cologne. Masuk gereja nya gratis, tapi kalo mau keatas dikenakan biaya 4 Euro | Rp. 70,000.

IMG_1836
Some of the stained glass windows on the church were expensive gifts from King Ludwig I. The architecture, the atmosphere within the cathedral, the work on the walls and paintings are just beyond compare

Kalo di dalam gereja suasananya begitu sakral, begitu keluar malah hingar bingar. Saya melewati beberapa square atau ruang terbuka publik dimana orang pada nongkrong. Saya pun ikut duduk-duduk di bangku taman, mengecek foto sejenak di bawah pepohonan.

IMG_1893
The church just next to the Köln Hauptbahnhof central station
IMG_1881
Outside the church, you can enjoy some street musicians, street painters, and funny acrobatic show

Kemudian saya berkeliling area sekitar Katedral. Sepanjang mata memandang banyak pertokoan yang menjual barang-barang branded. Mulai dari butik, cafe, pub, restoran, sampai toko pernak-pernik. Banyak seniman mempertontonkan hasil karya mereka. Pelukis yang mewarnai ditengah kerumunan, pria raksasa berkaki panjang yang sedang membagikan balon. Oh, gini toh pasar malemnya orang Jerman.

IMG_1886
Kolner Dom is beautiful from every angle. We spent about four hours wandering around plaza and the church before heading back to the bus
IMG_1960
It looks like a normal donuts, but it’s not. This donut has creamy liquor inside, yummy!

Snacking time! Siang itu saya ngopi dan mengisi perut di cafe lokal yang bernama Merzenich. Nyobain roti khas Jerman yang disebut Pretzel dan jelly-filled doughnuts! Pretzel ini bentuknya unik, kaya diiket jadi tiga belitan lubang. Mungkin penemu roti ini dulunya suka main karet gelang. Kulit luarnya keras dan crunchy, sementara dalamnya empuk. Rasanya asin-asin garing gitu. Seperti dengerin gojekan temen yang ga lucu.

Untuk ukuran perut asia, pretzel cukup mengenyangkan. Itungannya bukan snack lagi saking tebelnya roti. Selain itu, saya juga nyobain jelly-filled doughnuts. Makanan asli Berlin. Isi dalam donutnya ada jelly dengan campuran liquor, nyes banget mulut. Manis berpadu dengan pahitnya alkohol. Yum!

Selain mengenyangkan, pretzel juga makanan yang merakyat. Dengan 2-3 Euro, dah dapet roti bolong segede gaban. Saat itu saya beli pretzel topping almond dan original polosan. Karena ga abis, saya bagi-bagi ke Yemi Family, temen tur yang duduk bersebelahan di bus. Mereka pun setuju sama saya, ngangguk-ngangguk enak, asin asin garing gitu.

Sambil menikmati roti dan kopi, saya memperhatikan orang berlalu-lalang. Gaya mereka berjalan, berbicara, dan bersenda gurau. Dari yang saya lihat, orang Jerman seperti orang Eropa pada umumnya, berwajah datar dan tegas. Jalannya pun cepet-cepet, mungkin karena dingin. Saat itu berkisar 6° Celcius.

IMG_1950

Merzenich Bäckerei

  • Address: Breite Str. 34, 50667 Köln, Germany
  • Hours: Monday – Sunday 7AM – 7PM
  • Direction: Merzenich Google Maps

Cewe-cewenya tinggi-tinggi bak model, pria cendik seperti saya terlihat seperti kurcaci. Bayangin kalo saya jadi kekasihnya, pas berdiri cuma bisa kiss sampe leher. Jadinya kebalik, malah saya yang jinjit. Sementara muka cowo-cowonya ya kaya Tony Kroos gitu. Ada beberapa yang berwajah campuran Turki, Ozil banget.

 

Sebenarnya masih banyak yang belum saya explore di Cologne. Seperti nyobain beer Kolsch, berfoto di jembatan cinta Hohenzollern bridge, menikmati pemandangan Rhine River, mengunjungi Ludwig Museum, dan menyusuri warna-warni kota tua di Altdstadt. Saya merasakan ga enaknya ikut tur hari itu, waktunya bener-bener terbatas. Setidaknya dengan berjalan seadanya, saya merasakan sepercik indahnya kota Cologne.

Setelah itu, kami kembali ke bus menuju hotel di Frankfurt. Kami sempat berhenti sebentar di Indomaretnya orang Jerman. Karena harga beer nya lebih murah dari air putih, saya pun memilih beli ‘Jack D mini’ yang merupakan campuran liquor dan cola. Tujuannya sih biar tidurnya pules, eh yang ada malah kebelet pipis di bus.

Sang kasir mengingatkan saya agar kaleng nya jangan dibuang. Kalo dikumpulin, bisa ditukerin duit. Saya pun manggut-manggut, daur ulang yang efektif. Ga cuma pemulung, tapi semua orang bisa. Negara maju memang tak berhenti membuat saya kagum. Ga cuma kotak sampah yang terpisah berdasarkan jenisnya, sistemnya juga saling menguntungkan. Orang pun sadar untuk ikut menjaga lingkungan.

IMG_1928 2

Di dalam bus, sambil nge-beer saya merenung. Setelah lulus SMP, impian terdalam saya adalah lulus di SMA favorit. Setelah itu masuk Universitas favorit. Lalu kerja dengan nyaman dan menikah dengan istri favorit. Sampai disini saya masih mentok. Impian saya sedikit melenceng. Kenapa saya belum bertemu dengan istri favorit dan malah asyik traveling?

Saya pun menghibur diri dengan berkata, ga papa deh mumpung masih sehat dan fit. Semoga bisa ketemu istri yang jago masak, menyenangkan, dan sexy pas lagi traveling. Kaya di drama-drama gitu. Setelah itu kami menikah, punya anak yang unyuuu, lalu hidup bahagia selamanya. Begitulah isi doa saya saat berada di dalam gereja terbesar di Jerman.

‘The world is a book. Your soulmate can wait’ – said an angel inside my heart

IMG_1979
The view from my room at Leonardo Royal Hotel, Frankfurt

 

Advertisements

2 thoughts on “Megahnya Cologne Cathedral

  1. The fact is, nggak semua traveler itu punya street sense atau mau melatih diri punya street sense. Beberapa traveler hanya mencari cara untuk menghabiskan uang. Sebagian lagi hanya ingin mengumpulkan foto-foto untuk linimasa. Mereka nggak tertarik dengan kehidupan lokal atau kearifan daerah.

    Bener, lu kayak pastor buat gereja youth, hahaha. Tapi mending lho, dikasih 4 jam di gereja ini. Gue pernah pake tur yang cuma kasih waktu setengah jam di satu spot, padahal bagus banget dan belum puas foto-foto. Anyway, gue juga asli Jogja, kalau pas gue mudik dan lu nggak sibuk, meet up yok.

    Like

  2. Gerejanya gede banget ya. Keren…sayang banget waktu ke Jerman nggak sempat kemana-mana cuma ke pabrik doang. Salam kenal, kak 🙂

    Saya setuju, sepatu nyaman sangat penting untuk modal traveling, apalagi kalau sendirian 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s