Things to do in Madrid. Kota Metropolis nan Eksotis

Lebih enak mana, traveling jaman dulu atau sekarang? Karena saya termasuk generasi Milenial (manusia yang lahir di tahun 1980-1997), tentu saja saya merasa jauh lebih enak sekarang. Kok bisa? Teknologi dan internet mempermudah segalanya. Berikut opini dari mata seorang om-om Milenial.

  1. Sulit membayangkan jalan-jalan tanpa iPhone dan GPS. Dulu, nyasar dikit tanya orang. Sekarang, nyasar dikit liat Google Maps. Ada fitur offline nya lagi. Ga perlu buka peta kertas segede gaban. Kamu bukan Dora!
  2. Dulu traveling hanya untuk orang kaya, now everyone can fly. Dulu susah banget dapet tiket murah karena flight masih terbatas. Sekarang tiket murah berhamburan. Tinggal nunggu promo maskapai penerbangan atau Online Travel Fair. Pas lagi ga ada promo, tinggal search di Skyscanner untuk mencari opsi yang termurah berdasarkan waktu dan tanggal keberangkatan.
  3. Dulu, belum ada pemesanan tiket pesawat, kereta, dan hotel secara online. Sekarang, Traveloka, Go EuroBooking dan kawan-kawan siap memuaskanmu. Tinggal goyang jempol, kita jadi travel agent untuk diri sendiri!
  4. Dulu, sulit mencari informasi destinasi wisata. Mentok, liat brosur atau beli buku panduan kaya Lonely Planet yang harganya ga murah. Sekarang tinggal klik sambil tiduran, Google pun membanjirimu dengan informasi gratis! Mulai dari web, blog, dan Youtube.
  5. Dulu karena minim informasi, orang takut bepergian sendirian. Akhirnya mereka memakai tur wisata. Sekarang, orang mulai berani pergi sendiri karena info destinasi beserta tips-tipsnya didapat dengan mudah di Internet. You are able to overcome your fear, and do what you dream.
  6. Dulu traveling masih naik unta, sekarang udah naik private jet *Syahrini SWAG
  7. Dulu belum ada Internet, biaya telepon interlokal mahal. Sekarang bisa chat, video call, bahkan live streaming ditonton khalayak ramai. Gratis tinggal nyari Free Wifi. Papa mama tenang, fans senang, haters meriang.
  8. Dulu, kita masi meraba-raba seperti apa destinasi yang akan didatangi. Sekarang, sebelum sampai kesana kita sudah tau mau ngapain dan makan apa. Itinerary pun bisa dipersiapkan secara detail.
  9. Dulu kita gampang tertipu saat traveling. Sekarang, Kita lebih tahu mana tourist trap yang harus dihindari dan mana transportasi publik yang bisa diandalkan. Fake Taxi, Copet, tipu-tipuharga dimahalin, pura-pura minta donasi, pelayan pura-pura lupa kasi kembalian. Kita belajar dari pengalaman yang dibagikan orang lain. Kita pun lebih pede dan mawas diri.
  10. Dulu belum ada Instagram, Facebook dan kawan-kawan. Traveling benar-benar hanya untuk diri sendiri. Sekarang, kamu bisa berbagi apa yang ada didepanmu dengan semua orang.
  11. Dulu, kamera masi pake rol film dan kualitas gambarnya masi kaya film Dono Kasino Indro. Sekarang, kualitas foto dari iPhone aja udah lebih keren dari kamera jadul. Apalagi dengan Mirrorless Camera atau DSLR yang kualitasnya super sharp dengan bokeh effect super smooth. Kamu pun berasa jadi foto model.
  12. Dulu, HP Nokia cuma bisa buat mainan game uler kejedot. Sekarang, iPhone bisa menyimpan ribuan game, buku dan lagu. Jadi ga bosen pas lagi nganggur di kereta atau pesawat.
  13. Dulu, semua serba cash. Bawa kebanyakan resikonya gede. Sekarang, tinggal gesek aja. Kalo sekaya Hotman Paris si bebas. Kalo sobat kismin, boro-boro bawa cash banyak, makan di angkringan aja masih nyicil.
  14. Tambahkan versimu sendiri.

