Terlena di Vienna. Top 15 Things to do

Salah satu alasan utama orang menahan diri untuk ga traveling adalah duit. Ga peduli senista apa cara kamu traveling, jalan-jalan tetep butuh duit. There is no vacation without a bill. Tidak ada cara untuk menghindarinya. Tidak ada tiket pesawat dan akomodasi yang FREE!

Bahkan saat menang undian, tetap ada biaya yang harus keluar dari kantong sendiri. Jika ada orang bilang kamu bisa traveling tanpa duit, dia pasti gadun. Bisa juga dia ingin mengajakmu ‘join’, ‘Apakah anda punya mimpi? Ingin punya mobil mewah?’

‘Don’t ever say ‘I can’t afford it’ but ask yourself ‘How can I afford it?’

Sebagai guru finansial gadungan, berikut saya berikan tips menambah penghasilan, memotong pengeluaran yang ga perlu, dan menyisihkannya untuk traveling. Semoga dengan tips ini, kamu bisa bersenang-senang tanpa harus jatuh miskin.

1. Jangan kebanyakan nyemil. Selain bikin gendut, cemilan ternyata menguras dompet diam-diam. Kita berpikir Doritos dan Beng-Beng merupakan duit kecil, ga masalah. Tapi bayangkan bila nyemil sudah menjadi hobi. Bayangkan bila duit snack sehari 20 rebu, sebulan sudah 600 rebu, 50 tahun kemudian sudah 360 juta, bayangkan! Semua yang kecil bisa menjadi besar.

Apalagi bila cemilanmu papan atas, kayak Irvins, Garret, dan Ferrero Rocher. Lumayan kalo nyemilnya dikurangin, lalu disisihkan untuk ‘tabungan traveling’. Keuntungan lainnya, perutmu jadi lebih six pack.

2. Jual barang-barangmu yang tak terpakai. Jual sepatu dan tasmu yang cuma menghiasi rak. Saya biasa menjual winter coat dan sepatu yang sudah sering dipakai. Lalu beli model lain saat traveling berikutnya. Nilai tambahnya, fashion kita pun jadi ga terlihat itu-itu saja. Jatuhnya sama aja si, tapi ga papa sekali-sekali #labil #tipsgagal

3. Kurangin Ngopi di Cafe dan Order Bubble Tea via Go-Food. Secangkir kopi di Starbucks, bisa kamu ganti dengan se-pack kopi sachet buat sebulan. Segelas Pearl Milk Tea di Cha Time, bisa kamu ganti dengan Teh susu kental onde-onde.

Ya saya tau, rasanya berbeda, tapi kan ga selamanya. Setelah selesai dengan misi traveling, kamu bisa melanjutkan ngopi mewahmu kembali. Biaya minum kekinian dialihkan untuk traveling. Kalo lagi kepingin banget, belilah hanya saat ada promo cashback atau buy 1 get 1!

Saat nafsu tak tertahankan, mulailah buat video perbandingan di imajinasimu. Mana yang lebih enak, Caramel Macchiato atau ngemut Gelato diantara reruntuhan Romawi?

4. Berdaganglah. Cari tambahan penghasilan via online. Jual apa saja yang bisa kamu jual. Jual diri bila perlu. Maksudnya, jual tenaga dan pikiran yang ada didirimu. Di kotamu ada Uniqlo, buka jastip ke luar kota via Tokopedia. Because internet cost nothing to start. Dropship, reseller, beri nilai tambah. Profit sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Jangan ngeluh susah, ga ada waktu, takut gak laku, gak ada yang mau. Mulai aja dulu! Jualanlah sampai kamu lupa siapa dirimu!

When you get everything you need, you will die of boredom. So enjoy the Good Fight!

– Paulo Coelho

5. Stop beli Fashion bermerek, Skin Care, dan Kosmetik mahal. Kurangi pembelian konsumtif yang sebenarnya ga perlu-perlu amat. Kalo belum punya income besar, jangan pinter boros-boros. Bukan berarti ga boleh gaya, tapi tundalah hidup mewah demi pengalaman di dunia baru. Itu.

Fashion is about how it looks, not how much it costs. You can pay millions for your outfit and still look weird. Style cannot be bought.

Ada yang bilang kecantikan tidak hanya datang dari luar. Yes, it’s Bullshit. Tapi ga papa, stop perawatan wajah sementara. Yang penting kamu tetap olahraga, makan sehat dan tidur cukup. Oppa yakin kamu akan tetap sensual seiring bertambahnya umur. Karena pada dasarnya semua wanita tetap cantik dengan ciri khasnya masing-masing. *Gombal minta jatah.

Menyisihkan pengeluaran kecil yang tanpa kita sadari memiliki porsi besar. Pengiritan memang ga enak, semua butuh pengorbanan. Namun jika traveling berarti bagimu, kamu akan rela membayar harganya. Mimpimu keliling dunia menjadi prioritas yang bisa kamu wujudkan. Train your spirit, don’t cut your dream!

Do it while you can! Travel is fun and it might save our world.

The people of the world are delightful, and the planet we share is spectacular. The only way to understand that is to go and see it for yourself.

Just like what Howard Stark said,

‘No amount of money ever bought a second of time. Tak peduli seberapa banyaknya uang, tidak akan bisa membeli waktu.’

Maaf, Oppa baru bisa update karena sibuk live more, dibanding post more. Boong ding, itu cuma alibi sok keren. Lebih tepatnya, Oppa kelabakan Multitasking. Membagi waktu antara dagang, bersih-bersih, makan, nulis, olah raga, tidur pules dan kencan buta. Semoga tulisan ini bisa mengobati kerinduanmu dan menambah kebencianmu.

LRG_DSC08689
Starting a day with Brioche Dorée’s Croissant and Cappuccino while waiting for my train to Vienna

Di pagi yang suhunya drop ke single digit, saya menggeret koper dan melangkahkan kaki ke Hlavní Nádraží Station. Setibanya disana, sambil menunggu keberangkatan menuju Vienna, saya mengunyah Almond Croissant dan menyeruput Cappuccino secara bergantian.

Hangatnya kopi yang bercampur roti di mulut, menjalar hingga ke hati. Sehangat pertemuan, sepahit perpisahan. Goodbye, Prague.

Prague to Vienna by train

LRG_DSC08692
Prague to Vienna by Regiojet – 16 Euro | Rp. 258,000

Regiojet dari Praha-Vienna ditempuh dalam waktu 4 jam. Berbekal tiket online yang saya beli di Omio, saya tinggal menunjukkan e-ticket di ponsel ke konduktor, ga perlu di-print lagi.

Keretanya lumayan nyaman dengan jendela kaca yang besar. Selama perjalanan, saya bisa melihat pemandangan diluar dengan jelas. Yang ga asyik space kakinya, terlalu berdekatan dengan kursi depan. Kadang tanpa sengaja, kaki saya senggol-senggolan dengan penumpang lain. Mana hari itu kursi pada full lagi. Keram-keram dah.

