A day trip in Great Ocean Road

Apa yang paling dikangenin saat baru balik dari luar negeri? Semua hal yang tadinya kita anggap biasa, mendadak jadi istimewa. Seperti…

1. Kuliner Nusantara dan Masakan Rumah

Nasi padang, bakso, pecel, sate, tongseng, siomay, pempek, gorengan, kiranti, mendadak kita ngidam kronis. Makanan luar negeri memang enak, tapi ga ada yang ngalahin birahi di negeri sendiri. Sedoyan-doyannya sama roti selingkuhan, tetep ga bisa hidup tanpa nasi sang istri.

Apalagi semua bisa didapat dengan manggil abang Go-Jek. Ditambah harga makanan di negara maju yang serba mahal, semua jadi terasa murah di Indo. Gap harga yang membuat kita bisa makan enak tanpa merasa bersalah.

Kita juga rindu masakan mama. Karena saya belum berkeluarga, saya ga tau rasanya kangen masakan istri. *seketika terdengar suara Celine Dion yang menyayat hati ‘All by myself, don’t wanna be… All by myself anymore’

2. Kehangatan Matahari Tropis

Apalagi sehabis pulang dari musim dingin. Mendadak seneng banget ketemu matahari. Ga ada lagi kulit gatal dan kering. Yang ada hanyalah kelembapan alami dari summer abadi. ‘Yeah, bebas pake kaos oblong lagi!’ Yang tadinya suka ngeluh kepanasan, takut item. Kini malah menantang matahari untuk menyinari hati.

3. Begaol sama Kasur dan Bantal Bapuk di Rumah

Gak ada yang ngalahin kenyamanan bobo di ranjang sendiri. Tempat dimana kita bisa menjadi jelek dengan bahagia. Tiduran sambil baca komik dan buku di iPad. Peluk guling setengah kempes sambil scrolling timeline. Kita merindukan rutinitas nyantai dan online seharian. Menghabiskan masa muda dengan produktif.

Just sit around and doing nothing. That kind of boredom was actually relaxation

Yang punya hewan peliharaan, biasanya kangen main sama anjing dan kucing kesayangan. Begitu pula dengan mereka yang memiliki manusia peliharaan. Main gila.

4. Kangen Cari Duit Lagi

Kelamaan nyantai juga ga enak, kayaknya ada yang kurang aja. Keseringan have fun dan menghamburkan uang bikin kita miskin. Kita pun ingin segera kembali mengumpulkan pundi-pundi.

No matter how beautiful our escape was, we miss our reality. Seperti tombol reset, sehabis traveling semangat kita diperbarui. Seperti Lucinta Luna yang habis operasi, kita siap melangkah ke fase drama selanjutnya.

5. Baca Berita Online dan Komen Netizen

Di luar negeri kita sibuk menikmati petualangan, kadang ga sempet ngikutin apa yang lagi happening. Tanpa sadar, kita penasaran ngeliat komen julid dari netizen rusuh. Kita terhibur melihat orang lain baku hantam. Kita kangen tingkah dari gabener. Ngeselin tapi ngangenin.

6. Ngomong Bahasa Indonesia lagi

‘Lo lo gua gua, aku gelem koe ora.’ Kenyamanan asal njeplak dengan bahasa kita sendiri. Saat di luar negeri, mau ga mau kita ngomong Bahasa Inggris dan sesekali Pantomim. Kadang loading-nya lama, translate dulu di otak baru keluar. Apalagi pas bahasa tubuh, terkadang ga nyambung. Pas balik, kita bisa cit cit cuit lagi tanpa mikir.

I’ve seen a completely different universe, with different ways of living, with different people, food, and habits

Travel makes me appreciate home. It takes me a thousand miles to see how much I miss my family

LRG_DSC01390
St. Paul Cathedral Melbourne

Di sebuah pagi buta, alarm iPhone berdering manja. Dengan setengah sadar, buru-buru saya snooze agar gak digebukin penghuni hostel lainnya. Hari itu, saya sengaja bangun lebih awal, demi mengikuti tur Great Ocean Road. Tur sehari dimana saya tidak perlu menginap dan langsung balik ke Melbourne di malam harinya.