Berbahagialah kita yang traveling di era milenial!

Namun, traveling jaman dulu punya romantisisme tersendiri. Bisa kirim-kiriman surat dan kartu pos, bisa nangis-nangisan di Airport karena bakal kangen beneran ga bisa berkabar dalam waktu lama. Zaman dimana belum ada Whatsapp buat keep in touch.

Dulu traveling benar-benar waktu menikmati kesendirian, kita tidak terganggu oleh keinginan mengupload foto di Instagram dan membalas comment di Facebook. Traveling murni karena ketertarikan ingin berpetualang ke tempat baru, menikmati pengalaman baru, dan menjadi diri yang baru.

Lalu apakah traveling jaman dulu lebih berkelas dibanding sekarang? Tidak juga. Dengan segala kemudahannya bukan berarti traveling kita jadi cemen.

“To travel is the experience of ceasing to be the person you are trying to be, and becoming the person you really are.”
Paulo Coelho, Warrior of the Light

Traveling tidak selalu indah. Traveler era Milenial juga memiliki tantangannya sendiri. Pesawat yang delay, bule yang jutek, copet yang nakal, cek-cok sama temen, dapet uang kembalian palsu, likes Instagram yang sedikit, di blok gebetan karena cemburu, mencret akibat kebanyakan makan kari, dan lain-lain.

Pengalaman tak terduga menjadi kenangan tersendiri. Kisah sebuah perjalanan ga melulu harus yang indah bukan? ‘It’s not always about the destination, sometimes the journey has its own rainbow’

Dulu dan sekarang, inti traveling tetaplah sama. Melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan. Menikmati penyegaran jiwa di tempat baru.

You can’t skip chapters, that’s not how life works. You have to read every line, meet every character. You won’t enjoy all of it. Hell, some chapters will make you cry for weeks. You will read the things you don’t want to read. But…

You will have moments when you don’t want the pages to end. But you have to keep going. Stories keep the world revolving.

(It’s not like Insta stories that you can skip everytime)

– Pillow Thoughts II

IMG_7626
Posing like Becks in front of the 5th largest palace in the world.  Fun Fact: It’s bigger than Buckingham Palace!
DmKzi-MW4AA5TFU
Picture courtesy by Adidas.com

Barcelona, akhir musim gugur 2018. Di pagi yang cerah, angin terasa lebih menusuk dari biasanya. Saya menaikkan retsletting jaket, memasukkan satu tangan ke dalam saku dan menutupi kepala dengan hoodie. Adidas ZNE Hoodie yang baru saya beli sehari sebelumnya. Saat mengenakannya, saya merasa cool seperti David Beckham.

Benar, jaket baru ga cuma bikin pede, tapi juga bikin songong. Walaupun sesungguhnya kamu hanyalah korban iklan yang bahagia. Sambil menggeret koper, saya melangkahkan kaki menuju Universidad Metro Station.

IMG_6661

Barcelona to Madrid by Train

Keliling Eropa paling nyaman, gampang, dan relatif murah ya naik kereta. Saya berangkat dari stasiun kereta Barcelona Sants pada pukul 9 pagi, dan tiba di Madrid Atocha pukul 11.45. Dengan tiket renfe yang sudah saya beli melalui Go Euro app, saya tinggal scan barcode di gate keberangkatan dan menunjukkan mobile ticket di iPhone ke conductor. Ga perlu repot nge-print lagi.

IMG_6664
Madrid Atocha Station

Tips

Menemukan gerbong atau gate keberangkatan tinggal baca di layar digital yang bertuliskan kota tujuan, jam berangkat, dan nomor jalur rel. Sistem Kereta Eropa tepat waktu sampai ke menit-menitnya.

Kalau di jadwal akan tiba di Madrid pukul 11.45 maka tepat jam 11.45 akan sampai. Pasang ALARM! Jangan ketiduran sampe kebablasan! Jangan lupa ngambil bagasi koper!