LRG_DSC08694
I love being sad on public transportation with my sad music and big window. I think i got OTD – Obsessive Train Disorder

Saya bersebelahan dengan seorang tante-tante, bule berperawakan kurus dan berkacamata. Selagi duduk, saya memperhatikan dia masuk ke kereta sambil membawa tas yang terlihat lusuh dan kresek berisi buah-buahan. Perlahan tapi pasti, dia berada di sejajar dengan saya dan menaruh barang bawaannya ke bagasi di atas tempat duduk.

Berawal dari teguran si tante yang memberi tahu kalo saya menempati kursi dekat jendela miliknya. Saya yang tadinya berharap ga bakal ada yang tau, dengan wajah pura-pura bego pindah ke kursi sebelahnya dan kami pun ngobrol sepanjang perjalanan.

Tadinya saya pikir dia tante gembel yang kurang kasih. Ternyata dia seorang guru yang  berasal dari Canada. Dia sering menjadi volunteer untuk mengajar Bahasa Inggris ke berbagai negara tanpa dibayar. Cukup dibiayai hidup, ongkos makan dan tempat tinggal. ‘Give your heart, but keep your head’ she said.

Don’t judge the book by its cover. Quotes abadi yang memang selalu benar. Dia jauh dari kata gembel, pengetahuannya luas. Kami berbicara banyak, dari tentang destinasi favorit sampai BREAKING NEWS saat itu, pesawat boeing Lion Air yang baru saja jatuh.

Kita berdua sepakat, kemungkinan besar penyebab jatuhnya pesawat adalah human error. Bisa karena pilot yang salah mengambil keputusan, atau teknisi yang abai sehingga mesin pesawat terjadi kerusakan. Ternyata kita berdua salah.

Dari yang saya baca di Kompas, berdasarkan investigasi terhadap 2 kecelakaan Boeing 737 yang masih berlangsung, sejauh ini diketahui ‘software’ nya yang bermasalah. Sensor pengukur sudut malafungsi, sehingga membuat sistem anti-stall untuk mendorong hidung pesawat mengarah ke bawah. Hal ini yang menyebabkan pilot tak bisa mengendalikan pesawat.

Perbincangan yang membuat perjalanan terasa lebih singkat. Saya pun jadi lupa mengecek iPhone, sehingga baterai tetap awet.

Where do i stay in Vienna?

LRG_DSC08695
I have the whole room to myself

Begitu sampai di Vienna, saya langsung menuju Wombats City Hostel, tempat saya menginap. Lokasinya strategis, dekat dengan pusat kota dan metro. Harganya sesuai dengan fasilitas. Hostelnya bersih, ruangannya lapang, lantai kamarnya terbuat dari kayu, lightingnya juga cozy. Ditambah waktu itu cuma ada saya seorang di kamar, serasa nyewa rumah di Airbnb. Bahagia itu sederhana *lepas bra

Wombat’s CITY HOSTEL VIENNA Naschmarkt

  • Dekat dengan pusat kota. Cukup jalan kaki 2 menit dari U-Bahn station dan 14 menit ke Museum Kunsthistoriches.
  • Free Wi-Fi, 24-hour reception, guest kitchen, laundry, and suite bathrooms. Private rooms are also available.
  • Rechte Wienzeile 35, 1040 Wien, Austria
  • Price for 1 night: Mixed Dorms 16 Euro | Rp. 258,000
  • Direction: Keluar melalui pintu exit Kettenbrückengasse Station, belok kiri lalu jalan lurus 100 meter ke Wombat’s

Welcoming Myself to The World’s Most Liveable City 2019

Setelah menaruh koper, saya berjalan santai keliling kota. Saat itu peralihan fall ke winter, dingin dingin nakal. Saya berjalan dengan penuh kekaguman. Arsitektur bangunannya tertata rapi, trotoarnya juga bersih dan lapang. Pretty much all buildings in the city look wonderful.

Terdapat banyak taman dengan pepohonan yang cantik. Ditambah banyaknya tempat untuk refreshing, transportasi umum yang OK dan kriminalitas yang rendah, Ga heran, gelar kota ternyaman dunia yang dipegang Melbourne 7 tahun berturut-turut, berhasil direbut.

How to get around Vienna

Vienna memiliki jaringan transportasi publik yang mumpuni. Bus, Tram, dan Kereta bawah tanah membuat saya bepergian dengan cepat ke tiap sudut kota. Murah, bersih, dan aman, gak over crowded.

Single Ticket-nya seharga 2.60 Euro | Rp. 42,000. Jika ingin bepergian ke banyak tempat dalam satu hari, kamu bisa membeli 24 hours ticket seharga 8 Euro. Dengan tiket ini, kamu bebas kemana saja dalam sehari, naik turun bus, tram, U-Bahn (subway), dan S-Bahn (local train).

Kamu bisa membeli tiketnya di mesin penjual otomatis, ga perlu nyiapin koin karena mesinnya support pembayaran dengan Kartu Kredit. Jangan lupa mem-validate tiket, sebelum kamu menggunakannya pertama kali. Info lebih lengkap, klik di link ini wien.gv.at

Metro U-Bahn beroperasi Senin – Jumat dari jam 5 pagi sampai 12 malam.

Khusus Weekend, Jumat – Minggu buka sampai 24 jam!

IMG_3557
Vienna is extremely liveable. There are 5 underground train lines, and an excellent tram and bus service. The underground usually comes every 2 to 3 minutes, and runs 24 hours at weekends

Seperti di beberapa kota Eropa lainnya, sistem naik turun transportasi umumnya berdasarkan kejujuran. Ga ada gate buat scan tiket kayak di MRT Jakarta. Namun bukan berarti ga ada yang ngecek. Petugas bisa tiba-tiba muncul kayak Polisi, memintamu menunjukkan Fahrschein – tiket sah yang sudah tervalidate. Buat yang senang diborgol bule, kamu boleh mencoba naik metro tanpa tiket.

LRG_DSC09396 2
A laid back city full of culture and a sense of style. Whether you’re just wandering the streets or you’re devouring art in museums, you’re sure to find something you love about Vienna

Vienna has a lot of things to do and see. Banyak museum keren, gereja bersejarah, gedung opera elegan, cafe dan resto super nikmat, sampai istana spektakuler. Berikut 13 aktivitas menyenangkan yang membuat saya terlena di Vienna:

1. Savouring Apple Strudel and Wiener Melange at Cafe Mozart

Setelah lelah mengitari kota, saya menghangatkan diri di Cafe Mozart. Salah satu tempat nongkrong paling kece di Vienna. Cafe klasik yang berdiri sejak tahun 1794 dan pernah menjadi tempat syuting film ‘The Third Man’.