Selesai gosok gigi dan shower berbarengan, dengan bermartabat saya menaiki tram menuju pick up point, St. Paul Cathedral. Tepat jam 7 pagi, sesuai janji mobil travel dari Melbourne Boutique Tours datang menjemput. Akses public transport yang sulit di Great Ocean Road, membuat saya memutuskan untuk memakai tur.

LRG_DSC01503
On the way to get there, we had stopped several times to take a pee and feel the moment

Dari St. Paul Cathedral, mobil menjemput ke beberapa titik pertemuan, termasuk hotel yang bekerja sama dengan tur ini. Satu persatu peserta masuk ke mobil dan saling ‘say Hi!’ 

Ada 2 pasangan yang berasal dari Singapore. Yang satu masi pengantin baru, satunya lagi pengantin lama rasa baru. Ada juga seorang kakek dari Amerika yang traveling sendirian seperti saya. Terakhir, ada 3 bersaudara cantik asal Filipina, yang pergi bersama orang tuanya.

IMG_4250
Potret pria yang mulai terlihat kebapak-bapakan

Perjalanan pun dimulai. Supir yang merangkap guide mulai memperkenalkan diri di mobil. Kebetulan namanya sama dengan saya, Steven. Bedanya, dia berperawakan tinggi besar dengan rambut pirang ala ‘The crocodile hunter’ – Steve Irwin.

Gaya bicaranya ramah dan kalem. Om-om bule yang ternyata bisa berbahasa Indonesia. Dia bahkan menggunakan kata ‘jham kharet’ saat mengingatkan saya untuk tidak telat ngumpul. Logatnya 11-12 sama Chincha Laura.

LRG_DSC01510
I feel the surroundings of refreshing coastline

Terlihat sekali dia berpengalaman. Tahu kapan harus diam membiarkan kita tidur dan kapan harus menjelaskan sebuah tempat dengan menarik. Dia juga selalu berhenti di toilet tanpa harus diminta. Milihnya pinter lagi, perhentian dengan pemandangan spektakuler. Hamparan laut, perbukitan hijau, dan pesisir pantai yang jernih, seger abis!

1. Buy Chocolate and Ice Cream at Great Ocean Road Chocolaterie

Pemberhentian pertama, kami diajak memasuki Chocolate Factory. Bangunannya modern dengan halaman parkir yang luas. Begitu masuk, mata langsung tertuju pada tumpukan coklat yang menggunung. Pas banget belum sarapan!

Tulisan Free Tester menghipnotis saya untuk mencicipi variasi coklat satu persatu. Mulai dari white & dark chocolate sampai truffle, macaroon, biscuit, nougat, dan brownie. Layaknya Chef Juna, saya bergumam dengan rupawan: ‘tingkat kekentalannya pas, merata sampe ubun-ubun’.

LRG_DSC01528
Beautiful array of freshly churned ice cream with adventurous flavours. Which team are you?cups or cones?
LRG_DSC01517
You can see through to the factory and watch them preparing the chocolates

Selain itu ada ice cream yang instagram-able. Ada campuran rasa kacang, susu, bubble gum, sampai alkohol. Bener-bener ngileri. Serunya lagi, kita bisa menyaksikan proses pembuatan handmade chocolate dan artisan ice cream tersebut.