IMG_6744
The cheapest and most convenient way is to get your transportation card which gives you full access to all Madrid public transportation (metro, tram, bus). Order your transportation card called ‘Abono’ in the machine or counter. And then Top it up! It works just like an Ez Link Card in Singapore

How to get around city?

Sesampainya di Madrid, saya membeli kartu transportasi umum di mesin yang tersedia. Fungsi kartu ini kaya Ez Link card di Singapore, cuma disini namanya ‘Abono’. Dengan kartu ini, kamu bisa naik semua transportasi umum kayak metro, tram, dan bus.

Harga kartunya €2.50, belum ada isi creditnya. Kamu bisa membeli dengan koin, cash ataupun kartu kredit. Di mesinnya ada pilihan bahasa Inggris. Kalo bingung, kamu bisa beli di konter stasiun yang ada penjaganya.

Kamu juga bisa langsung top up, menambah kredit jumlah uang di kartu. Ada berbagai macam pilihan top up, sesuaikan dengan itinerary-mu.

  • Top up untuk sekali perjalanan, seharga Single ticket 1,50€-2,00€ (tergantung jarak atau jumlah perhentian metro yang dilewati). Kalo dari pusat kota ke Airport, kena extra charge 5,00€
  • Top up sekali banyak, seharga 10-journey ticket 12,20€
  • Tourist travel card 1-day 8,40€ – Pas buat kamu yang cuma punya waktu sehari di Madrid. Cukup top up sekali 8,40 Euro, puas-puasin naik metro kemana aja
plano-metro-madrid-2018-01
Madrid has one of the best underground systems in the world. It can get you almost everywhere in the city. Picture courtesy by planometromadrid.org Download Madrid Metro Map in PDF right here 

Sebenarnya, kartu ini jarang saya pakai di Madrid. Saya memakai Abono cuma saat hendak pergi dari Atocha stasiun ke pusat kota, dari hostel ke Santiago Barnebeu, dan terakhir saat menuju Bandara. Selebihnya saya jalan kaki karena tempat wisatanya saling berdekatan dan begitu sentral di pusat kota.

Dari semua kota di Eropa, saya merasa sistem kereta bawah tanah di Madrid paling nyaman dan efisien. Rutenya jelas menjangkau hampir tiap sudut kota. Ga berjubelan kaya di Roma, dan jauh lebih bersih dibandingkan Paris. Dari Atocha, saya menuju ke Sol stasiun. Kemudian jalan kaki ke TOC, hostel tempat saya menginap.

Where do i stay in Madrid?

‘Hola!’ sesampainya di Hostel, resepsionis menyambut dengan ramah. Saya pun diperbolehkan langung menempati kamar, walaupun sebenarnya belum waktunya check in. Inilah nikmatnya stay di kota yang level touristy nya ga over.

Dengan lift, saya menuju kamar yang berada di lantai tiga. Begitu masuk, saya merasa bebas karena di kamar ga ada orang lain, kasur pun sudah tertata rapi. Yihaaa! satu kamar buat sendiri. Jadi hostel rasa hotel, saya pun selonjoran bebas tanpa memakai celana. I feel free! Syahrono berkumandang.

Lantai kamarnya berbahan kayu, lighting-nya homy, kasurnya empuk lengkap dengan colokan listrik dan pouch bag buat naruh hape. Ada kamar mandi dalem dengan hot shower. Jendela kacanya bisa dibuka, kamu pun bisa menyaksikan ciwi-ciwi lewat.

Yang paling sempurna adalah lokasinya. Tepat berada di pusat kota. Area sekitar hostel dikelilingi pusat perbelanjaan. Keluar Hostel langsung liat Starbucks. Dari hostel, cukup jalan kaki sekitar 8 menit untuk sampai ke Royal Palace.