Begitu masuk, culture of luxury nya kerasa banget. Dekorasinya begitu menawan. Lampu hias, cermin, kaca jendela besar dengan horden indah menghiasi ruangan. It feels like a scene from romantic movie. Dining is an entertainment for them. 

LRG_DSC08712
The almighty Viennese Coffee ‘A Wiener Melange’. A small espresso with half steamed milk and froth. It’s similar to a Cappuccino. The difference is in the milder coffee and sweeter foam. It’s served on a silver tray with sugar, a spoon and a small glass of water

Tak lama setelah memesan, Wiener Melange pun tiba. Disajikan secara kolosal di atas nampan perak bersama gula dan segelas air putih. Sekilas tak ada yang berbeda dari Cappuccino khas Vienna ini. Campuran espresso dengan susu yang baru di steam dan foam.

The glass of water traditionally served with coffee is meant to cleanse the palate. The face-down coffee spoon on top of the glass is a sign that the glass has been freshly poured.

A remnant of Habsburg etiquette

Tapi setelah mencicipinya, saya baru tau yang membuatnya unik, foam-nya. Kerasa tebel dan manis di mulut. So creamy! Membekasnya tahan lama. Seperti kecupan mantan terindah.

Café Mozart

  • The cosmopolitan Viennese coffee house behind the Vienna State Opera. Popular with musicians from the opera house & where Graham Greene wrote The Third Man
  • Coffee specialties, Cakes, Pastries and Classic Viennese cuisine.
  • Albertinaplatz 2, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Minggu 8AM–12AM
  • Menu and Price: Original Wiener Apfelstrudel 7 Euro | Rp. 113,000. Wiener Melange 5.70 Euro | Rp. 92,000. Pattiserie Menu
  • Direction: Cafe Mozart Google Maps Location
LRG_DSC08716
A classic Austria’s national delights: Sticky Apfelstrudel! A warm buttery pastry stuffed with gooey slices of cooked apples, cinnamon filling, and topped off with sprinkling of sugar. One of the fluffiest apple i’ve ever tasted. You can’t leave Vienna without trying it

Ga berapa lama kemudian, makanannya datang. Apfelstrudel! Semacam pie berisi irisan apel manis yang sebelumnya dimasak bersama saus mentega dan cinnamon, diakhiri dengan taburan gula halus diatasnya.

Disajikan hangat dengan Vanilla Sauce khas Cafe Mozart. I felt my soul instantly dance as i took the first bite. Nyesss abis! Kulit luarnya tipis dan rapuh, menyatu sempurna dengan asam apple dan manis Vanilla. Sampe ada om-om bule yang duduk sebelah saya berkata:

‘That sure does look tasty’. Mungkin gara-gara dia liat ekspresi saya saat mengunyahnya sampe merem melek.

‘Hell, yeah. This is the main reason why i came to Vienna’ ujar saya melebih-lebihkan.

‘Well, no doubt about that’

Sambil ngunyah, kami sempat berbasa-basi kecil. Om-om bertubuh gempal dan berparas seperti Steve Wozniak ini ternyata turis juga. Dia makan sendirian seperti saya. Bedanya dia terlihat seperti pensiunan yang bahagia, sementara saya bujang lapuk yang merana. Dia berasal dari Amrik, dan tinggal di hotel bintang lima, sementara saya dari Sleman dan tinggal di hostel rame-rame.

Sambil meminum segelas liquor, dengan excited dia menunjukkan foto-foto lukisan yang baru saja dia ambil di Albertina museum. Quotes yang paling saya ingat keluar dari mulutnya adalah ‘Sometimes You don’t have to undertand every work of art, you just need to appreciate it’. Sama seperti hidup, kadang kita ga harus tau dan mengerti segala keajaiban, kamu hanya perlu mensyukurinya.

LRG_DSC08736

Setelah selesai makan, saya pamit duluan untuk melanjutkan petualangan. Sebelum keluar saya sempat melihat-lihat cake dan pastry yang dipajang di display kaca. Gileeee.. semuanya bikin ngilerrr. Pingin banget nyobain satu-satu. Tapi apa yang akan terjadi dengan pipi yang hina ini?

2. Admiring St. Stephens Cathedral

Gereja bergaya Gothic Romawi ini telah berdiri sejak abad ke-12. Struktur klasik yang sekarang dikelilingi oleh pertokoan modern. Gerejanya cantik luar dalam. Interiornya benar-benar elegan. Saat itu saya datang malam hari. Lampu hias bersinar indah diantara langit-langit berkubah dengan lengkungan yang tinggi.

LRG_DSC08743
Inside the church, you’ll see an ornately decorated church with high archways, vaulted ceilings, and a plethora of statues and religious paintings. It makes me feel like i’m in another time period. Magnificent!

Patung dan lukisan bersejarah menghiasi kekokohan pilar penyanggah. Samar-samar tercium aroma dupa yang khas, melengkapi kemegahan sakral yang menenangkan. Kalo punya banyak waktu kamu bisa keatas, ngeliat pemandangan kota dari atas tower. Kamu juga bisa kebawah tanah, melihat makam yang dibangun pada zaman romawi kuno.

Domkirche St. Stephan

  • Medieval Roman Catholic place of worship with an ornate spire, catacombs & a treasury museum
  • Stephansplatz 3, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Sabtu 6AM – 10PM, Minggu 7AM – 10PM
  • Entrance Tickets: Visitors can enter the cathedral free of charge. However, there are paid access areas (Catacomb 6 Euro and South Tower 5 Euro). The central path leading to the altar is strictly for people that pay a fee.
  • Direction: St. Stephen’s Cathedral Google Maps Location
LRG_DSC09156
Beautiful cathedral right in the heart of Vienna. Amazing church with an incredible architecture. One can spend a lot of time taking pictures of its lovely exterior. I love its hulking, Gothic silhouette, so classic art deco

3. Explore the hidden street and spot the Anchor Clock

LRG_DSC08775
A 100 year clock working based on the position of sun. This clock was built as an ornament for a bridge between two office buildings. An interesting monument which shows the time with different figures

Beautiful secret spot in Vienna. Menyusuri jalan dan gang yang saling bersinggungan, tiba-tiba mata auto-focus ke jam gadang yang unik. Jam berdesain Art Nouveau ini diciptakan oleh pematung Franz Matsch pada tahun 1914.

Jam yang disponsori oleh Anker Insurance Company sebagai kontribusi mereka terhadap budaya Vienna. Itulah mengapa disebelah kiri atas ada patung bayi, dan sebelah kanan tengkorak. 2 figur yang melambangkan hidup dan mati. Pengingat akan pentingnya asuransi jiwa. Ternyata ada iklan terselubung.