LRG_DSC01544
They even have chocolate based cosmetics like lip balm and body lotion

Great Ocean Road Chocolaterie & Ice Creamery

  • Chocoholic madness! The sweetest stop on the Great Ocean Road. All day Café, desserts, ice cream and chocolates
  • 1200 Great Ocean Rd, Bellbrae VIC 3228, Australia
  • Hours: Senin – Minggu 9AM–5PM
  • Direction: Google Maps Location
Processed with VSCO with m5 preset
I bought truffle and nougat chocolate for snacking on the road

2. Memorial Arch at Eastern View

LRG_DSC01570
The Great Ocean adventure begins here. Statue of Labourers to appreciate the hard work of Australian Veteran Soldiers in building the road between 1919 and 1932. The hut made by aboriginal and the road is Australia National Heritage that covered 243 km between Torquay and Allan’s Ford, Victoria

Plang perbatasan yang menandai titik awal dari Great Ocean Road. Terdapat monumen penghargaan bagi tentara yang telah bekerja keras membangun jalan ini. Pengorbanan mereka yang baru saja pulang dari Perang Dunia I. Berkat mereka, kita bisa menikmati perjalanan yang nyaman diatas aspal yang mulus.

Banyak turis yang cari mati dengan foto di tengah jalan. Saya gak mau ikut-ikutan. Disini mobil melintas dengan kecepatan tinggi. Jangan demi selfie yang sempurna, kamu tergilas dengan sia-sia. Jangan demi ketenaran, kamu tinggal kenangan.

Memorial Arch at Eastern View

  • Perfect spot for a quick pose with the Great Ocean Road Arch on the background
  • 689/721 Great Ocean Rd, Eastern View VIC 3231, Australia
  • Open 24 hours
  • Direction: Google Maps Location

Disini terdapat jalan kecil menuju pantai. Kami dibebaskan untuk menikmati pemandangan. Sembari bergantian berfoto, saya bersenda gurau dengan salah satu couple dari Singapore. Ternyata, sang istri adalah orang Indonesia.

‘Wow, it must be great to be Singapore citizen. You have the best passport in the world. You don’t even need a visa to come here right?’ tanya saya.

‘Yes, we live in one of the best and safest country in the world. Yet we also had a very high living cost. No matter how good your passport, the real problem is whether you have money or not to send you abroad’

Jawaban yang membuat saya tersenyum dan mengangguk setuju. There’s always money problem, no matter where you live.

3. Teddy’s Lookout

Titik dimana kita bisa menjadi burung elang. Merasakan hembusan angin sejuk, mendengar suara air laut yang mengalir, menikmati samudra yang menyatu dengan langit. Di beberapa sisi terdapat pantai kecil dengan pasir keemasan dan jalan perbukitan hijau yang berkelok-kelok.

LRG_DSC01585
Landscape view is mind blowing. Composition of sea, green hills and ocean drive road

Teddy’s Lookout

  • The Saint George River drains into the Bass Strait underneath this clifftop viewpoint
  • 53 George St, Lorne VIC 3232, Australia
  • Open 24 hours
  • Direction: Google Maps Location

Processed with VSCO with m5 preset

IMG_5831
Can you spot the lazy Koala up on this eucalyptus tree?

Kami juga diajak melihat Koala di alam bebas yang berdekatan dengan Kennet River. Saat itu, mereka lagi asyik bobo diatas pohon Eukaliptus. Pohon yang menjadi rumah kesayangan dari hewan maha unyu ini. Gak kayak kita, Koala memang cuma melek 4 jam sehari. Bangun, metik daun, dimakan, tidur lagi. Nikmatnya hidup si beruang bantet.

4. Tasting Scallop Pie at Apollo Bay Bakery

LRG_DSC01622
Great local bakery with lonely Koala called Gumleaf sitting outside. Buttery smell of bread and coffee aroma fills the air as i approach the cafe. Wide selections of pastries, tarts and cakes are available within this small cafe. The best way to lucnh under the cold weather

Sementara beberapa anggota tur dibawa ke restoran, saya disambut oleh Koala di Apollo Bay Bakery. Saya sengaja ga mendaftar makan siang tur, demi nyobain Scallop Pie disini.

‘Sang Koala tidur dan tak ada yang berani ganggu dia… oh sibuknya aku sibuk sekali.’