TOC Hostel Madrid

  • In a traditional downtown apartment building. Bright, artsy mixed-sex and female-only dorms come with free Wi-Fi, shared bathrooms, bunk beds and lockers
  • Address: Plaza de Celenque, 3, 28013 Madrid
  • Price for one night in 8-Bed Mixed Dormitory Room 19 Euro | Rp. 315,000
  • Direction: 3-minute walk from Puerta del Sol metro station and 4 minutes from stately Plaza Mayor square TOC Hostel Google Maps Location

Lounge area nya keren abis. Dekorasi interiornya Spanyol banget *iya lah lo lagi di Spanyol. Ada bar, meja billyard, dan sofa empuk buat duduk sambil tebar pesona. One of the best hostel that I’ve stayed in Europe.

What to do in Madrid?

LRG_DSC01382
The historic cafe that has deep fried Churros and chunky Hot Chocolate as their main course. The terrace is open, lively and cheerful. Must try in Madrid!

1. Ngemut Churros di Chocolatería San Ginés

Setelah menaruh koper dan bersantai sejenak, saya langsung menuju Chocolateria San Gines. Cafe Churros yang letaknya gak jauh dari Hostel. Kalo kita sarapannya bubur, orang Spanyol paling suka sarapan Churros! Adonan roti goreng berbentuk stik panjang. Cafe bersejarah ini sudah buka sejak tahun 1894. Pengalaman mereka menyempurnakan cita rasa Churros dan Hot Chocolate sudah ga diragukan lagi.

Chocolateria San Gines

  • Traditional Churros with Chocolate since 1894. A bar reminiscent of the cafes in the late nineteenth century
  • How to order: Step 1, order at the cashier. Step 2, give your order receipt to a waiter and be seated
  • Best seller menu: Hot Chocolate with 6 Churros 4 Euro |Rp. 67,000
  • Address: Pasadizo de San Ginés, 5, 28013 Madrid
  • Open 24 Hours
  • Direction: San Gines Google Maps Location
Porras! Spain's most famous breakfast. The golden fried dough sticks coated in sugar, served with a cup of thick and rich chocolate
Porras! Spain’s most famous breakfast. The golden fried dough sticks coated in sugar, served with a cup of thick and rich chocolate

Setelah memesan, saya lalu mencari tempat duduk. Karena di teras dan dalam penuh, jadinya saya duduk di lantai bawah. Keren… cafe ada bunkernya. Mungkin sisa jaman perang. Bayangan tentara menyembunyikan sekardus Churros di bawah tanah, tiba-tiba berputar di kepala.

Ga lama setelah duduk, Churros tiba di meja. Bentuknya unik, saking panjangnya jadi sedikit melengkung. Warna coklat keemasannya terlihat menggoda. Disajikan fresh langsung dari penggorengan dengan secangkir hot chocolate. Anget!

Berbeda dengan negara lain, hot chocolate khas Spanyol bener-bener kentel. Cara makannya mirip dengan Oreo, ‘diputer dijilat dicelupin’. Bedanya, Churros langsung dicelup ga perlu dijilat-jilat terlebih dahulu. Quickie! 

LRG_DSC01357
Churros in here are warm, light, and less sweet. Crunchy on the outside, squishy on the inside. Dipping it into melted chocolate is simply right. They melts in your mouth perfectly with rich bittersweet chocolate. Bueno, fulgoso!

Abis sesi pemotretan, Churros pun masuk kemulut. ‘Kress kress kress’, saking renyahnya mulut pun bersuara. Crunchy on the outside, squishy on the inside. Ga terlalu manis, lebih ke asin dan gurih. Sangat berbeda dengan Churros Disneyland yang super sweet.

Habis ngerasain yang polos, saatnya nyobain yang liar! celup-celup Churros ke dalam chocolate. Slurrrrppp… rasanya kenyol-kenyol nyess. Menyatu sempurna dengan rich bittersweet chocolate. Tanpa sadar, 6 churros panjang habis dalam sekejap.

Makan makanan Spanyol di negara Spanyol memang ga pernah salah!