Anker Clock

  • Elaborate, historic clock with copper accents & figures that move around on the hour
  • Hoher Markt 10-11, 1010 Wien, Austria
  • Open 24 Hours
  • Direction: Google Maps Location
LRG_DSC08787
There is very beautiful fountain near the clock dedicated to Jesus parents wedding

Selain itu, jam ini memiliki 12 figur bersejarah. Penggambaran tokoh-tokoh yang berjasa bagi Vienna di masa lalu. Tiap jamnya mereka berotasi, bergantian menarsiskan diri. Konon, jika mendengar dentangannya tepat jam 12 malam, jodohmu sudah dekat. Maaf, yang ini Oppa ngarang.

4. Treat yourself a Wiener Schnitzel at Filglmuller

LRG_DSC08797
It was back then that Johann Figlmüller opened a small wine tavern on Wollzeile, right behind St. Stephen’s Cathedral. 100 years later, it stood for the Viennese way of life. A home to mouth-watering Crisp Wiener Schnitzel

Restoran tradisional khas Austria yang buka sejak 110 tahun yang lalu. Wiener Schnitzel mereka telah melegenda dan menjadi magnet bagi turis seperti Oppa untuk datang mencicipi.

LRG_DSC08809
Vienna is full of elegance and fancy restaurants. Glamorous are so normal here. Every cafes and restaurants are just like a place where Kim Shin and Ji Eun Tak have a date in Canada

Saya dipandu waiter menempati kursi yang berada di ruang bawah tanah. Nuansa klasik yang elegan begitu terasa. Atapnya terbuat dari batu bata dengan kipas yang tak dihidupkan, tampaknya cuma penghias. Terdapat lemari kayu berisi gelas kaca dan botol wine kosong, tampaknya juga hiasan. Kenapa banyak hiasan tak berguna di tempat ini?

Kemudian saya melepas winter coat dan menggantungnya di cantelan khusus yang berada di dekat pintu. Entah kenapa saat melakukannya saya merasa keren. Ini persis kaya di film-film mafia jadul. Jiwa John Wick Excomunicado saya pun bangkit!

Figlmüller

  • Dining rooms with wood paneling, exposed bricks & wrought iron, serving classic Viennese cuisine
  • Bäckerstraße 6, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Minggu 11:30AM–11:30PM
  • Menu and Price: Wiener Schnitzel of Veal 20.5 Euro | Rp. 330,000. Local sparkling wine 5.5 Euro | Rp. 89,000. Figlmüller House Specialty
  • Direction: Google Maps Location
LRG_DSC08825
Wienerschnitzel is a thin veal cutlet, which is pan-fried. Served with a slice of lemon. You can order with french fries and BBQ sauce on it. I try the plain one without any sauce, i just wanna taste that meat without any interruption. Yes, it’s slightly tender, salty and tasty

Tak lama setelah mengamati menu dan memesan, Wienerschnitzel pun datang. Bentuknya sekilas mirip lumpia kegemukan, namun mereka dua makhluk yang berbeda. Roti goreng coklat keemasan ini berisi potongan daging sapi muda. Disajikan dengan lemon untuk kita peras diatasnya. Saya sengaja ga pake kentang, biar ga kekenyangan.

LRG_DSC08817
Sparkling Champagne that can’t stop ‘bubbly’, holy molly!

Dengan pisau di tangan kanan dan garpu ditangan kiri, saya memotong buntalan surga ini dan memasukkannya ke mulut. Nyam! Asin-asin empuk, garing-garing seger. Lapisan rotinya crunchy dan buttery, dagingnya super chewy. Ditemani sparkling champagne yang ga berhenti berbuih, ngenesnya abadi.

5. Stroll along Kärntner Straße 

LRG_DSC08840
It’s all lit up and gorgeous at night. Vienna has a glamour shopping streets with restaurants and coffee houses

Pusat pertokoan yang berdiri sejak jaman Romawi kuno dan tetap bertahan selama masa perang dunia ke-2. Surga shopping sampe kaki loyo. Zona pejalan kaki yang nyaman untuk jalan-jalan, cuci mata, tengok kanan kiri, kepingin, liat harga, ga jadi beli, repeat. ‘Look at all the buildings! There’s so much price tag!’ 

LRG_DSC09104
The heart of the vibrant Vienna. From Sank Stephan to the Opera, a diversified mix of historical buildings, traditional shops and stylish flagship stores. They are all wonderful!

Selain fashion merek ternama, di shopping street ini juga banyak produk lokal yang kece. Pernak-pernik Mozart menghiasi pertokoan cantik ala bangunan bersejarah. Mulai dari gantungan kunci sampai ‘Mozartkugeln’ – praline unik yang terbuat dari campuran Nougat dan Marzipan.

Kalo bingung mau kasi oleh-oleh apa ke orang tersayang, dahulukanlah snack. Kadang ucapan ‘Baby, i brought you food’, lebih terdengar romantis dibandingkan ‘Sayang, aku pulang’. Ya, cinta memang bisa dibeli dengan makanan.

Vienna is the capital of Austria and the smallest of the 9 federal provinces. The official language of Austria is German, although most people speak English

Kärntner Straße

  • Great place to shop and stroll
  • Kärntner Str. 27, 1010 Wien, Austria
  • Direction: U-Bahn U1 und U3 Station Stephansplatz Google Maps Location
LRG_DSC09102
The boulevard of Vienna. The most picturesque shopping street in Vienna. Classical Europe at its best

6. Take a peek at Vienna Opera House

LRG_DSC08857
The building looks stunning at night. One of the largest Opera in the world. Every year the prestigious Vienna Opera Ball takes place

Malam itu, saya ga sempat masuk dan menonton Opera. Lumayan nyesel si, namun mengamati bangunannya dari luar sudah cukup membuat saya terpukau. Gedungnya begitu prestisius. Tempat dimana musik, tari, dan akting menyatu dalam harmony dan menciptakan dunianya sendiri.

Dibuka pada tahun 1869 dengan pertunjukan megah Mozart yang menampilkan salah satu karyanya yang paling terkenal ‘Don Giovanni’. Sempat hancur selama perang dunia ke-2, gedung ini dibangun ulang dan menjadi kuil suci warga Vienna.

Ribuan artis dan tamu terhormat datang untuk menyaksikan langsung seriosa, balet, dan drama yang tak berkesudahan. Opera ini menjadi semakin terkenal semenjak jadi tempat syuting Ethan Hunt di Mission Impossible Rogue Nation.

LRG_DSC08850
This is a place of worship for those who want to experience a famously intense Viennese opera show

Wiener Staatsoper

LRG_DSC08845
Vienna is a charming city, with detailed architecture and dreamy streets which look all too inviting. Pretty much all buildings in the city look wonderful

Berjalan menikmati suasana kota di malam hari memang beda. Saya menganga melihat keindahan yang terpancar dari gadis berambut pirang diantara lampu-lampu jalan. Mungkin karena efek remang-remang. 