– Crayon Sinchan

Selagi memesan, saya memperhatikan roti-roti yang dipajang di etalase. Bule memang jago bikin pastry. Porsinya gede-gede lagi. Sambil menunggu pesanan datang, saya duduk di kursi dan memperhatikan sekitar.

Melihat satu demi satu orang yang masuk. Melihat kakek berkacamata sedang serius membaca koran dan segerombolan anak muda yang berisik. Siang itu, kedai benar-benar penuh.

Apollo Bay Bakery

  • Home of the Scallop Pie on The Great Ocean Road

  • 125 Great Ocean Rd, Apollo Bay VIC 3233, Australia
  • Hours: Senin – Minggu 6AM–4PM
  • Best Seller: Scallop Pie 12 AUD | Rp. 118,000
  • Direction: Google Maps Location
LRG_DSC01616
This flakey pastry contains scallops with piping hot creamy sauce. It’s quite good

I tried a cappuccino and their famous Scallop Pie. Pai berisi kerang yang membuncah. Rotinya flaky abis, serpihannya runtuh saat digigit. Ketika dibelah, kerang kampak terlihat menyatu dengan creamy white sauce panas.

Rasanya sedikit hambar, mungkin enakan yang curry sauce. Mungkin juga karena lidah saya lebih suka yang berbumbu *anakmicin. Untungnya kerangnya segar dan chewy. Kenyalnya menghadirkan sensasi geli.

5. 12 Apostles

Kemudian road trip berlanjut ke destinasi utama, 12 Apostles. Monumen yang secara magis diciptakan oleh alam 20 tahun yang lalu. Deretan tebing keemasan yang membentang cantik di sepanjang garis pantai. Perlahan tapi pasti, kedahsyatan hantaman ombak mengikis reruntuhan pilar tersebut. Dari yang tadinya ada 12, kini tinggal 8. The last supper of nature.

LRG_DSC01672
These iconic rock formations rise up out of the foamy sea. The 12 Apostles were formed some 20 million years ago as the sea gradually eroded the soft limestone cliffs. The last supper of nature

Australia memang beda. Di akhir September, musim semi mulai menampakkan diri. Matahari bersinar cerah, tapi dinginnya amboi. Ditengah keramaian, saya bergantian mengambil foto dengan the sisters. Dari balik viewfinder kamera, saya baru menyadari, satu dari ketiga gadis bersaudara ini begitu bening.

The winds were pretty breezy up on the hills
It was pretty chilly and breezy up on the hills. The wind messed up their hair. Her smile is a lot prettier than i remembered

They call her Jus. Wajahnya terlihat seperti blasteran. Saat angin mengacak-acak rambut panjangnya, seperti ada efek slow motion. Tawa lepasnya saat berpose, membuatnya semakin cantik. Sesekali saya mencuri-curi pandang, memperhatikan bempernya yang chubby sempurna. Legging hitam ketat yang dia kenakan hari itu, memperjelas semuanya. Saat dia menatap balik dan tersenyum, dunia semakin terasa manis.

I hadn’t seen a face so expressive in ages. Her aura and her looks impressed me. I enjoyed watching it live

LRG_DSC01664
It was great to stop for a moment and soak up the incredible sights

Kemudian mereka sekeluarga naik helikopter. Sementara saya cukup puas mengagumi 12 Apostles dari atas tebing dan melihat helikopter yang mereka naiki mengudara. Jangan tanya kenapa saya ga ikut, pelit dan miskin beda tipis.

Twelve Apostles

  • Ocean Rock Exposed. The iconic golden cliffs and crumbling pillars that runs along 17km of stunning coastline
  • Great Ocean Rd & Booringa Rd, Princetown VIC 3269, Australia
  • Open 24 hours
  • Direction: Google Maps Location

LRG_DSC01689

Pemandangan di sekitarnya sungguh epic! Padang rumput luas, danau berair biru, perbukitan hijau, dan gumpalan awan putih yang dilatarbelakangi birunya langit. Menyejukkan.