2. Strolling around Puerta del Sol

LRG_DSC02144
El Oso y El Madroño. The 20 ton statue of a bear eating fruits from a tree. These two emblematic figures represent the official symbol of Madrid

Setelah kenyang, saya bertemu dengan beruang. Beruang pohon yang menjadi lambang resmi kota Madrid. Apakah dia beruang madu? Saya tidak tahu. Apakah dia kenal dengan Winnie The Pooh? Bisa jadi. Yang pasti, dia beruang yang sedang memakan buah strawberry langsung dari pohonnya.

Beruang yang menjadi monumen perjanjian perdamaian antara pendeta dan dewan pemerintahan atas eksploitasi hutan di masa lalu. Sekarang, beruang ini menjadi favorit turis untuk berfoto. Kalo di Shibuya ada Hachiko, di Sol ada Hachibear *karena ga punya nama, saya namain sendiri beruangnya *maksa

LRG_DSC02135 2
In the middle of the Puerta del Sol, a large equestrian statue of King Carlos III looks out on a beautiful 18th century red brick building, the Casa de Correos (The House of the Post Office). The best mayor of Madrid! during his reign (1759-1788) he improves the city  greatly. Doing everything from building hospitals to founding Spain’s lottery
LRG_DSC02136
According to legend the original name of the city was ‘Ursaria’ (land of bears in Latin), due to the high number of Bears that were found in the forest
IMG_6667
It’s beginning to look a lot like Christmas. Locals are sitting and enjoying people-watching

Puerta del Sol

  • Madrid’s most famous square, a bustling meeting place in the heart of the city. An equine statue of King Carlos III and 0 km marker stone for Spanish distances
  • Address: Plaza de la Puerta del Sol, s/n, 28013 Madrid
  • Direction: Lines 1, 2 and 3 – Sol station Sol Google Maps Location

LRG_DSC02149

Siang itu, pertengahan November 2018, hawa dingin sejuk menyapa. Langit sedikit mendung. Bule-bule berseliweran dalam dekapan winter coat yang fashionable. Menyaksikan gaya berpakaian mereka, menjadi keasyikan tersendiri.

Kebanyakan dari mereka mengenakan coat yang dipenuhi bulu di pinggiran penutup kepala. Konon, bulunya ga cuma menghangatkan tapi bisa menahan debu salju masuk ke mata. Slayer serta sepatu boot mereka juga necis dan keren.

LRG_DSC01394
Shopping therapy with belanja-belanji

Gaya hidup kekinian begitu menonjol di Madrid. Pertokoan diantara bangunan bergaya abad pertengahan menghiasi kanan kiri jalan. Area ini dijejali kafe, restoran, toko souvenir, toko buku, dan mol barang bermerek. Ada Starbucks, La Mallorquina, Apple Store, Tattoo shop, Foot locker, Zara, Casa del Libro book store, Supermarket El Corte Ingles dan lain-lain.

LRG_DSC01400

Jumlah jendela yang banyak menjadi ciri khas rumah-rumah Spanyol, bentuknya seperti pintu dengan teralis di bagian depan. Mungkin sengaja dibuat gini, biar cowo bisa menggombali ciwi dengan bernyanyi sambil memainkan gitar dari bawah. Sang ciwi pun menyaksikan dari balcony dengan tersipu-sipu napsu. Te amo más que nada en el mundo!

En palabras simples y comunes yo te extraño
en lenguaje terrenal mi vida eres tu
en total simplicidad seria yo te amo
y en un trozo de poesia tu seras mi luz, mi bien

In simple and common words I miss you
in earthly language my life is you
in total simplicity, I would love you
and in a piece of poetry you will be my light, my good

Chayanne – Yo te amo

LRG_DSC02148
Supermercado El Corte Inglés. Huge shopping centre that sells almost anything! It’s also a nice supermarket, with a good range of clothes, food, and souvenirs

Area berbelanja disini ga cuma cantik dan menyenangkan. Di sepanjang jalan, saya terhibur oleh pertunjukan street artist yang nyentrik. Mata langsung tertuju pada Alien yang lagi ngangkat seorang tentara, seolah hendak memakannya hidup-hidup.

Patung aliennya real abis. Yang membuat saya ga habis pikir, apa ga cape dia mengambang kaya gitu? Kita yang hubungannya digantung tanpa kepastian aja lelah.