Dari gedung-gedung, pusat perbelanjaan, cafe, dan resto, semuanya terlihat elegan. Jalanannya pun sepi. Tidak ada keramaian yang menyesakkan seperti di Paris.

7. Explore the famous Schönbrunn Palace

IMG_0053
Take a pose behind the buttermilk yellow building

Istana yang dulunya merupakan kediaman musim panas dari Empress Elizabeth of Austria, Permaisuri Sisi. Permaisuri yang terkenal dengan kecantikannya yang di luar batas akal. Berambut panjang sampai ke tanah, dan berpinggang kecil karena keseringan make korset.

Karena sarat budaya dan sejarah, istana ini menjadi monumen UNESCO Cultural Heritage Site. Merubahnya menjadi destinasi wisata favorit di Vienna.

Pagi itu, kabut melayang diantara langit abu-abu mutiara. Setelah menukarkan tiket dengan menunjukkan Vienna Pass, saya masuk ke dalam Istana untuk melihat seperti apa kediaman Permaisuri dan Raja Habsburg.

Selain Permaisuri Sisi, tokoh penting lain yang pernah tinggal disini adalah Maria Theresa. Satu-satunya wanita yang menjadi penguasa di kerajaan Habsburg. Kecerdasan, keanggunan, dan kharismanya membuat seisi istana tunduk. Secara strategis, dia menikahkan 16 anaknya untuk menghindari perang. Kekaisaran Austria pun tetap aman selama lebih dari 600 tahun.

Dengan menetapkan aturan ketat di istana, seperti tata cara berperilaku dan berpenampilan, diet dan perawatan tubuh ala ala, anak-anaknya selalu terlihat cantik dan menawan. Kecantikan yang membawa Pangeran dari berbagai negara datang kesini untuk melamar.

LRG_DSC08956
The gardens surrounding the palace are really beautiful. Wandering around this palace is a pure pleasure! DI istana yang indah saya berimajinasi Princess Sisi mengendarai kuda mengelilingi taman.

Sayangnya didalam ga boleh foto. Ruangannya bener-bener noble, kayak kisah dongeng putri raja. Pilar, wallpaper, karpet merah, lampu hias, dan perabotannya semua terkesan mewah. Istananya cantik luar dalam. Mozart pernah diundang untuk perform disini waktu berusia 6 tahun. Konon, ada lebih dari 1.400 ruangan, tetapi saya hanya boleh memasuki sekitar 22 ruangan.

Saya memasuki kamar pribadi, ruang ganti dan ruang ‘fitnessnya’ Sisi. Sisir berwarna perak dengan cermin raksasa menghiasi ruangan. Dari sini terlihat, bagaimana cara Sisi menjaga dan merawat kecantikannya.

Banyak lukisan Sisi yang dipajang di dinding. Terlihat sekali, suaminya Frans Josef tergila-gila padanya. Pangeran yang menikahi Sisi, sewaktu umurnya masih 16 tahun. Pernikahan dini yang diawali oleh cinta pada pandangan pertama.

Ada juga ruangan yang menunjukkan cocaine pipe yang pernah dipakai Sissi. Dia menggunakan kokain yang dihisap dengan pipa untuk menahan sakit karena menopause. Kisah sisi berakhir dengan tragis. Pada tahun 1898, di umurnya yang ke-61 dia ditikam diantara keramaian di Geneva oleh  anarkis dari Italy, Luigi Lucheni. Kematian yang membuat seluruh kerajaan mengalami duka mendalam.

IMG_0057
It was pleasing in the morning

Setelah selesai main di dalam, saatnya main diluar. Saya menelusuri taman yang indah. Di peralihan musim gugur ke musim dingin, daun-daun telah menguning dan berjatuhan. Pepohonan berjejer rapi diantara keanggunan istana. Tempat terbaik untuk adegan patah hati.

When winter arrives, the trees must sigh in sadness as they see their leaves falling

– Paulo Coelho

LRG_DSC09012
Fake Roman Ruins that designed by an architect and fully integrated into its parkland surroundings. Beautiful structure reminiscent of the glory of the past days

Schloß Schönbrunn

  • 18th-century summer palace with tours of lavish rococo ceremonial rooms, plus gardens with a maze
  • Schönbrunner Schloßstraße 47, 1130 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Minggu 8AM–5PM
  • Entrance Ticket: Imperial Tour 16 Euro | Rp. 258,000. There’s no entrance to the main garden but if you want to visit the palaces you have to get tickets
  • Direction: Google Maps Location
IMG_3657
Potret pria setengah baya yang mulai hilang akal

Kerennya lagi di dalam istana ada kebun binatang tertua di Eropa. Aksesnya gratis jika kamu memiliki Vienna Pass. Royal Zoo yang menurut saya kurang Royal. Terlihat kurang terawat dan banyak kandang yang kosong. Katanya si ada Panda dan Koala, tapi hari itu saya ga melihat keberadaan mereka.

Mungkin mereka dipindahkan karena saat itu lagi dingin-dinginnya. Saya menyaksikan berbagai hewan unik dari berbagai negara. Mulai dari gajah afrika, badak India, monyet berbulu, dan burung nakal. Yang paling lucu waktu ngeliat Penguin, dan Beruang Kutub. Lumayan menghibur.

Intermezo – Fun Fact

Saat kawin, jika landak betina tak terpuaskan, ia memaksa landak jantan untuk kawin berkali-kali sampai si jantan benar-benar kelelahan.

– Wikipedia

8. Enjoy the perfect Sachertorte at Cafe Sacher

LRG_DSC09137
Sachertorte is the classic chocolate cake, topped with a thin layer of apricot jam and a smooth chocolate topping.  The cake is so light and yet so intense. I’m enjoying it very much

Puas mengitari Istana, saatnya ngafe ala istana. Saya mencicipi dessert yang awal mulanya dibuat khusus oleh remaja bernama Franz Sacher untuk Pangeran Von Metternich.

Sachertorte, chocolate cake yang kini menjadi salah satu simbol Vienna. Tak ada sponge cake yang lebih enak selain di Hotel Sacher. Tempat dimana Sachertorte pertama kali dibuat. Sampai sekarang pun masih tetap Handmade – Original. Slogan yang membuat saya akhirnya tiba disini.

LRG_DSC09150

Setelah mengamati menu dan memesan, seperti biasa saya connect WiFi dan mengecek ponsel. Tiba-tiba saya melihat doggy melenggang masuk ke dalam cafe. Saat itu saya baru sadar, di Vienna guk guk diperbolehkan menemani tuannya kongkow. Kalo anjing bisa ngomong, saya yakin mereka bahagia dengan kebijakan ini.

Si hitam manis dihidangkan. Ternyata Cake-nya sedikit kering, bukan tipe mousse yang lembut. Sambil mencocol whipped cream yang ada di piring, saya memasukkan potongan cake dengan menggunakan garpu ke mulut. Mmmm… rich bitter sweet chocolate! Creamy-nya whipped cream bercampur sempurna dengan pekatnya Chocolate. Selai Apricotnya juga kerasa banget, bikin seger dan ga eneg.