LRG_DSC01695

Kemudian kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Sambil menatap keluar jendela, saya berfantasi mengendarai Lamborghini bersama Jus, melintasi jalan perbukitan yang indah di tengah raungan mesin yang gahar. Saya menikung dengan kecepatan tinggi. Layaknya romansa Fast and Furious yang membangkitkan adrenaline, lamunan saya berakhir dengan kecebur ala film Dono Kasino Indro.

Kami juga sempat berhenti di Maits Rest Rainforest, kawasan hutan yang selalu lembap dan basah karena curah hujan yang tinggi. Hutan yang disebut sebagai paru-paru dunia karena memberikan 40% oksigen bagi bumi.

Pohonnya tinggi-tinggi besar dengan daun yang lebat. Yang paling unik adalah pohon dengan akar besar yang membentuk seperti goa. Konon, bila kita berfoto didalamnya, maka hormon kita akan membuncah dan menjadi subur. Ini beneran, saya ga ngarang. Tour Guide yang bilang sendiri.

6. Loch Ard Gorge

LRG_DSC01699
Loch Ard Gorge is named after a real tragic event of the ship ‘Loch Ard’ that in 1878 crashed against this Muttonbird island. It was a ship that navigated for three months, from England to Melbourne. Out of the 54 passengers and crew, only two teenagers survived. 15-year-old Tom and 17-year-old Eva. Tom was apparently washed ashore and rescued Eva after hearing her cries

Tak jauh dari 12 Apostles, kami diajak menuju Loch Ard Gorge. Nama yang terinspirasi dari peristiwa tragis nan heroik. Pada tahun 1878, kapal Loch Ard dari Inggris yang membawa 54 penumpang, karam akibat menabrak pulau berbatu. Hanya 2 orang yang selamat.

Tom, remaja berusia 15 tahun yang beruntung terbawa arus ke daratan, dan Eva yang diselamatkan oleh Tom setelah mendengar tangisannya. Setelah memanjat bebatuan untuk meminta bantuan, akhirnya mereka berdua berhasil survive.

LRG_DSC01783
By the time we reached Loch Ard Gorge, the sun was sinking and the day had become a soft spring evening

‘Today is our little sister birthday’ ujar Katrina melanjutkan percakapan kami saat baru turun dari mobil.

‘Happy birthday! Sorry, i can’t give you anything but photo’ kata saya sambil menunggu Juz berjalan sejajar.

‘Thank you, Steve. It’s OK. Just make sure i’ll be like 17 year old girl in the picture’ ujarnya sambil tersenyum.

‘Ah i wish we can wear Bikini right now’ celetuk Katrina sembari kami melihat pantai cantik mulai nampak dari kejauhan.

‘I’ll be more than happy to see that happen’ balas saya.

‘Bikini my ass! it’s bloody cold’ ujar Jus tanpa sensor.

Well, terlihat dia bukan wanita jaim yang suka jaga image.

LRG_DSC01756
I’ll never forget looking over the edge of the gorge with it’s breathtaking high walls and the assertive ocean lapping at the smooth white sand. an orchestra of water kissing the land and wind chiming through the cliffs, nature at its best unadulterated

Sore itu awan bergelayut, sesekali angin bertiup kencang dan gerimis membasahi. Suasananya begitu dramatis. Air laut bercinta dengan pasir keemasan diantara tebing yang masif. Debur ombak mendesah bersama desiran angin.

Terpaan air laut, sesekali membasahi sepatu. Layaknya berada di pulau kecil tak berpenghuni, kami bercanda dengan berteriak sekeras-kerasnya, seakan melepaskan beban didada. It was kinda awkward but at the same time really fun.

LRG_DSC01719

Mama dari ketiga gadis ini menyarankan kami foto bersama. Cekrik! Kemudian sambil mengembalikan kamera dan menunjukkan hasil fotonya, dia berbisik ‘good luck’. Seolah-olah dia punya indra ke-7 dan tahu kalo saya naksir salah satu dari anaknya. Oh Mama, saya ingin memanggilmu dengan kata tersebut.