Hmmm… sambil motoin saya mulai berpikir trik apa yang mereka pakai. Kayanya sih ada handel berbentuk tangan palsu dengan strap karet penopang tubuh tersembunyi di balik jaket. Namun tetap dibutuhkan fisik yang kuat untuk bergelantungan seharian. Kalo kamu terhibur dan lagi ga kismin, sisihkan sedikit koin Euro-mu buat mereka.

LRG_DSC01395
Teatro Real Opera. The heaven for the arts, ballet, and flamenco music
LRG_DSC01401
The street was lined with exotic buildings. I’m stunned by the magic of Spanish architectural design

3. Admiring The Beauty of Palacio Real de Madrid

LRG_DSC01442
The striking architecture of the world famous Royal Palace. White washed and crystallised baroque exterior. It was inspired by the sketches for the construction of the Louvre in Paris made by Bernini

Setelah mengitari Puerta del Sol, saya sampai di Royal Palace of Madrid. Istana yang dulunya merupakan kediaman resmi keluarga kerajaan. Sekarang, istana ini dijadikan tempat upacara kenegaraan dan dibuka untuk umum. Bangunannya bercorak putih elegan. Sesuai dengan warna jersey tim sepakbola kebanggaan kota ini, Real Madrid.

LRG_DSC01420
Beautiful fountain and Magnificent statue of Felipe IV, looks like he’s protecting the Palace

Patung perunggu Philip IV yang lagi menunggang kuda, berdiri megah diantara kolam air mancur dan taman hijau yang menghiasi istana. Raja Spanyol paling hebat sepanjang sejarah. Raja yang memegang kendali seluruh wilayah kekuasaan Spanyol di dunia (1621-1665).

Royal Palace of Madrid

  • 18th-century, ridge-top palace for state occasions, plus tours with rooms full of art and antiques
  • Address: Calle de Bailén, s/n, 28071 Madrid
  • Entrance Fee: 10 Euro
  • Hours: Senin – Minggu 10AM–8PM
  • Direction: Palacio Real de Madrid Google Maps Location

It was a lovely sight in the afternoon. Taman cantik yang menghiasi istana terasa menenangkan. Sepanjang mata memandang, orang-orang duduk bersantai. Saya pun ikut nongkrong di bangku taman sambil memperhatikan sekitar. Ada om-om berjanggut putih lagi baca koran, sepasang remaja bergantian berfoto di depan air mancur dan Penelope Cruz yang senyum-senyum sendiri menatap iPhone.

Maksud saya, gadis yang wajahnya mirip Penelope Cruz. Wajah khas timur tengah dengan kulit kecoklatan, rahang pipi tirus, dan bermata biru. Saat itu saya langsung membayangkan artis asal Spanyol lainnya kayak Jennifer Lopez, Shakira, dan Salma Hayek. Betul, ketiganya memiliki lekuk tubuh yang aduhai. Gitar spanyol beneran, bukan boongan.

Sexy itu relatif, Montok itu mutlak

LRG_DSC01450
I’d rather live in a cave with a view of a palace than live in a palace with a view of a cave – Karl Pilkington
LRG_DSC01463
This square is surrounded by three-floor buildings and nine entrances

4. Saying prayer at Catedral de la Almudena

LRG_DSC01456
Located next to the Royal Palace. The building of the Almudena cathedral completed in 1993. The Neo classical baroque exterior is simply wonderful. The perfect place to marry a princess

Berdekatan dengan Royal Palace, terdapat Katedral terbesar di Madrid. Bangunan gerejanya didominasi oleh warna putih, rose gold, dan biru. Cantik abis!