Café Sacher Wien

  • The perfect place to sample a typical Viennese coffee-house atmosphere and the best Original Sacher-Torte in town.
  • Hotel Sacher, Philharmoniker Str. 4, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Minggu 8AM–12AM
  • Menu and Prices: ORIGINAL SACHER-TORTE 7.50 Euro | Rp. 121,000. SACHER MELANGE 5.90 Euro | Rp. 95,000. ORIGINAL SACHER EISSCHOKOLADE 8.70 Euro | Rp. 140,000. Menu
  • Direction: Google Maps Location

Saya menutup santapan dengan Ice Chocolate khas Vienna yang disebut Wiener Eisschokolade. One of the best Ice Chocolate i’ve ever tasted. Rich and foamy abis! Tak heran. pipi saya langsung mengembang.

9. Feel the vibe at The Hofburg

IMG_3653
Potret Pangeran yang hilang arah
LRG_DSC09172 2
Vienna is magical, and it deserves to be the most liveable city in the world. Grand, imposing, ridiculously lavish

Istana kekaisaran dengan arsitektur Baroque dan Classicism. Istana yang kini berubah fungsi menjadi tempat kerja resmi Presiden Austria. Didalamnya juga terdapat Sisi Museum, Imperial Apartments, and Silver Collection.

Karena keterbatasan waktu, saya ga masuk kedalam. Kalo berminat melihat kehidupan Permaisuri Sisi, lengkap dengan souvenir pribadi, perabotan antik dan sejarah keluarga kerajaan, kamu wajib masuk.

Hofburg Wien

  • Habsburg palace complex with ornate, baroque interiors, imperial apartments & a silver museum
  • Michaelerkuppel, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Minggu 9AM–5:30PM
  • Entrance Ticket: 15 Euro | Rp. 241,000
  • Direction: U3 (orange), alight at Herrengasse Google Maps Location

IMG_3656

10. Treasure the art at Kunsthistorisches Museum Wien

LRG_DSC09205
One of Europe’s premiere fine arts museums. The home of priceless art treasures from five millennia. The building itself is a work of art. It’s gigantic!
LRG_DSC09248
The Main Staircase is an outstanding beauty! It’s one of the highlights of Viennese 19th-century architecture. Its focal point is Antonio Canova‘s statue of ‘Thesus Slaying the Centaur’, which is flanked by two imperial lions

Museum dengan koleksi seni tak ternilai dari 5000 tahun yang lalu. Bangunannya sendiri merupakan maha karya seni. Pilar dengan berbagai fresko, patung dan lukisan yang menggambarkan sejarah dengan makna mendalam.

Salah satu daya tarik utama dari museum ini adalah tangga di hall utamanya. Megah nan picturesque! Tangga yang berfokus pada patung Antonio Canova diapit oleh dua singa kekaisaran ‘Thesus Slaying the Centaur’. Di langit-langitnya terdapat lukisan yang menggambarkan kemenangan RenaissanceEpic to the max!

LRG_DSC09214
The large ceiling painting by the Hungarian painter Mihàly Munkácsy celebrates ‘The Triumph of the Renaissance’
The twelve lunette paintings are by Hans Makart who portrayed famous artists, while the paintings left and right of the arches are early works by Ernst and Gustav Klimt and Franz Matsch. The area in front of Canova‘s statue is particularly well suited for welcoming your lover with music and dance
The twelve lunette paintings are by Hans Makart who portrayed famous artists, while the paintings left and right of the arches are early works by Ernst and Gustav Klimt and Franz Matsch. The area in front of Canova‘s statue is particularly well suited for welcoming your lover with music and dance

Salah satu lukisan yang paling terkenal di museum ini adalah Tower of Babel, karya Pieter Bruegel. Menara yang sekilas mirip dengan Colosseum. Lukisan religius yang terinspirasi dari Alkitab Kejadian 11:1-9. Penggambaran tentang manusia yang berusaha mendirikan bangunan tinggi agar bisa mencapai surga.

Pieter Bruegel the Elder, The Tower of Babel (1563). Courtesy of Kunsthistorisches Museum Vienna
Religious art. One of the most famous painting in this Museum. The second of three versions of the biblical Tower of Babel, painted by Pieter Bruegel.

Dalam kisahnya tertulis, Tuhan tidak menyukai niat mereka. Tuhan pun membuat mereka tidak bisa lagi berkomunikasi, dengan cara membuat mereka berbicara dengan bahasa-bahasa yang berbeda. Ada yang ngomong Jawa, ada yang Londo, ada yang Cang Cing Cung. Peristiwa yang menandai munculnya berbagai bahasa di dunia. Karena saling gak ngerti dan selalu salah paham, ga jadi deh bangunannya.

Di jaman Rennaisance, lukisan ini memiliki interpretasi lain. Menara ini sekilas terlihat besar dan kokoh. Namun bila diperhatikan lebih seksama, terlihat sedikit condong ke kiri. Hampir mengancam kota abad pertengahan yang berada di bawahnya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila bangunan tersebut rubuh.

Tower of Babel Miniature inside the museum

Sama halnya dengan kesuksesan seseorang. Kita bisa mengejar mimpi setinggi langit. Merasa hebat dengan segala harta benda yang dimiliki. Namun semua itu kadang semu dan bisa hilang dalam sekejap mata. Seperti pedang bermata dua. Keangkuhan manusia, akan membawa kita pada kehancuran.

LRG_DSC09256

Ada beberapa bagian dimana kamu tidak boleh mengambil foto. The room of Bruegel is a must see! Ruangan dengan koleksi lukisan terpenting di dunia. Mulai dari karya Modigliani, Mantegna, Raphael,  Rembrandt, Caravaggio, Giorgione, dan Pieter Bruegel the Elder. Selain itu, terdapat koleksi benda arkeologi dari Mesir seperti peti mati, patung dan peralatan keseharian di jaman Mummy eksis.

Kunsthistorisches Museum Wien

  • Imposing, 19th-century museum with lavish interiors housing Habsburgs art collections & antiquities.
  • Maria-Theresien-Platz, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Selasa – Minggu 10AM–6PM, Senin tutup
  • Entrance Ticket: 16 Euro |Rp. 257,000. Children and teens under 19 years have free admission
  • Direction: Google Maps Location

11. Take a break at Burggarten

LRG_DSC09287

Castle Gardens. Taman bergaya Inggris yang dulunya hanya bisa diakses oleh penghuni istana Habsburg. Sekarang, taman ini menjadi tempat warga lokal melepas penat, merebah di rerumputan, baca buku, scroll timeline, ataupun sekedar make out.