IMG_4255
It is beautiful. We went there just before sunset and it was amazing. The strong waves makes us wet

Sometimes travel’s just about having a good time in a different place with new people. Maybe we won’t see each other again, but for that one day, we’re best mate

LRG_DSC01745
My trip was an adventure filled with a lot of exciting girls. We had fun like a teenager
LRG_DSC01776
It’s truly a stunning slice of tranquility and heaven. It was just mesmerizing

Loch Ard Gorge

  • Coastal nature park featuring self-guided walks, viewing platforms & a cemetery
  • Great Ocean Road Port, Campbell VIC 3269, Australia
  • Open 24 hours
  • Direction: Google Maps Location

7. Port Campbell Jetty

LRG_DSC01797
Campbell Harbour is a fascinating seaside village. Scenery was wonderful

Malam harinya, kami dibawa ke Port Campbell Jetty. Kota pelabuhan cantik yang berbatasan langsung dengan laut. Deru ombak mengiringi malam yang indah. Guide bercerita, banyak orang memancing, berenang dan berselancar di siang hari. Di malam hari, banyak jomblo melihat ke arah laut dengan tatapan kosong.

I could hear a sound of refreshing wave in the darkness. I smile to the ocean and give thanks for being alive

Port Campbell Jetty

  • A fascinating seaside village. It is a beautiful port on the western end of the Great Ocean Road.
  • 2-10 Lord St, Port Campbell VIC 3269, Australia
  • Open 24 hours
  • Direction: Google Maps Location
LRG_DSC01798
The shiny large crane

Touring the Great Ocean Road and seeing the breathtaking scenery is one of those experiences that i’ll never forget. It’s packed with flawless beaches, endless stunning coastline, charming seaside villages, and diverse wildlife. This is a wonderful day trip

Dalam perjalanan kembali ke Melbourne, kami pun terlelap. Banyak detail yang tidak saya tulis. It’s simply because i tried to write about her, but i couldn’t produce a line. Bagaimana kami berkenalan dan berbicara tentang apapun yang terlintas dalam pikiran. Bagaimana kami bertukar Instagram dan say goodbye. Sebuah rahasia kecil yang akan memudar pada waktunya.

Saya tidak memiliki jutaan kenangan tentang Jus. Dia gadis yang sekedar ‘lewat’. Tipe wanita yang saking sempurnanya, tidak berani saya perjuangkan. Hanya bisa saya mimpikan, dan mungkin tidak akan pernah saya miliki.

Setidaknya sekali seumur hidup, kita semua pasti punya someone seperti ini. Seseorang yang kita taksir setengah mati, tapi ga tau cara terbaik untuk mengekspresikannya. The one that we never know how to start. Seseorang yang ingin kita kenal lebih jauh dan menghabiskan waktu lebih lama. Seseorang yang hanya sekejap mata, tapi meninggalkan sentimentil yang mendalam.

We are travelers on a cosmic journey. We have stopped for a moment to encounter each other, to meet, to love, to share.

This is a precious moment, a little parenthesis in eternity.

– Paulo Coelho, The Alchemist

Advertisements

5 Comments »

  1. Karena traveling-nya masih di sini-sini aja, aku belum merasakan daftar yang kamu sebutkan di atas. Paling cuma kangen cari duit aja, karena selama traveling banyak buang duit. Dari seluruh tempat di atas, aku paling tertarik sama Teddy’s Lookout.
    Ciyeee kokoh naksir Jus. Lu sama ya kayak gue, sukanya sama bagian bemper haha. Ini masalah selera aja, tapi kalau dari wajah, menurutku Jus biasa aja. Lebih suka sama wajah kakaknya yang ayu ayu kalem. Harusnya perjuangkan aja lah, koh. Kan lu juga ganteng dan tinggi.

    E tapi kalau mereka aja sanggup sewa helikopter, kayaknya emang tajir bener ya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.