LRG_DSC01493
The church’s door also with its unique design

Catedral de la Almudena

  • Baroque Catholic Cathedral known for its colourful chapels, Romanesque crypt & museum. Full of amazing stained glass and dome. Iconography of Jesus, the Virgin Mary, and other saints on display. Please don’t miss visiting the small chapel to the right of the altar where the tabernacle for the sacred sacrament is kept
  • Address: Calle de Bailén, 10, 28013 Madrid
  • Hours: Gereja nya buka tiap hari. Museumnya buka Senin – Sabtu 10AM – 2.30PM
  • Admission Fee: Masuk gerejanya gratis. Masuk museum bayar 6 Euro
  • Direction: Lines 5 and 2 – Ópera station Almudena Google Maps Location
LRG_DSC01496
I fall in love as soon as i step foot in this Cathedral. This Gothic interior feels so different to all the ones I have seen before. It’s very bright and transfers a joyful atmosphere
LRG_DSC01523
I really enjoyed the peacefulness inside the cathedral, especially after a long week of traveling

Saat masuk ke dalam gereja, saya dibuat terpesona oleh interior nya yang cemerlang, tidak sekelam gereja gothic lainnya. Mungkin karena pilar dan temboknya yang didominasi oleh warna putih. Ditambah jendela kaca mosaic dan langit-langit yang berwarna-warni, dengan lampu gantung antik di tiap sudut ruangan. Saat duduk, saya merasakan damai yang menggembirakan.

Gereja yang menjadi saksi royal wedding versi Spanyol. Tempat dimana Pangeran Asturias Felipe dan Putri Letizia mengucap janji setia sehidup semati, dalam suka maupun duka.

Dalam angan, saya mengenakan jubah pangeran, berdiri di altar dan memasangkan cincin kawin ke Park Shin-Hye, lalu mencium bibir satu sama lain. Kami pun berjalan keluar gereja sambil dilempari bunga oleh para tamu.

Kemudian, kami berdua melepas sepasang merpati dan balon warna-warni ke udara. Gereja yang indah, sukses menghidupkan saluran halu. Saraf romantis bergejolak, urat malu putus seketika.

LRG_DSC01530
The Catedral de la Almudena, took more than one hundred years to complete. The cathedral looks much older than it actually is though, as it was only consecrated in 1993. Beautiful cathedral that mixes history and modernity
LRG_DSC01531
Sunset at the crypt of Almudena cathedral

5. Take a wander through the small lane and take pictures of the Basilicas

LRG_DSC01535
I’m a walker. I love exploring Madrid on foot, loosing myself in tangled lanes of the historic buildings and neighbourhoods

Kesan klasik begitu terasa saat menyusuri gang-gang kecil dan jalan antik dari paving block. Di sela bangunan granit yang picturesque, saya tak henti tersenyum dan memotret. Soal wisata, Madrid memang gak setenar Barcelona. Tapi disitulah letak keindahannya.

Madrid menyisakan ruang untuk bernafas, ga perlu impit-impitan dengan turis lain. Berjalan sendirian di antara bangunan tua berarsitektur gothic, baroque, dan art nouveau, saya merasa begitu relax. Ga ada kepadatan berarti di tempat wisata utama, ataupun antrian mengular seperti di Paris.

LRG_DSC01542
Iglesia San Pedro el Viejo. Leaning Moorish Mudéjar bell tower topping an elegant medieval church, the city’s second oldest!

Saya berjalan layaknya Hyun Bin di Memories of Alhambra. Jalanan terlihat sepi menjelang sunset. Keramaian hanya terlihat di sejumlah teras cafe dan tapas bar. Muda-mudi dengan dandanan trendi berbincang diselingi gelak tawa. Aroma kopi, roti, dan daging panggang tercium saat saya berjalan melewati mereka. Arghhh… ngiler.

Sometimes i’m so comfortable being alone that it makes other people uncomfortable

6. Eating Calamari Sandwich at Bar La Campana

LRG_DSC01557
A definite favorite among the locals. The best place to grab a Calamari sandwich with a beer. The staff are friendly. Great experience for a budget

Kalo di Roma ada Pizza, di Madrid ada Bocadillo de Calamares! alias sandwich cumi goyeng. Roti baguette panjang dibelek lalu diisi dengan cumi goreng tepung berbentuk cincin. Simple tapi mematikan.