Patung-patung seni, lampu hias klasik, rumah kupu-kupi, dengan gedung konservatori seni nouveau yang indah melengkapi taman ini. Sore itu taman terlihat sepi, mungkin karena udara begitu dingin. Bule lagi pada males keluar, mending ngangetin diri dalem selimut.

LRG_DSC09276
The green souls of Vienna with taste of old times. This photogenic park is beautiful. I took a walk and relaxed seeing gorgeous statues, flowers and trees
LRG_DSC09280
In between two beautiful, towering Baroque-styled buildings, as well as the beautiful Schmetterlinghaus. An all round amusement that can be frequented when the weather is nice

Burggarten

  • A striking art nouveau conservatory with butterfly house stands in this statue-filled formal garden
  • Josefsplatz 1, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Minggu 6AM–10PM
  • Direction: Google Maps Location
LRG_DSC09278
Bundesgärten Verwaltung Burggarten

12. Interpret a painting at Albertina Museum

LRG_DSC09293
The Albertina is one of the best museums in the city. It’s housed in one of the old private residence wings of the Habsburg and Hofburg Imperial Palace. It’s most famous for its print collection, which is comprised of over one million prints and 60,000 drawings

Museum yang dulunya merupakan istana kediaman kekaisaran Habsburg, salah satu dinasti terbesar Eropa abad pertengahan sampai era modern. Sekarang, menjadi rumah bagi lukisan karya seniman terkenal seperti Monet, Picasso dan Cezanne.

Lukisan dipajang dengan lighting yang pas dan transisi yang rapi di tiap ruangan. Dari lukisan Monet yang impresionis, saya dibawa perlahan menuju lukisan realistis dan abstrak ala Picasso.

Karya-karya yang membuatmu berpikir dan kadang harus membaca caption untuk ngerti. Seru si, seperti zaman belum ada gadget, mencari makna tersembunyi dibalik lukisan menjadi hiburan tersendiri.

LRG_DSC09311
World class paintings everywhere! It houses famous works by Monet, Picasso, Magritte, Degas, Renoir, Modiglianiand, Cezanne and other local artists

Albertina

  • 19th-century Habsburg palace with staterooms & collections of old master prints & 20th-century art
  • Albertinaplatz 1, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Minggu 10AM–6PM
  • Entrance Ticket: 16 Euro | Rp. 258,000
  • Direction: U-Bahn (underground): U1, U2, U4 (station: Karlsplatz/Oper), U3 (station: StephansplatzGoogle Maps Location

Childless Millionnaire and The Poor Women with Children. Salah satu lukisan yang membuat saya termenung, potret suami istri kaya raya yang tidak memiliki keturunan bersua wanita miskin dengan 3 orang anak. Sometimes, you can’t have everything in life.

Is it worth to buy Vienna Pass?

Jika berencana masuk ke banyak museum dalam waktu singkat, Vienna Pass benar-benar worth it. Ada versi mobile via ponsel, ga perlu repot tuker atau nge-print, tinggal tunjukin atau scan barcode untuk masuk.

IMG_3646
Amazing museum in the heart of the city center. Vienna is like Paris without a crazy crowd

Dengan 2 day adult pass, kamu bisa masuk ke Schonbrunn, Hofburg, Belvedere, Albertina, Kunsthistoriches Museum, St. Stephens Cathedral Treasury, Vienna Giant Ferris Wheel, Mozarthaus, Mumok Museum, Madame Tussauds, Danube Tower dan lain-lain. Info lebih lengkap tentang apa saja yang dicover Vienna pass, kamu bisa klik disini BUY VIENNA PASS IN HERE

Walaupun saat itu ga semua bisa saya kunjungi, tapi harganya tetap jauh lebih murah dibandingkan beli tiket masuk satu-satu. Selain menghemat waktu karena ga perlu antri beli tiket lagi, kamu juga lebih fleksibel mau kemana duluan.

13. Eating Nuss Kuss at Cafe Central

Cafe yang setia menemani warga ngopi sampe malem. Budaya ngopi ini sudah begitu kental di Vienna, sampai-sampai masuk UNESCO sebagai ‘National Agency for the Intangible Cultural Heritage’. 

Cafe yang berdiri sejak 140 tahun yang lalu ini juga menjadi tempat favorit para filosofer dan musisi ternama. 2 orang paling terkenal yang pernah makan disini adalah seorang psikoanalis Sigmund Freud dan revolusioner Leon Trotsky

Penemu metode pengobatan penyakit mental dan teori psikologi tentang kepribadian. Freud percaya bahwa peristiwa di masa kecil memiliki pengaruh besar pada kepribadian dewasa seseorang.

Sementara Leon Trotsky adalah politisi sekaligus penulis dan penemu teori Marxist. Salah satu quote-nya yang paling terkenal adalah:

Life is not an easy matter. You cannot live through it without falling into frustration and cynicism unless you have before you a great idea which raises you above personal misery, above weakness, above all kinds of perfidy and baseness.

Dekorasinya sangat mengesankan. Pilar glossy, lampu hias, dan lukisan seni semua terasa classy. Tempatnya asyik untuk berlama-lama memperhatikan sekitar dan menikmati suasana.

Café Central

  • Long-standing venue for Viennese cuisine, with famous historic links including to Freud & Trotsky
  • Herrengasse 14, 1010 Wien, Austria
  • Hours: Senin – Minggu 7:30AM–10PM
  • Menu and Price: Nuss Kuss 4.80 Euro | Rp. 77,000. Heiße Schokolade 5.40 Euro | Rp. 87,000. Coffee Menu
  • Direction: U3 Herrengasse station, U2 Schottentor station Google Maps Location
Nuss Kuss and Heiße Schokolade
Vienna memang surga bagi pecinta cake dan desserts. Nuss Kuss – The warm hazelnut chocolate cake was rich and squishy

Cake lovers’ paradise. Malam itu saya memesan Nuss Kuss, Chocolate Cake Hazelnut. Dentingan piano mengalun lembut sembari saya ngemut. Ditambah Heibe Schokolade ‘Hot Chocolate with whipped cream’. Malam saya semakin berlemak. Diabetes tak ada yang senikmat ini.

Sebelum pulang, seperti biasa saya membayar dan memberikan tip kepada waiter. Wajahnya terlihat bahagia, dan tanpa saya duga dia berkata ‘Just a moment, sir’. Tak lama kemudian dia kembali dari belakang dan memberikan beberapa bungkus coklat kecil. Wajah saya pun ikut sumringah.

14. See The Catholic Parish of St. Elizabeth

IMG_3542 2

Gereja kecil nan cantik yang tak sengaja saya lihat saat berjalan menuju Belvedere.

Katholische Pfarrgemeinde St. Elisabeth

IMG_3534

15. Take a wander around Belvedere Palace

LRG_DSC09382
Absolutely fabulous! Noble, opulent, artistic palace. The Belvedere is a UNESCO Heritage Site. It has beautiful gardens which connect two historic palaces. It houses great collection of Austrian art, including those of Gustav Klimt. A beautiful palace with an extraordinary collection.

One of the best looking Palaces i’ve ever seen. Istana yang dulunya merupakan kediaman dari Prince Eugene, pangeran sekaligus komandan militer Austria paling sukses dalam sejarah Eropa modern.

Tamannya super luas! Dalam kesunyian pagi, saya tersihir menyaksikan kolam besar yang dihiasi air mancur dan patung seni. Seirama dengan jalan setapak yang dikelilingi pepohonan yang tertata rapi. Noble abis!

Sayangnya saya ga sempat masuk untuk melihat koleksi seni Gustav Klimt, pelukis paling terkenal di Austria. Karyanya identik dengan erotisme tubuh wanita.

0x4CA2418EF4A0632395E9C5B5F414AEB6
The Kiss (Lovers) by Gustav Klimt is the most famous Austrian painting and the highlight of the permanent collection at the Upper Belvedere. It shows a couple swathed in richly embellished robes embracing in a meadow of flowers on the brink of a precipice. The painting dates from 1907/08 at the height of Klimt’s ‘Golden Period’ when the artist developed a new technique of combining gold leaf with oils and bronze paint
LRG_DSC09391
Perfect in the early morning before the big crowds set in. Take a casual stroll down the garden

Schloss Belvedere

  • Baroque, 18th-century palaces housing art from Middle Ages to today, with notable Klimt collection
  • Prinz Eugen-Straße 27, 1030 Wien, Austria
  • Opening Hours: Senin – Minggu 9AM–6PM
  • Entrance ticket price: 16 Euro | Rp. 256,000. Free access to the garden
  • Direction: Exit melalui Schloss Belvedere Tram, lalu berjalan kaki 1 menit Belvedere Palace Location
IMG_3665
I enjoy the beautiful fountains behind the Baroque structure on a beautiful morning
LRG_DSC09403
There was something about this landscape that touched me beyond words

Vienna memberikan dunia baru yang membuat saya terlena. It’s not only the most liveable city on earth, this is city of heaven. Kota elegan yang kaya akan sejarah budaya dan kuliner. Rumah dari musik klasik ala Mozart, museum yang mengesankan, Apple Strudel yang membahagiakan dan kisah nyata permaisuri Disney.

Nongkrong di cafe, menikmati aroma pastry dan kopi. Mengagumi lukisan di museum super keren. Memperhatikan orang berjalan diantara gedung-gedung cantik. Membuat saya ingin kesini lagi suatu hari nanti. Vienna seperti Doraemon yang mengajak saya terbang bebas, melebihi indahnya pergaulan bebas.

Advertisements

15 Comments »

  1. As usual, tulisannya super panjang. Sampai bawah udah lupa mau komentar yang mana 😂😂😂
    Itu juga yang kulakukan buat berhemat, koh. Karena usia udah nggak lagi muda sementara masih banyak impian traveling yang belum diwujudkan dan di sisi lain harus menabung buat masa depan, sehari-hari aku berhemat. Pagi sama malem sering makan pake roti tawar aja. Saat temen-temen kantor heboh jajan, aku biasanya nggak ikut beli.

    Ah, elu pake acara pura-pura salah kursi segala wkwkwk. Di sini aja kalo salah kursi kadang ditegor, apalagi di sana 😀
    Keretanya nampak nyaman for a such short ride.

    Liked by 1 person

    • Dilema tak berkesudahan ‘I need to save money for the future’ or ‘Keep on Traveling because you only live once’.

      Tulisan panjang yang cocok untuk pengantar tidur.
      Thanks yah dah dibaca dan diapresiasi

      Liked by 1 person

  2. Begitu ya cara nya supaya bisà traveling ke seluruh dunia….nggak ngemil yg merk Irvin dan garret, nggak beli barang branded, nggak nongki cantik di starbuck….,memang sih saya bisa nabung. Masalahnya saat mau solo traveling nggak berani…jadi harus tunggu teman yg ajak. Tolong oppa nulis ttng tips solo traveling bagi perempuan yg hemat dan Inggrisnya cekak.
    Soal tulisan oppa …..,saya sangat terkesan seperti biasa. Anda pintar membuat pembaca seperti ikut berkelama kemana saja kaki oppa melangkah. Sangat detail dan bahasa yang menarik…

    Liked by 2 people

    • Thanks, Nana dah sempetin baca. Saran Oppa kaya Tokopedia, mulai aja dulu. Berani booking tiket aja dulu. Ke negara maju aja dulu yang aman dan tingkat kriminalitasnya rendah. It’s never been safer to travel than right now.

      Like

  3. Ahaa finally berwarna lagi moment blogwalking akuh, Oppa plis jangan ngerubah gaya tulisannya yaa, entertaining banget wakak. Dan dari semua travel blogger yg aku tau, tulisan Oppa paling entertaining, informatif dan menggelitik saat dibaca hahaha tipsnya juga kece ya walaupun sering labil putera mahkota yang satu ini, wisslah segera bikin sayembara menemukan cinderella, good job Oppa !!

    Liked by 1 person

    • Thanks Marissa. Pujianmu membuat Oppa terbang bebas di angkasa. Senang bisa menjadi pria penghiburmu. Semoga Oppa bisa tetap menjaga tawamu dari jauh, kemudian dekat, lalu kita tertawa bersama di bawah pohon mangga.

      Like

  4. Komplet! haha. Mostly museum/palace di atas aku datangi semua tapi…. cuma sampe luarnya aja >.< hahaha maklum nyarinya yang gratisan aja. Saking penasaran, aku sampe cek vienna Pass buat 2 hari 95 euro. Lumayan. Tapi emang bagi pecinta museum jadinya sepadan ya mas. 🙂

    Liked by 1 person

    • Iya sepadan kalo kamu suka dan ingin masuk secara fleskibel ke tiap museum dan palace. Tapi misal kalo cuma pingin ke Albertina sama Schonbrunn aja, mending beli tiket satuan, jauh lebih hemat.

      Iya foto dari luar aja udah bikin terpukau. Sempet nyobain Sachertorte nya juga kemarin?

      Like

  5. tiap buka blog si koko, pasti selalu semangat liat foto fotonya, selalu berhasil buat saya pribadi terkagum kagum, gambarnya terasahidup, buat saya kayak benar benar ngebayangin kalo lagi disana
    cuma satu yang buat patah hati,waktu koko bilang lagi sibuk kencan buta 😦

    Liked by 1 person

    • Senang legenda bulu tangkis Indonesia sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan ini.

      Makasi, Susi. Ko juga seneng dengernya. Senang bisa membuatmu melamun dan memainkan fantasy nakalmu.
      Ko masih menjadi milik bersama kok, baru kencan, janur kuning belum melengkung.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.