LRG_DSC01553
Chaotic at night, tourists and locals enjoy incredibly tasty calamari sandwiches

Bar La Campana

  • Typical Spanish bar for a fast snack. The best calamari sandwich in Madrid
  • Address: Calle de Botoneras, 6, 28012 Madrid
  • Best seller menu: Bocadillo de Calamares 3 Euro | Rp. 50,000
  • Hours: Senin – Minggu 9:30AM–11PM
  • Direction: La Campana Google Maps Location

Tips

Jangan merasa terintimidasi kalo cuma kamu seorang yang berwajah Asia. Staff nya ramah kok. Dan mereka suka melayani turis. Saya sering banget disapa Konnichiwa! Kalo duduk di bar yang sepi, kamu malah sering ditanyain dan diajak ngobrol

LRG_DSC01552
It was absolutely delicious, and well worth 3€. Squid was crispy and warm, the oily goodness soaks into the bread, making it super delicious

Tempat terbaik untuk nyobain roti cumi ini ada di La Campana. Saya duduk di tengah keramaian, mengunyah dengan khusyuk. ‘Blah-dee-hell, it’s good!’ sampe merem melek. Sambil ngunyah saya ngeliatin orang di meja sebelah nuangin mayonnaise ke roti. Kok di meja saya ga ada, akhirnya saya minta ke pramusaji. Dan ternyata itu bukan mayonnaise biasa, melainkan homemade garlic mayonnaise yang enak banget.

Sluurrrppp… ditemani bir dingin yang busanya sampe tumpe-tumpe, hati berdenyut-denyut. Mungkin ini yang disebut dengan comfort food. Tempatnya super rame, namun pelayanannya cepat dan OK, mereka dengan ramah menjawab saat saya bertanya apakah ada WC disini. Ga cuma favorit bagi warga lokal, bar ini juga menjadi favorit saya selama di Eropa.

LRG_DSC02246

Yang paling saya suka disini adalah rotinya enak-enak, cappuccino nya luar biasa nikmat, bangunannya super eksotis, orang dan budayanya serba unik. Bener-bener perjalanan yang menyegarkan jiwa dan raga.

Saya seperti meng-update cerita kehidupan. Ga selalu ada pembaharuan revolusioner di tiap bagian. Kadang kenikmatan kecil dari makan enak, tidur pules, dan bangun meler merupakan adegan yang paling membahagiakan.

“Try to live with the same intensity as a child. He doesn’t ask for explanations; he dives into each day as if it were a new adventure and, at night, sleeps tired and happy.”
Paulo Coelho, Warrior of the Light

Advertisements

8 thoughts on “Things to do in Madrid. Kota Metropolis nan Eksotis

  1. Jelas sih, traveling di era milenial ini amat sangat memudahkan. Bahkan bisa dibilang, semua orang jadi bisa jalan-jalan di masa sekarang. Lhawong semua caranya kayak sudah disediakan gitu aja di Internet wkwkw. Kitanya aja yang tinggal nyari.

    Dan itu… alamak, Madrid ngapa indah banget ya :’

    Like

  2. Jadi turis Asia itu gampang banget sih kalo mau traveling di Eropa. Jalan-jalan random di kota aja udah dapet banyak obyek foto. Jalan dikit ketemu bangunan cantik, belok sini ketemu lagi, belok sana ada lagi.
    Aku baru tau pamor Barcelona ternyata lebih tinggi dari Madrid.

    Kalo kata temenku transportasi antar kota di Eropa itu paling murah naik bus. Yah, kayaknya memang yang terbaik adalah menjajal bus dan kereta api ya, hehe.
    As usual, tulisanmu selalu dibuka dengan pengantar yang panjang lebar haha. Okay, I’m used to it, jadi kekhasan tulisanmu 😂😂😂

    Liked by 1 person

    1. Yup, tiap sudut begitu Instagram-able di Eropa.

      Barcelona is more crowded than Madrid.

      Bus = Termurah tapi nyampenya terlama
      Train = Relatif murah dan lumayan cepet
      Flight = Mahal tapi nyampe paling cepet

      Kata pengantar untuk menarik netizen

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s